Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 42 - Pagi Berbeda


__ADS_3

Arez kaget bukan main saat ia berjalan ke dapur, di atas meja makan sudah tersedia nasi lengkap dengan lauk pauk. Pagi minggu yang berbeda.


Alea datang membawakan secangkir kopi, kemudian meletakkannya di atas meja.


"Jangan diem aja. Buruan duduk." Ucap Alea pada Arez yang masih bengong.


Perlahan Arez menarik kursi dan mendudukinya.


"Tumben?" Ucapnya masih tidak percaya.


"Aku liat dua minggu belakangan Abang kek lagi banyak pikiran dan sangat berbeda."


"Mana ada. Perasaan lu aja."


"Ada! Aku ngerasain, kok."


"Iya?"


Alea mengangguk, "Aku gak suka." Ucap Alea sedikit cemberut.


"Yaudah, maaf."


"Iya. Yaudah, makan yang banyak. Ini semua aku yang masak. Aku cuma mau Abang semangat lagi." Ucap Alea sangat bersemangat.

__ADS_1


Arez mengernyitkan dahi, memperhatikan apa yang ada di atas meja.


"Jangan salah! Gini gini aku bisa masak. Cuma kadang males aja." Sambung Alea menyakinkan. Arez tersenyum dan mulai mengambil nasi.


Alea memperhatikan pria itu makan sangat lahap. Di dalam hati Alea merasa bersalah. Padahal pria di depannya itu adalah suaminya, tapi tak pernah ia layani sehari pun.


Entah mengapa, melihat Arez memakan masakannya ada rasa yang berbeda di dalam hatinya. Senang, terharu campur jadi satu. Untuk pertama kali Alea merasa benar-benar menjadi seorang istri walau hanya dengan menyiapkan sarapan.


Alea menuangkan minum di dalam gelas, "Makannya pelan-pelan!" Ucapnya pada Arez yang makan sangat lahap.


"Masakan aku enak, kan?" Tanya Alea tapi tidak mendapat jawaban yang membuat dirinya sedikit kesal. Tapi melihat Arez makan sangat banyak, ia hanya bisa tersenyum dan merasakan kebanggan.


Aktivitas makan pagi itu telah usai, kopi di dalam cangkir pun sudah habis. Alea beranjak, membereskan semuanya dan membawa piring-piring kotor itu kebelakang untuk di cuci.


Arez datang, ia berdiri di samping Alea dengan bersandar di wastafel memperhatikan Alea yang fokus dengan pekerjaannya.


"Gua boleh minta sesuatu?" Tanya Arez


"Apa?" Jawab Alea tanpa menoleh.


"Masakin gua setiap hari."


Alea diam, tapi ada sedikit senyum di bibirnya yang Arez tidak sadari.

__ADS_1


"Gua tau lu mungkin gak sempat, tapi ..."


"Siapa bilang?" Alea memotong ucapan Arez. Kali ini Alea menatap pria itu.


"Jadi?"


"Aku mau, kok. Asal bahan masaknya di lengkapi. Biar aku gak capek-capek nungguin mang Hen."


"Mang Hen? Mang Hen siapa?"


"Itu Mamang yang jualan sayur. Mana kadang suka godain." Ucap Alea dengan wajah lucunya


"Oh," Arez tertawa. "Oke. Hari ini kita ke pasar buat beli bahan dan alat masak." Sambung Arez membuat Alea sangat sumringah.


"Wokai! Yaudah, aku selesaikan cuci piring ini dulu, baru kita pergi." Jawab Alea mengacungkan jari jempol.


"Iya."


Alea melanjutkan pekerjaannya, Arez masih di sana menemani. Tiba-tiba, tangan Arez mendarat di pipi Alea. Ia mengusap lembut bagian di sana membuat gadis itu diam terpaku dengan detak jantung yang tiba-tiba berdebar.


Mereka saling beradu tatap dengan wajah yang sama-sama memancarkan semburat kemerahan. Tangan Arez masih berdiam di sana seperti enggan ia lepaskan.


"A--ada busa sabun di wajah lu." Ucap Arez gugup dan menarik tangannya.

__ADS_1


Alea kembali fokus, walau sebenarnya sudah tidak bisa fokus. Ia berusaha menyembunyikan wajah merahnya dan berharap debaran di jantungnya jangan sampai terdengar.


Arez sendiri mengalihkan pandangan. Tidak bisa di bohongi ia tak kalah berdebarnya dengan Alea.


__ADS_2