
[Bang,] sebuah pesan masuk di WA Arez. Arez yang kebetulan sedang bermain HP segera membuka pesan itu. Tertera di sana nomor baru.
[Siapa?] Tanya Arez sedikit penasaran.
[Aku Melisa.] Jawaban yang membuat Arez beranjak dari tempat duduknya.
Tak menunggu waktu lama, Arez yang saat ini bersama Anna berjalan sedikit menjauh dari gadis itu untuk menelpon Melisa. Anna hanya diam tanpa bertanya, ia memperhatikan punggung Arez yang kian menjauh.
Tersambung...
"Eh, lu yang udah nipu gua, kan?!" Ucap Arez tanpa basa basi.
"Sabar dulu, Bang. Aku cuma mau nanya."
"Mau nanya apa lu? Hilang gitu aja tanpa tanggung jawab."
"Aku bisa jelasin. Aku cuma mau nanya apa yang udah terjadi? Apa Abang hari itu bersama Alea?"
"Ya!"
"Apa Abang dan Alea sudah berhubungan?"
"Kagak, lah!"
"Lha terus?"
"Bukan urusan, lu!"
"Aku bisa ganti rugi kok, Bang."
"Gua gak butuh duit, lu. Gua cuma mau nanya, kenapa lu malah nyuruh temen lu itu buat gantiin lu?"
__ADS_1
"Maaf, Bang. Apa sudah terjadi sesuatu?"
"Lu--gak cuma l0nt3, tapi bejat juga. Temen sendiri di jebak!" Ucap Arez yang membuat Melisa terdiam. Gadis itu sudah tak bisa berkata-kata.
Sesaat kemudian telepon itu mati. Saat Arez kembali ingin menghubungi, tapi tidak aktif.
"Sial! Gua belom selesai ngomong!" Umpat Arez sembari menendang botol kaleng yang ada di depannya.
*
"Lu kenapa, Rez? Muka lu kusut amat?"
"Gak apa-apa." Jawab Arez singkat, kemudian kembali duduk di depan Anna.
Saat ini mereka tengah berada di sebuah Cafe di tengah kota, sengaja duduk-duduk di sana untuk sekedar membuang penat setelah seharian berkecamuk dengan angka-angka dan data di depan komputer.
"Telepon dari siapa?" Tanya Anna lagi untuk mengusir rasa penasarannya.
"Gua liat kok lu kayak emosi?"
"Gak apa-apa, Ann."
"Oh. Yaudah."
*****
"Bingung gua, sumpah!" Melisa terlihat mondar-mandir di kamarnya. Sesekali ia menggigit jari dan mendengus kasar.
"Ada apa sih ini sebenarnya? Apa ada sesuatu yang sudah terjadi? Tapi apa?"
"Alea bilang hidup dia hancur setelah kejadian itu. Terus, Arez bilang mereka gak ngapa-ngapain. Yang mana yang bener?"
__ADS_1
"Alea juga pindah sekolah. Sedangkan, tadi pas gua lewat depan rumahnya, tante Amira ada."
"Pusing gua anjir!"
"Apa gua ketemuan aja sama Alea di Purwokerto?"
Melisa merebahkan tubuh. Rasa penasaran menyelimuti dirinya. Penasaran apa yang sudah terjadi pada temannya--Alea.
*****
"Rez, gua ke rumah lu aja boleh, gak?" Pinta Anna yang kedua kalinya di sela langkah ia dan Arez yang berjalan menuju mobil. Tak terasa, waktu sudah beranjak malam.
Sesaat Arez terdiam tak langsung mengiyakan. Karena alasannya tentu keberadaan Alea di sana.
"Gimana?" Ulang Anna, masih menunggu jawaban.
"Jangan deh, Ann. Kontrakan gua itu padat banget. Kiri kanan, depan belakang ada tetangga. Gak enak aja ntar di kira kita ngapa-ngapain. Kan sekarang udah malem juga." Jawab Arez berusaha memberikan alasan selogis mungkin.
Anna terlihat sedikit berdecak tanpa menjawab sepatah katapun. Tapi, wajahnya itu sangat tidak bisa menutupi kekecewaannya.
"Gua anter lu pulang, ya. Ntar aja, kalo sikonnya mendukung lu gua ajak dah ke rumah."
"Iya." Kali ini Anna mengangguk dengan senyuman.
Mereka berjalan beriringan menuju mobil.
"Gak tau dah gua, Rez. Secinta ini gua sama lu. Pokoknya, rasanya seperti gak ingin jauh-jauh. Berada di deket lu aja gua dah bahagia pake banget. Gua mau ikut kemana pun lu pergi."
"Gua gak mau kebersamaan ini memudar atau hilang. Gua akan usahain, biar gimanapun juga cepat atau lambat lu bakal jadi milik gua. Milik gua seorang."
"Cinta emang indah..."
__ADS_1
*****