
Pagi berjalan seperti biasa. Selepas sarapan, Alea bergegas memakai tasnya dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.
"Abang ngapain?" Tanya Alea heran, mendapati Arez di garasi mobil, yang di sana juga motor Alea di parkirkan.
"Manasin motor lu. Motor juga perlu pemanasan, sebelum dia di jalankan."
"Yaudah makasih."
"Mau berangkat?"
"Iya. Udah setengah tujuh."
"Yaudah." Arez mengeluarkan motor dari garasi, agar Alea lebih leluasa. Kemudian ia masuk ke dalam mobil.
"Tumben Abang berangkat pagi banget? Kan abang masuk kantor jam sembilan."
"Ada keperluan." Balas Arez. "Rumah di konci dulu, sana." Sambungnya.
Alea bergegas mengunci pintu rumah, kemudian ia memakai helm dan menaiki motornya. Ia mengklakson Arez, "Berangkat dulu!" Teriaknya.
"Yo!"
Tak lama Alea berlalu, Arez juga memacu mobilnya.
Dan sekarang, mobil Arez tepat berada di belakang Alea yang sedang mengendarai sepeda motornya dengan santai.
"Lha?" Alea mengernyitkan dahi melihat mobil Arez dari spion.
"Dih, gua berasa di ikuti anjir. Ngapin juga berangkatnya harus barengan?" Celetuk Alea yang sesekali melirik mobil Arez.
Lampu merah.
Arez tepat berada di samping Alea.
"Pssst!" Arez sengaja sedikit menggoda.
Alea melirik sekilas, kemudian menutup kaca helmnya.
"Jangan ngebut-ngebut, lu!" Ucap Arez lagi.
"Bodo! Abang duluan aja sana!"
"Apaan? Ini lampu merah dudul! Mana boleh jalan."
"Lha iya! Maksudnya, nanti kalo udah hijau abang duluan aja jalannya! Jangan kek ngikutin!"
"Siapa yang ngikutin. Orang jalan ke kantor gua juga lewat sini."
"Ish! Sakarep mu!"
Ting!
__ADS_1
Lampu hijau.
Alea memacu gas. Sengaja sedikit ngebut meninggalkan Arez.
Arez tidak mau kalah. Ia tetap mengikuti Alea dan mengimbangi laju motor gadis itu.
Alea menyerah. Ia sedikit melambatkan laju motor. Ia tidak mau terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. Secara, jalan di pagi hari sangat ramai. Tidak etis jika di pakai kebut-kebutan. Apalagi, ia adalah seorang pelajar, yang di seragamnya tertulis nama sekolah. Ya, harus menjaga nama baik di manapun.
Akhirnya Alea sampai di Sekolah. Sebelum masuk melewati gerbang, teriakan Arez menghentikannya. Alea memarkirkan motor di depan gerbang. "Titip dulu bentar, Pak." Ucap Alea pada Satpam.
"Sini dulu!" Panggil Arez. Alea menghampiri.
"Buat jajan." Arez menyodorkan uang nominal seratus ribuan beberapa lembar.
"Makasih," jawab Alea sambil melirik pak Satpam yang memperhatikannya dan Arez.
"Inget jangan kebut-kebutan!" Arez meletakkan jari telunjuknya di kening Alea.
"Iya."
"Kalo udah pulang sekolah, langsung pulang ke rumah. Jangan kelayapan."
"Iya. Abang cepetan! Gak enak di liatin. Ntar aku di kira punya Sugar Daddy."
"Yaudah, sana lu masuk."
Alea berlalu, ia kembali mengendarai motor yang kemudian masuk ke parkiran sekolah. Sementara Arez, setelah melihat Alea yang sudah hilang dari pandangan, ia pun berlalu memacu mobil.
***
"Bukan, Pak."
"Kirain pacarnya." Pak Udin tersenyum.
"Gak boleh pacaran. Masih sekolah." Jawab Alea.
"Iya. Mending fokus sekolah dulu. Apalagi jaman sekarang itu ngeri. Harus pandai-pandai jaga diri. Biar gak salah pergaulan."
Di tengah obrolan Alea dan pak Udin, datanglah Nathan yang baru saja tiba di parkiran.
"Pagi, Lea." Ucapnya ramah.
"Pagi, Kak." Balas Alea.
"Yaudah. Kalian lanjut saja ngobrolnya. Bapak mau balik ke Pos." Ucap pak Udin.
"Iya, Pak."
Pak Udin berlalu dari sana, menuju pos penjagaan.
"Kenapa?" Tanya Nathan heran.
__ADS_1
"Gak apa-apa, kok. Tadi pak Udin liat bang Arez kasih aku uang. Mungkin pak Udin ngira bang Arez itu pacarku."
"Bang Arez? Emang dia ada di sini?"
"Iya tadi, dia pake mobil. Kebetulan berangkatnya barengan."
"Oh. Yaudah kalo ada yang nanya bilang aja Abangmu, gitu."
Alea tersenyum getir. Dalam hati ia bertanya, harus berapa orang lagi yang akan ia bohongi?
*
Nathan dan Alea berjalan beriringan.
"Udah sarapan?"
"Udah, tadi."
"Padahal, aku bawain kamu sesuatu. Ini ibuku yang bikin." Nathan memberikan apa yang sedari tadi ia pegang. Ia membuka isi plastik itu, sebuah kotak makan berwarna hijau.
Nathan lantas membuka kotak itu.
"Ini apa?" Tanya Alea penasaran.
"Ini namanya gethuk goreng. Gethuk goreng ini terbuat dari singkong dan gula merah. Ini makanan khas sini. Kamu cobain, deh. Enak."
Tanpa ragu, Alea segera mencicipi makanan itu. "Emmm! Iya, enak banget. Ibu Kakak jago banget. Makasih, ya. Nanti aku makan pas jam istirahat."
"Sama-sama. Aku seneng kalo kamu suka."
*****
Sementara itu...
"Buk, pesen kopi satu, ya. Sama pisang gorengnya sekalian." Ucap Arez yang baru saja mendaratkan pantatnya di bangku Warung Kopi bu Ropiah tak jauh dari kantornya berada.
"Iya. Pisangnya mau berapa, Mas?" Tanya wanita paruh baya berbadan subur itu.
"Lima, deh."
"Tunggu, ya. Ibu buatkan dulu kopinya, pisangnya bentar lagi masak."
"Iya, Bu."
"Belom masuk kerja, Mas?" Tanya bu Ropiah di sela tangannya yang mengaduk kopi.
"Belum, Bu. Nanti jam sembilan."
"Oh, yaudah. Mending nongkrong aja di sini, Mas sampai kantornya buka." Bu Ropiah tersenyum ramah.
"Iya. Makasih, Bu."
__ADS_1
*****