Menikahi Bocil

Menikahi Bocil
Episode 43 - Liburan semester 1


__ADS_3

Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, libur sekolah telah tiba. Ramai yang membicarakan kemana mereka akan liburan, raut keceriaan terpancar di wajah para siswa dan siswi.


"Lea, liburan mau kemana?" Tanya Ivi.


"Yang pasti Lea mah pulang ke Jakarta, yakan?" Olin langsung menjawab.


"Belom tau. Belom ada rencana." Jawab Alea tersenyum kecil.


"Lu kok keliatan lesu? Orang-orang pada happy, lu kok murung?"


Lagi-lagi Alea hanya menyunggingkan senyum.


"Ehem!" Arez datang di tengah obrolan gadis-gadis itu. Sontak Olin dan Ivi tiba-tiba jadi salting, untuk kedua kalinya mereka dapat melihat cowok keren itu tepat di depan mata.


"Raport lu udah gua ambil, ayo balik." Sambung Arez. Alea mengangguk.


"Gua duluan, ya." Pamit Alea pada kedua temannya.


"Iya, hati-hati. Selamat liburan." Jawab Olin dan Ivi serentak dengan mata yang curi-curi pandang pada Arez.


*


"Jadi kapan mau berangkat?" Tanya Arez pada Alea yang terlihat murung, saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Belom tau."


"Kok belom tau? Bukannya lu jauh-jauh hari dah bilang, kalo libur mau balik ke Jakarta?"


"Iya, sih..."


"Yaudah mumpung gua lagi free, kita ke toko oleh-oleh buat lu bawa ntar."


"Abang gak apa-apa?" Tanya Alea menatap sayu.


"Apanya?"


"Misal aku pulang ... Abang sendian, dong? Terus siapa yang masakin?"


Mendengar ucapan Alea membuat Arez tersenyum kecil. Beberapa bulan bersama tak bisa di pungkiri terjalin kedekatan antara mereka berdua. Yang jelas, hubungan mereka sangat berbeda seperti di awal mereka bertemu. Ya, mereka menyebutnya 'pertemanan'.

__ADS_1


"Gua kan bisa beli. Warteg di depan rumah masih buka. Terus, selagi kuota internet gua masih ada ya gua bisa pesen online."


"Bukan itu maksudku, Abang. Abang gak akan paham!"


"Lu keberatan ninggalin gua?" Goda Arez di sertai senyumnya yang lebar.


"Dih!"


"Ngaku aja!"


"Enggak, kok. Kasian aja Abang gak ada temennya."


"Selow! Gua kalo bosen bisa pergi ke luar. Temen gua banyak, anjir!"


"Yaudah, deh. Lusa berangkat." Ucap Alea di sela hembusan nafasnya.


"Oke. Yaudah ayo beli keperluan lu."


Alea membalas ucapan Arez dengan anggukan kepala.


*****


Terdengar Alea sedang berbicara di telpon, suara di seberang sana yang selalu ia rindukan setiap hari. Suara yang membawa kedamaian dengan perkataanya dan suara yang membawa ketenangan hati dengan nasihat-nasihatnya.


Walau Alea sekarang jarang menghubungi, tapi setidaknya ia selalu memberi kabar keadaanya. Rasa bersalah pada kedua orangtuanya sampai sekarang tak bisa hilang. Bukan memberi jarak, tapi lebih ke rasa malu atas apa yang sudah ia perbuat.


"Lusa Alea pulang, Bu." Ucap Alea pada ibunya.


"Iya? Nak Arez ikut?"


"Dia cuma anter Alea. Katanya, gak apa-apa selama liburan Alea pulang. Dia mah ngerti kalo Alea kangen rumah dan kangen kawan-kawan di sana."


"Nanti siapa yang urus dia di sana kalau kamu pulang, Nak?"


Alea diam sesaat.


"Sebenernya, Alea juga berat hati ninggalin bang Arez, tapi Alea juga kangen sama ibu dan Ayah."


"Boleh ibu bicara sama Arez?" Pinta bu Amira yang terdengar sangat ingin berbicara pada pria yang bagaimanapun adalah menantunya.

__ADS_1


Alea bergegas keluar dari kamarnya menemui Arez yang kebetulan sedang duduk di teras tempat favoritnya.


"Ibu mau ngomong." Ucap Alea sembari memberikan HPnya dan langsung di terima oleh Arez dengan wajah yang sedikit heran karena biasanya Alea selalu melarangnya untuk menghubungi orang tuanya.


"Tumben lu nyuruh?" Celetuk Arez.


"Udah! Sana ngomong!"


*


"Assalamualaikum, Bu." Ucap Arez.


"Waalaikumsalam. Apa kabar kamu, Nak?"


"Alhamdulillah baik, Bu. Ibu sama Ayah gimana kabar? Sehat?"


"Alhamdulillah sehat juga."


"Syukurlah,"


"Kata Alea lusa kalian berangkat ke Jakarta?"


"Iya, Bu. Tapi saya tidak bisa lama, saya cuma antar Alea setelah itu pulang lagi ke Purwokerto, kerjaan kantor tidak bisa di tinggal, malah sekarang bertambah padat."


"Syukurlah kalau kerjaan nak Arez lancar." Bu Amira terlihat lega.


"Ibu dan Bapak sudah rindu sama kalian. Dan... Ibu berterimakasih sama nak Arez," sambung Bu Amira lagi.


"Terimakasih untuk apa, Bu?"


"Walau ibu tidak di sana, dan jarang berbicara sama nak Arez ibu tau nak Arez orang yang baik dan memperlakukan Alea dengan baik, ibu dapat merasakan itu. Ibu juga minta maaf kalau sifat Alea ada yang membuat nak Arez kesal atau apalah. Sekali lagi terimakasih sudah menjaga Alea."


"Itu sudah jadi kewajiban saya, Bu. Ibu dan Ayah jangan khawatir, saya akan memegang janji yang sudah saya tanamkan dalam hati."


"Terimakasih, Nak. Ibu dan Ayah tidak sabar menunggu kedatangan kalian."


Malam ini mereka habiskan waktu dengan berbincang-bincang, antara Alea dan kedua orang tuanya, dan juga antara Arez dan mertuanya.


*****

__ADS_1


__ADS_2