Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 38 - Mengintai


__ADS_3

Seseorang mengawasi Arez dan Alea dari kejauhan. Bahkan orang itu sudah berada di sana sejak pukul 6 pagi. Dia berperawakan seperti wanita, dengan memakai jaket jeans hitam, celana hitam serta topi yang juga senada warnanya.


Orang itu terus saja memperhatikan Arez dan Alea yang bercakap-cakap di teras, sampai akhirnya ia juga mengikuti mobil Arez yang mulai melaju meninggalkan rumah.


***


"Gua usahain gak bakal pulang malem lagi," ucap Arez sebelum Alea turun dari mobil. Alea menyunggingkan senyum, entah apa maksudnya kemudian ia turun.


Seseorang yang tadi masih saja memperhatikan mereka, tapi di sini yang paling di amati adalah Alea. Bahkan ketika mobil Arez meninggalkan tempat itu si Pengintai masih berdiam diri di sana dengan pandangan mata tetap tertuju pada Alea.


Orang itu berjalan mendekati pak Udin yang berdiri di depan gerbang menyambut siswa-siswi yang berdatangan ke Sekolah.


"Maaf, Pak. Aku boleh nanya, gak?" Tanya orang itu pada pak Udin.


"Iya, boleh." Jawab pak Udin ramah, karena seorang satpam memang harus begitu, lagi pula orang ini tidaklah mencurigakan bagi pak Udin, karena di sana juga banyak Mbak-mbak, Mas-mas, Ibu-ibu, Bapak-bapak yang mengantar anaknya.


"Cewek tadi cantik banget, ya. Lucu. Dia juga terlihat akrab banget sama bapak. Dia itu siapa, ya?"


"Yang mana, Mbak? Cewek di sini banyak."


"Yang tadi, yang di anterin pake mobil putih."


"Oh, itu namanya Alea. Baru beberapa bulan di sini. Anak pindahan dari Jakarta. Anaknya memang begitu, sangat ceria dan suka bercanda." Jawab pak Udin.

__ADS_1


"Dari Jakarta?"


"Iya, Mbak."


"Makasih, ya, Pak. Maaf nanya, soalnya seneng aja liatnya." Seseorang itu tersenyum getir.


"Iya, Mbak. Sama-sama."


Orang itu seperti sengaja mencari informasi, dan mengumpulkannya sedikit demi sedikit.


***


Meja di sebelah Arez kosong, tidak ada Anna di sana. Arez mendapat pesan tadi pagi dari gadis itu yang memberitahu kalau ia sakit dan tidak bisa masuk.


Biasanya gadis itu yang paling semangat di kantor, semua orang sudah tau. Apalagi, ia yang suka usil pada Arez. Ketidakhadirannya membuat suasana Kantor agak sepi.


*****


Cuaca hari ini berbeda dengan kemarin. Panas terik seperti menusuk kulit. Bahkan semua siswa yang keluar dari Sekolah harus mengernyitkan dahi karena silaunya.


Banyak orang di sana, tapi pandangan hanya fokus mencari Alea. Ya, seseorang yang tadi pagi datang lagi seperti sudah tau jam pulang para siswa.


Saat melihat Alea di boncengi tukang ojek, orang itu kembali mengikuti.

__ADS_1


Alea merasakan keanehan, ia menyadari orang itu seperti mengikuti mereka, tapi Alea hanya diam mungkin hanya perasaanya saja secara jalanan memang ramai.


Hingga tak lama kemudian Alea sampai di rumah, "Makasih, ya, Pak." Ucapnya pada pak Ujang.


Alea bergegas masuk rumah, tapi langkahnya harus terhenti kala seseorang datang memanggil namanya. Alea membalikkan badan dan sedikit keheranan. "Kakak? Ini Kakak temennya bang Arez, kan?" Tanya Alea pada gadis yang datang, ia ternyata Anna.


"Iya, boleh aku masuk?" Ucap Anna yang sudah melepas jaket beserta topinya.


"Tapi, bang Arez lagi gak di rumah. Dia masih kerja."


"Gak apa-apa, aku mau ngobrol aja sama kamu."


Alea diam, terlihat was-was di raut wajahnya.


"Boleh, ya? Aku gak lama, kok." Sambung Anna lagi.


Alea kemudian mengangguk.


*


Alea dan Anna kini duduk di sofa ruang tamu, mereka duduk berhadapan. Di meja juga sudah tersedia air putih dan beraneka kue kering di dalam toples.


"Maaf, ya, Kak. Adanya ini doang." Ucap Alea.

__ADS_1


"Iya, gak apa-apa. Santai aja." Jawab Anna, gadis itu terlihat sangat ramah dengan senyum yang selalu terlihat di bibirnya saat ia berbicara.


Alea sendiri hanya diam karena memang tidak ada yang perlu ia omongkan, secara dirinya dan Anna baru pertama kali bertatap muka seperti ini berdua.


__ADS_2