
Hari Minggu. Apalagi kalau bukan libur?
Alea tampak duduk di teras memperhatikan Arez yang tengah mengelap mobilnya.
"Kenapa dia 0on sekali? Apa susahnya bawa mobil itu ke tempat pencucian? Kan jadi gak repot." Umpat Alea dalam hati.
Kemudian HP yang sedari berada di genggaman tangan Alea berdering. Dari nomor baru. Alea hanya memperhatikan sesaat karena pasti nomor iseng, pikirnya yang memang anti dengan nomor baru. kemudian ia kembali mengalihkan pandangan ke Arez. Pria itu tampak keren walau hanya memakai baju santai.
HP Alea terus berdering...
"Siapa sih? Mana gak ada DP! Ganggu orang aja!" Celetuk Alea kesal.
Panggilan ke tiga. Hingga akhirnya Alea memutuskan untuk mengangkat telpon itu.
"Halo!" Alea sedikit menaikan nada bicaranya.
Hening...
Tak lama kemudian telpon itu mati.
"Ish! Sudah ku duga! Orang iseng gada otak!"
__ADS_1
Lalu, berdering lagi...
"Hei! Mau nge-prank?!" Tanya Alea. Suaranya yang kencang berhasil membuat Arez memperhatikannya.
"Lea," lirih seseorang dari seberang telepon.
"Mel?" Ucap Alea yang sangat hafal dengan suara sahabatnya itu.
"I--iya, Lea. Ini gua Melisa."
"Mel! Lu kemana aja?"
"Gua ada kok, Lea. Cuma lagi banyak urusan."
"Iya, Lea. Gua tau gua salah. Gua minta maaf."
"Gila lu, Mel! Lu udah menjerumuskan gua! Terus lu menghilang gitu aja, dan sekarang lu datang dengan entengnya meminta maaf tanpa ada penjelasan!"
"Sumpah, Lea. Gua gak bermaksud. Gua cuma canda dan iseng doang, maksud gua cuma mau ngerjain lu."
"Iseng? Iseng itu gak kek gini, Mel! Lu tau? Hidup gua sekarang hancur gara-gara candaan lu ini, anjir!"
__ADS_1
"Lea, gua minta maaf... sumpah! Gua gak maksud." Melisa masih membujuk.
"Gara-gara kejadian itu, sekarang gua harus ninggalin rumah, sekolah, temen-temen!" Emosi Alea sudah tak tertahankan. Ia meluapkan segala kekesalannya pada Melisa. Walau yang ia dengar hanya perkataan maaf dari Melisa yang sekarang sudah tidak artinya dan juga tidak bisa merubah keadaan.
Arez yang sedari tadi fokus, kini mengalihkan pandangan ke Alea. Ia menatap keheranan dan sengaja menguping pembicaraan itu. Jaraknya yang tidak begitu jauh membuat ia dapat mendengar percakapan itu dengan jelas.
Sesaat kemudian telepon mati.
Alea menutup wajah dengan kedua tangannya, sedangkan pundaknya bergetar. Arez tau, gadis itu sedang menangis dalam diam.
Ingin rasanya Arez memberikan pundaknya untuk menenangkan Alea, tapi ia sadar akan posisinya. Ia menghampiri Alea dan memegang pundak gadis itu.
"Sabar. Nanti gua urus." Ucap Arez kemudian, mencoba sedikit membujuk Alea.
"Gak nyangka aja, Abang! Padahal dia sahabatku." Balas Alea masih terisak.
"Iya. Gua tau. Makanya lu sabar dulu. Ntar gua urus, apa motif dia sebenarnya. Gak ada itu bercanda yang kelewatan batas. Liat aja, gua pastiin dia akan makan candaannya sendiri."
Alea masih hening, ia memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya di sana.
"Padahal lu sahabat gua. Tapi kenapa tega? Bercanda atau iseng itu boleh saja, tapi jangan sampai merugikan seseorang." Ucap Alea di sela tangisnya.
__ADS_1
"Udahan nangisnya. Ntar tetangga lewat di kira lu nangis gara-gara gua, anjir!"
Jaman sekarang memang beda. Konsep bercanda juga sudah berbeda. Kita yang mengambil hati akan di judge dengan kata 'baperan'. Haruskah seperti itu? Sampai kapan?