Menikahi Gadis Berandal

Menikahi Gadis Berandal
Biang Masalah


__ADS_3

"Ya ampun, Kayla! Sampai kapan kamu seperti ini, nak". teriak Nyonya Anggita pada anak semata wayangnya yang muncul dengan pipi lebam dan sudut bibir yang pecah.


"Ma... Kayla gak berbuat salah seperti yang selalu mama dan papa tuduhkan. Kayla hanya berusaha membela diri saja kali ini."


"Cukup! Hentikan semua kebohonganmu. Lihat saja dirimu. Anak perempuan tapi kerjanya diatas motor. Setiap pulang pasti babak belur! Lihat teman-temanmu si Hannah, Ucok dan juga Kimmy. Semua sudah pada kerja. Lha kamu?? udah lima tahun tapi kuliahmu gak kelar-kelar juga. Kamu mau jadi apa, Kayla? Kamu mau bikin mama dan papamu cepat mati ya?" Nyonya Anggita kali ini benar benar naik pitam.


"Beruntung ayahmu belum pulang. Kalau sampai ayahmu melihat ulahmu hari ini, kamu gak bakalan dapat fasilitas selama lebih dari seminggu!"


Mikayla menekan nekan pipinya yang terasa nyeri. Ia tak benar benar menaruh perhatian pada omelan ibunya.


Bi Lastri masuk membawa sekantong es batu lalu memberikan pada Mikayla untuk kemudian mengkompres wajahnya.


"Sial benar hari ini. Benar-benar lawan yang gak seimbang. Lima lawan satu." umpat Mikayla dalam hati sambil memegang kantong es batu di pipinya yang lebam.


"Kemana sih Aldo sama Ferry? Gina dan Chintya juga gak muncul saat aku butuh."


Mikayla membersihkan sisa-sisa darah kering yang masih menempel disekitar mulutnya. Ia meringis pelan karena terasa perih ketika jarinya menyentuh sudut bibirnya.


Nyonya Anggita masih terus mengomel.


"Dosen pembimbing skripsimu tadi menelpon. Skripsimu gak karu-karuan. Penelitian yang kamu buat harus diulang karena dibuat hanya asal-asalan. Pak Teguh sudah hampir menyerah menjadi pembimbing skripsimu!"


Mendengar hal itu, Mikayla hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.


"Dasar tua bangka! Berani-beraninya dia telpon langsung ke orang tuaku. Semua yang aku buat gak pernah benar dimatanya." lagi lagi Mikayla mengumpat, tapi kali ini pada Pak Teguh, dosen pembimbing utama skripsinya.


Mikayla mendekati ibunya.


"Ma, maafkan Kayla. Kayla janji akan segera menyelesaikan skripsi tersebut tapi jangan tarik fasilitas Kayla dong, Ma....please!" ucapnya sambil merapatkan tangannya didepan dada memohon pada ibunya.


Nyonya Anggita tidak mau menatap wajah memelas anaknya. Ia masih sangat kesal.


"Kayla.... kamu itu perempuan, nak. Walaupun kamu jago karate, akan ada saatnya dimana tak seorangpun dapat menolongmu. Kalau mereka sampai mencelakaimu seperti diberita-berita kriminal, bagaimana? Pergaulanmu selalu membuat mama dan papamu tidak bisa tidur nyenyak setiap malam. Takut jika suatu saat mendengar berita yang menakutkan tentang dirimu."

__ADS_1


Mikayla menundukkan kepalanya. Bukan rasa bersalah yang Ia rasakan tapi rasa ingin balas dendam pada lima orang pemuda tadi yang berkelahi dengannya. Mikayla dapat mengatasi mereka, tapi sayang mereka telah lari begitu cepat sebelum Ia bertanya tentang mereka.


"Kayla, sekarang kamu masuk kedalam kamar dan mandi. Usahakan tutupi dengan foundation atau bedak bagian wajahmu yang berantakan itu. Jangan sampai ayahmu melihatnya. Jika Ia tahu kamu habis berkelahi lagi, maka mama tidak akan lagi membelamu." ucap Nyonya Anggita dengan nada tegas.


Mikayla beranjak dari hadapan ibunya. Ia menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Beberapa saat kemudian Bi Lastri mengetuk di pintu untuk membawakan makan malam buat Mikayla walaupun hari masih sore.


"Non, Kayla. Nyonya suruh Bibi bawakan makanan ini. Katanya gak usah turun dulu sampai besok pagi soalnya Tuan Dimas sudah datang. Nyonya takut kalau Tuan melihat keadaan wajah Non Kayla. Bibi permisi dulu." Bibi Lastri keluar dari kamar Mikayla yang tidak menanggapi perkataannya sedikitpun.


