Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 53 - Sibuk Masing-masing


__ADS_3

Sejak memasuki semester dua, Alea sangat sibuk belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi Ujian Nasional.


Sekolah, les tambahan di sekolah, pulang, istirahat, malam pun ia kembali belajar. Begitu seterusnya.


Arez pun sama sibuknya, semakin hari kerjaanya semakin padat, bahkan tak jarang ia lembur. Situasi itu membuat ia dan Alea jadi jarang bertatap muka, apalagi mengobrol.


Saat Arez pulang malam, Alea sudah tidur. Dan saat Alea pagi sudah berangkat ke sekolah Arez pun masih tidur. Alea membiarkannya, karena kasian pada Arez yang pasti kecapean. Arez pun demikian. Hingga Alea memutuskan untuk berangkat sekolah bersama Nathan, yang tentu saja cowok itu tidak keberatan.


Tapi, walau demikian, saat ada kesempatan pulang cepat Arez tetap saja memperhatikan gadis itu, ia selalu membeli makanan untuk Alea. Membelikan cemilan dan juga vitamin agar Alea tidak sakit. Tapi nyatanya...


"Kenapa gak mau dibawa ke rumah sakit?" Tanya Arez pada Alea yang saat ini sedang tiduran di kasur, panas tubuhnya mencapai tiga puluh sembilan derajat celcius. Ya, gadis itu akhirnya tumbang.


"Demam biasa ini, efek kecapean. Besok juga baikan." Jawab Alea santai, sembari memeluk boneka beruangnya--Lala.


"Yaudah besok gak usah masuk sekolah dulu, biar gua yang ke sekolah minta izin."


"Ta--!"


"Gak ada tapi-tapi. Lu harus istirahat sampai sembuh total."


"Kalo aku gak masuk, ntar aku ketinggalan pelajaran, Abang! UN dua bulan lagi."


"Masih lama itu. plislah! Dengerin gua kali ini!" Arez menatap Alea tajam. Beberapa saat mereka beradu pandangan membuat wajah Alea yang merah semakin memerah."

__ADS_1


"Dah! Gua ke apotek dulu," Arez berlalu. Yang ternyata itu menjadi alasan ia untuk menghindari Alea, Karena jantungnya yang berdetak kencang.


*


Alea terlihat senyum-senyum sendiri mengingat hal tadi, saat matanya dan Arez yang saling bertemu.


Beberapa bulan ini dirinya dan Arez sangat jarang ngobrol berdua karena sibuk akan urusan masing-masing, tapi hari ini... mereka bisa ngobrol seperti biasa.


***


Arez pulang membawa beberapa obat, di antaranya tentu ada obat penurun panas.


Hari ini Alea full rebahan, tapi Arez tidak berdiam diri saja. Pria itu dengan telaten mengurusnya. Mengompres sampai menyuapi makan yang membuat perasaan Alea semakin sulit di mengerti.


*****


Alea duduk bersandar pada sandaran kasur.


"Abang, maaf ya selama ini Alea banyak salah." Ucap Alea lirih tapi bisa di dengar Arez dengan jelas karena pria itu duduk tak jauh dari dirinya.


"Ngomong apa? Udah kayak orang mau meninggal." Celetuk Arez membuat Alea berdecak kesal.


"Aku serius. Udah hampir satu tahun kita bersama... tapi sampai hari ini aku masih aja bersikap seenaknya."

__ADS_1


"Itu tau..." Arez terkekeh.


"Ahhh! Ngomong sama Abang sama aja boong!" Alea kesal.


"Sudah istirahat aja biar cepat sembuh, gak usah ngamuk-ngamuk."


"Taukkk!"


"Dih! Ngambek!"


"Bodo!"


Arez semakin senang melihat wajah Alea yang di tekuk.


"Dah aku mau bobok." Ucap Alea kembali berbaring memeluk bonekanya.


"Iya... tidurlah."


Arez menatap gadis itu lekat, ia tersenyum kecil yang bermakna miris.


"Sebentar lagi semua ini akan berakhir. Gak akan gua liat lagi marah lu, senyum lu, tawa lu, ngambek lu, bawel lu, semuanya. Gua juga bingung, kenapa gua ngerasa sedih dan seperti gak ingin lu hilang."


*****

__ADS_1


__ADS_2