
"Ibu, Ayah..." Teriak Alea saat melihat ibu dan ayahnya sudah berdiri di halaman rumah menanti kedatangan mereka.
Setelah pernikahan, ini kali pertama Alea kembali ke rumah. Karena jarak dan keadaan membuat Alea hanya bisa berbincang melalui telepon.
Rasa rindu sudah tidak bisa Alea tahan, saat mobil berhenti, ia bergegas turun dan memeluk kedua orang tuanya.
"Rindu sekali ibu peluk anak ibu seperti ini," ucap bu Amira berkaca-kaca. Pak Damar yang berada di sebelah istrinya mengusap kepala anak kesayangannya itu.
Arez yang baru saja turun dari mobil merasakan sesak di dada memperhatikan pemandangan yang ada di depannya. Ia melihat kehangatan yang begitu luar biasa di keluarga kecil itu. Dan, ia sudah menghancurkannya--pikirnya.
"Alea anak satu-satunya di keluarga. Anak yang tumbuh di keluarga yang utuh. Anak yang di didik dengan kelembutan dan kasih sayang, berbeda dengan gua yang dari dahulu hidup sebatang kara tanpa kehangatan keluarga dan selalu berusaha melawan kerasnya kehidupan sendirian. Dan gua juga yang sudah merusak hidupnya Alea. Bajingan sekali gua ini!" Benak Arez yang tanpa sadar ia menyeka air mata yang hampir saja jatuh ke pipinya.
Tiba-tiba Arez mengangkat wajahnya yang tertunduk, karena tangan pak Damar yang memegang bahunya.
"Jangan merasa sendiri. Kami keluargamu." Ucap pak Damar tersenyum. Kemudian pak Damar memeluk Arez. "Jangan pernah anggap kami orang lain. Sekali lagi Ayah tegaskan, Ayah dan ibu juga orang tuamu." Sambung pak Damar kemudian. Alea dan bu Amira tersenyum dan tersentuh melihat pemandangan itu yang berhasil membuat haru.
Tak salah jika seorang lelaki menangis, kan? Apalagi merasakan kehangatan keluarga yang selalu ia rindukan selama hidupnya?
Bertemu keluarga Alea yang baik dan hangat benar-benar suatu keberkahan. Memanglah benar, setiap kejadian pasti ada hikmahnya.
__ADS_1
*****
"Abang! Kamar buat abang tidur malam ini udah aku bersihin." Ucap Alea pada Arez yang saat ini sedang ngobrol bersama ayahnya.
Pak Damar yang sedang menyeruput kopi tersedak mendengar ucapan Alea. "Masha Allah. Alea kok nada bicaranya tinggi banget. Emang udah biasa bicara seperti itu pada Nak Arez?"
Alea hanya bisa garuk-garuk kepala, ia sendiripun lupa kalau saat ini ia berada di rumah. Setidaknya, harus lembut saat berbicara, apalagi Arez adalah suaminya.
Arez tertawa kecil melihat wajah Alea yang di omeli ayahnya. Gerakan bibir Arez sangat jelas dapat di lihat oleh Alea yang mengucapkan kata "Rasain!"
"Itu, Yah ... k-kan, bang Arez udah Alea anggap temen. Jadi, ya ngomongnya ala-ala temenan, gitu." Jawab Alea terbata-bata.
"Tapi, Alea mau bantu ibu masak buat kita makan siang."
"Sebentar doang."
Tak ingin ayahnya banyak ceramah, Alea segera menuruti. Alea duduk di sebelah ayahnya dan menyomot biskuit di dalam kaleng atas meja. Melihat kelakuan anaknya, pak Damar hanya bisa geleng kepala.
"Gimana Alea kalau di rumah, Nak Arez? Apa dia juga seperti ini?" Tanya pak Damar.
__ADS_1
Alea berusaha memberi kode pada Arez dengan membuka matanya lebar-lebar hingga bulat sempurna sembari menggelengkan kepala, agar Arez memberi jawaban tidak.
"Iya, Pak. Mungkin Alea menganggap rumah di sana sama halnya rumah di sini." Jawab Arez membuat Alea menutup mata dengan tangannya.
"Allahu! Apa dia juga suka pecicilan? Teriak-teriak?" Tanya pak Damar lagi.
"Iya," jawab Arez lagi sembari tersenyum lebar, apalagi melihat Alea yang menutupi wajahnya dengan bantal soffa.
"Untung saja nak Arez orang yang baik, andai saja Alea menikah dengan orang yang nauzubillah, pulang-pulang mungkin Alea sudah babak belur."
"Tenang saja, Pak. Citra saya sebagai laki-laki tak akan pernah saya ingkari. Lagipula, memang saya yang menyuruh Alea untuk jadi diri sendiri saat bersama dengan saya. Melakukan segala hal yang dia suka. Dan saya juga tidak punya aturan yang memberatkannya. Selagi masih di tahap wajar, saya tidak masalah." Ucap Arez yang membuat pak Damar lega, begitu juga Alea yang perlahan menurunkan bantal yang menutupi wajahnya.
"Semoga nak Arez sabar menghadapi Alea."
"Kalau itu, pasti, Pak."
Pak Damar memegang kepala Alea, "Yaudah, sana bantu ibumu masak." Ucap pak Damar
"Siap! Ayah!" Balas Alea dengan memberikan gerakan hormat. Kemudian ia bergegas menemui ibunya di dapur.
__ADS_1
Pak Damar dan Arez kembali melanjutkan obrolan mereka, tentu saja di sertai seruputan kopi.