Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 11 - Perdebatan


__ADS_3

"Gimana sekolah lu?" Tanya Arez di sela suapan nasinya.


"Gak gimana-gimana. Lancar aja."


"Betah?"


"Ya mau gimana lagi? Harus di betah-betahkan."


"Setahun doang."


"Setahun itu lama. Apalagi harus sama Abang!"


"Ya mau gimana? Udah terjadi juga. Lu pikir gua mau?"


Mereka sama-sama hening, untuk saling tatap saja mereka sama-sama enggan.


"Sampai kapan?" Tanya Alea memecah keheningan.


"Apanya?"


"Pernikahan kita."


"Gua gak tau. Sekira situasi dan kondisi sudah memungkinkan, gua akan urus."


Alea mengangguk pelan.


"Lu sabar aja. Gua cuma gengsi, dan gak enak sama ayah dan ibu kalau terburu-buru cerai. Biar gimanapun gua laki-laki bertanggung jawab."


"Pokoknya aku gak mau tau! Gak boleh ada yang tau! Aku juga berhak memilih seseorang yang bener-bener aku cintai. Dan nanti menikah bukan karena terpaksa."

__ADS_1


"Lu pikir gua gak? Apa lu pikir gua suka dengan pernikahan ini? Jujur, gua sama kek lu. Gua juga belum siap."


Alea hanya diam. Mengaduk pelan makanannya yang belum sepenuhnya habis.


"Gua cuma suruh lu sabar. Jangan terburu-buru. Lagian gua juga gak akan ngelarang lu mau ngapain juga. Lu mau pacaran, lu mau kelayapan, pokoknya mau ngapain terserah. Asal lu tau batasan. Kita ini di kota orang, jadi pandai-pandai lah bersikap. Itu doang permintaan gua."


Alea masih diam tak berkutik.


"Lu jangan nambah-nambah masalah. Dan jangan pernah membuat beban pikiran. Lu nikmatin aja kondisi sekarang. Gua juga gak nuntut lu harus gimana-gimana. Lakuin aja apa yang lu suka. Sekali lagi, gua gak akan ngelarang."


"Jangan terlalu egois."


Arez beranjak meninggalkan meja makan, meninggalkan Alea yang masih diam mematung.


Beberapa menit berlalu, Alea juga beranjak dan membawa piring kotor ke dapur. Ia berjalan dengan merasakan sesak di dalam dada. Ia menangis.


"Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa aku malah terjebak di situasi seperti ini?"


"Mental ku gak kuat, anjir!"


Alea bergegas ke kamar. Tempat ternyaman untuknya. Tempat segala hal. Mencurahkan segala perasaan dan menjadi saksi bisu apa yang ia rasakan.


Mendengarkan musik hingga tertidur. Ya, tidur adalah satu-satunya cara untuk berlari dari segala kepenatan. Walau hanya sementara, semoga saja setelah terbangun kepenatan itu akan sedikit berkurang.


*****


Jam menunjukkan pukul 8.30 malam.


Setelah sedikit perdebatan tadi, Arez tak melihat Alea lagi. Mungkin saja sudah tidur, gumamnya.

__ADS_1


Arez berjalan, melewati kamar Alea yang tertutup.


Perlahan, Arez mengetuk pintu itu.


"Lea! Lu udah tidur?" Panggil Arez. Tak mendapat jawaban.


"Gua mau keluar sebentar. Lu di rumah baik-baik."


Baru saja Arez berjalan meninggalkan kamar Alea, gadis itu nongol dari balik pintu.


"Abang!" Panggil Alea. Arez lantas menoleh.


"Aku mau ikut." Sambung Alea lagi.


"Gua mau kumpul-kumpul sama temen. Semua cowok, gak ada cewek."


"Gak apa-apa. Nanti aku diem aja di mobil," Pinta Alea memelas.


"Kenapa harus ikut, sih? Di rumah aja kenapa?"


"Takut," Alea menatap dengan mata berbinar.


"Yaudah. Tapi lu gak usah ngerepotin ataupun bikin masalah."


"Iya. Janji!" Alea menyeringai dengan mengacungkan jari kelingkingnya."


"Yaudah, ayo."


"Tunggu, aku ambil jaket dulu."

__ADS_1


"Gua tunggu di mobil."


Seperti itulah Arez dan Alea. Berantem, gak lama baikan lagi.


__ADS_2