Mikayla meraih hapenya dan mencari sebuah nama.


"Halo Kayla." ucap suara diseberang.


"Chintya, kalian gimana sih aku telpon semuanya gak ada yang menjawab." ucap Mikayla dengan kesal.


"Maaf, Kayl. Aku lagi temani mama check up. Soalnya kakakku lagi diluar kota. Kalau yang lain aku gak tahu. Tapi kamu gak apa-apa kan?"


"Gak apa-apa gimana? Geng Apachel muncul tiba-tiba di pasar kilat pas aku lagi bantuin beberapa penjualnya. Aku dikeroyok tahu! Lima lawan satu choy....aku babak belur walaupun mereka lari juga."


"Aku ditelpon Bu Ilham sama beberapa penjual disitu. Aku pikir kalian bisa nyusul, gak tahunya gak ada yang bisa bantuin aku."


"Kenapa gak telpon si Tommy? Dia pasti langsung datang. Dia kan suka banget sama kamu."


Tut....tut...tut... hape dimatikan Mikayla. Ia merasa buang-buang waktu bicara sama Chintya. Apalagi kalau Chintya sudah menyebut nama Tommy si cowok yang belakangan naksir berat pada dirinya. Ia agak eneg jika mengingat bagaimana Tommy membawakannya seikat bunga dan berlutut memberikan bunga tersebut sambil menyatakan cintanya dikantin kampus saat banyak sekali mahasiswa yang sedang makan saat itu. Mikayla sungguh malu tingkat dewa dengan perlakuan Tommy. Padahal Ia cowok baik-baik, tampan, pintar dan juga berduit. Tapi bagi Mikayla pria itu tak pernah menarik dimatanya.


Mikayla mengambil salep untuk mengobati wajahnya. Hari ini Ia benar-benar sedang sial.


Sesaat kemudian Ia membuka laptopnya dan mulai meneliti kembali hasil penelitian skripsinya yang barusan ditolak Pak Teguh.


.


.

__ADS_1


.


.


.


#Di ruang makan


"Jadi dia berkelahi lagi hari ini?" ujar Tuan Dimas dengan suara menahan geram.


"Pa, mama akan berusaha agar Kayla tidak lagi berteman dengan anggota gengnya itu. Dia sekarang lagi dikamar sedang mengerjakan skripsinya." ucap Nyonya Anggita pada suaminya.


"Kemarin pulang dalam keadaan mabuk. Hari ini pulang babak belur. Kapan hidup Papa bisa tenang kalau begini?" Tuan Dimas meneguk anggur ditangannya dengan kasar.


Ia sangat kelihatan kesal dan kecewa.


"Papa pikir-pikir, sebaiknya kita nikahkan saja dia dengan anak teman baik papa. Setahu papa anak Pak Samson ada yang tinggal diluar negeri dan umurnya sudah sangat pantas berumah tangga. Dia sangat mapan dalam pekerjaannya dan masih single. Umurnya sudah 30 tahun. Jadi lumayan jauh bedanya dengan Kayla, beda delapan tahun. Kayla harus menikah dengan pria yang jauh lebih dewasa darinya agar Kayla bisa berubah. Minggu Lalu Pak Samson bincang-bincang dengan papa tentang anaknya tertuanya itu. Jadi... menurut mama gimana? ucap Tuan Dimas menatap istrinya.


"Hmm...Kayla pasti menolak. Tapi menurut mama ide itu sangat baik. Sebelum Kayla terjerumus lebih jauh dalam pergaulan buruknya, mama ikutan papa saja."


Nyonya Anggita tersenyum kecil setelah memberikan tanggapannya. Tuan Dimas menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Baiklah kalau begitu. Dia suka atau tidak, kita nikahkan saja dia sebelum hal yang buruk terjadi padanya!" ucap Tuan Dimas dengan mantap.


*****************************************


Hai readers kesayangan... πŸ€“πŸ€“πŸ€“


Ini adalah novel aku yang ketiga. Semoga pada sukaaa ya.


Author jamin pasti bagus sampai finish nanti. Jangan lupa LIKE dan Commentnya sekaligus kasih rate bintang 5 dong πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


Kunjungi juga novel aku yang gak kalah bagusnya berjudul:

__ADS_1


#Contradictory Love dan #Tears, Revenge, and Love.


Happy Reading, guys!


__ADS_2