Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 20 - Malam Minggu


__ADS_3

Beberapa hari berlalu tak terasa. Ia berjalan sebagaimana mestinya. Tiap jam dan menit yang berlalu tak akan bisa terulang.


"Rez, ntar malem sibuk, gak?" Tanya Anna pada Arez di sela perjalanan pulang. Karena seperti biasa, gadis itu selalu di antar jemput oleh Arez yang memang tidak keberatan karena rumahnya dan kosan Anna yang satu arah.


"Keknya enggak. Tapi gak tau juga, sih. Kenapa?"


"Jalan, yuk? Kan ini malem minggu."


"Kemana?"


"Kemana aja. Gua juga udah lama gak ke Alun-alun Kota pada malam hari."


"Nanti gua kabarin,"


"Oke. Tapi gua ngarep, loh."


"I--iya."


Anna tersenyum girang. Rasa sukanya pada Arez sangat rapi ia tutupi. Sebisa mungkin ia akan menjaga pertemanan ini hingga saat yang tepat. Ia tidak mau gegabah, salah langkah bisa saja membuat Arez akan menjauh darinya.


Pada umumnya, hubungan cowok dan cewek akan terlihat akrab dan berjalan menyenangkan kalau hanya di ikat pada hubungan pertemanan. Tapi semua akan hancur ketika salah satu dari mereka menyatakan perasaan, yang ada akan menjadi renggang jika salah satu dari mereka tidak mempunyai rasa yang sama.


****

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul 19.00,


Tampak Alea berjalan pelan mendekati Arez yang lagi asik main HP di teras, di temani secangkir kopi dan rokok yang sedari tadi mengepul.


"Bang," panggil Alea pelan. Ia tampak *******-***** jarinya karena gugup.


Arez hanya memperhatikan sekilas, kemudian kembali fokus pada HPnya.


"Mau kemana?" Tanya Arez seolah mengetahui.


"Aku boleh jalan, gak?" Tanya Alea. Karena bagaimana pun ia tetap harus tetap izin karena Arez adalah kepala keluarga di rumah ini.


"Sama siapa?"


"Lu pacaran?"


"Enggak. Emang kalo orang jalan itu pacaran?"


"Ya gak juga, sih."


"Boleh, ya?"


"Iya. Pergi aja. Gua juga mau pergi."

__ADS_1


Tak lama kemudian terdengar suara motor berhenti di depan gerbang. Itu--Nathan. Alea memberi isyarat pada Nathan untuk masuk.


Sebagai cowok gentle, Nathan menuruti kata Alea. "Assalamualaikum, Bang." Ucap Nathan, kemudian menyalami Arez.


"Waalaikumsalam." Jawab Arez singkat.


"Aku izin bawa Alea ya, Bang."


"Iya. Jaga dia baik-baik. Dan jangan lupa waktu." Ucap Arez sedikit melirik Alea.


"Makasih, Bang."


Arez hanya mengangguk. Sifat cuek itu berhasil membuat Nathan sedikit tak enak hati.


"Yaudah. Kami berangkat dulu." Alea menambahi sekaligus mencairkan suasana yang menegangkan.


"Iya, hati-hati." Jawab Arez singkat.


Di dalam hati Arez ada rasa sedikit perasaan kesal melihat kedekatan Alea dan Nathan. Tapi Arez tau, kesalnya bukan karena cemburu, tapi tidak lebih perasaan seorang Abang yang tidak suka adiknya di dekati cowok. Apalagi, Alea yang masih di bawah umur. Belum saatnya ia terlalu dekat dengan cowok dan terhitung baru kenal. Arez hanya tak ingin terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Apalagi mengingat mereka adalah bocah labil dan belum bisa berpikir jernih.


Arez menyambar jaket yang ia letakkan di sofa ruang tamu. Ia juga beranjak pergi menjemput Anna. Padahal sebelumnya ia sama sekali tidak minat untuk keluar bermalam minggu. Karena Alea yang juga pergi, ia pun ikut pergi.


[Gua otw,] Arez mengirim pesan singkat pada Anna.

__ADS_1


Ya, mungkin ini adalah pelampiasan dan tidak mau kalah saing pada hal yang sebenarnya bukanlah ajang persaingan.


__ADS_2