Menikahi Gadis Berandal

Menikahi Gadis Berandal
Cemburukah?


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini Mikayla berusaha menghubungi Scott tapi tidak pernah berhasil. Kalau bukan panggilannya diabaikan, hapenya yang non aktif.


Sore itu adalah jadwal Delano latihan bela diri di studio langganannya sehingga Mikayla memutuskan untuk ke menemui Scott di Cafenya.


Ketika tiba di cafe milik Scott, Mikayla mencari-cari sosok berambut pirang itu tapi tidak nampak. Mikayla duduk dan memesan minuman. Ia menunggu sosok pirang itu dimeja bartender.


Scott muncul tiba-tiba tapi langsung memalingkan wajahnya begitu mata mereka beradu.


"Scott, wait!" seru Mikayla.


Scott tetap berjalan, berpura-pura tidak melihat dan mendengarkan panggilan Mikayla.


Mikayla mengejar Scott dan menahan bahunya.


"Scott, please. What is with you?" ucap Mikayla.


Scott hanya mematung beberapa detik. Mimiknya terlihat serius tanpa keramahan yang biasa telah menjadi ciri khasnya.


"Kayl, please. Never see me again."


ucap Scott dengan nada memohon.


Mikayla mengeryitkan dahinya. Tampak jelas dipipi Scott ada sisa-sisa warna kebiruan yang hampir memudar. Mikayla yang sudah sering berkelahi langsung bisa mengenal penyebab bekas diwajah Scott.


"My God, Scott. Have you been fighting lately? What's happened to your face?" Tanya Mikayla. "Why are you ignoring me? Did I do something wrong?


Scott hanya memalingkan wajahnya ke tampat lain dan tersenyum sinis.


"Ask your husband for the answers of your questions. And about this..." ucap Scott sambil menunjuk pipi kirinya, "your husband also knows the answer!" Scott kemudian berlalu dari hadapan Mikayla untuk menyapa tamu-tamunya.


Mikayla terdiam dan mencoba mencerna jawaban Scott. Beberapa detik kemudian Ia telah mengerti apa yang telah terjadi tanpa sepengetahuan dirinya.


Ada rasa marah dan kecewa berbaur menjadi satu yang muncul terhadap Delano. Mikayla menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. Ia kemudian membayar minumannya dan beranjak dari tempat itu.


Dengan emosi yang meluap-luap, Mikayla memacu motornya dengan kecepatan tinggi menuju studio tempat Delano berlatih bela diri.


Mikayla memarkir motornya dengan tergesa-gesa. Ia kemudian menunjukkan kartu identitasnya pada penjaga disitu lalu bergegas masuk ke dalam studio itu dengan mimik wajah yang dibakar amarah.


Wajahnya mencari-cari disegala sudut. Ruangan tempat latihan itu telah sunyi sehingga tidak sulit mendapatkan sosok Delano yang sedang berada sendirian diatas ring tanding sambil menendang sansak keras yang menjadi lawannya.


Mikayla melepaskan jacket kulitnya dan membuangnya secara asal. Ia juga melepaskan sepatunya lalu perlahan dari arah belakang Delano, ia naik ke atas ring.


Tanpa berkata-kata, sebuah tendangan keras menghantam punggung Delano.


Delano terkejut dan langsung memutar badannya yang sempat terhuyung sehingga menabrak sansak di depannya.


Ia memasang kuda-kuda. Namun wajahnya terkejut setengah mati demi melihat siapa sosok yang baru saja menendangnya dengan keras.


"Kayla?" seru Delano dengan dahi yang berkerut.


"Jika kamu ingin memukul seseorang, carilah lawan yang seimbang!" tegas Mikayla dan langsung menyerang Delano dengan pukulan mematikan dibagian dada tapi dengan cepat ditangkis Delano.

__ADS_1


"Hentikan Kayla! Aku tak mau meladenimu." teriak Delano tapi masih dengan sikap siap terhadap serangan berikutnya.


Mikayla tersenyum sinis. "Jangan hanya berani pada seorang anak yang tak bisa berkelahi dengan baik. Kamu memang pria brengsek!"


Mikayla kembali menyerang Delano. Kali ini dengan tendangan yang sangat cepat sehingga Delano terjerembab keatas lantai ring. Delano berusaha hanya menangkis setiap serangan Mikayla yang diakuinya memiliki skill beladiri yang lumayan tinggi. Ia tak mau gadis itu cedera atau terluka bila ia balas menyerangnya.


Keduanya berusaha bergulat diatas ring itu. Yang satunya menyerang tanpa ampun, sedang yang satunya lagi berusaha bertahan agar tidak mencederai lawannya.


Kini keduanya telah terlentang diatas lantai ring dengan posisi kaki Mikayla mengunci kaki Delano agar tidak bisa bergerak.


"Sial! Kalau sedang marah, berandal ini ternyata sangat kuat!" gumam Delano sambil berusaha membebaskan kakinya.


Mikayla berusaha sekuat tenaga fokus pada kaki Delano karena Ia tahu, sebagai seorang yang menguasai ilmu taekwondo, kekuatan kaki adalah andalannya.


Delano yang kini merasa sedikit kewalahan berusaha mencengkeram pundak Mikayla yang posisinya menyilang tepat disampingnya.


Mikayla tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan gesit ia kini telah duduk diatas kedua kaki Delano yang tadinya dikuncinya kuat-kuat.


Delano memandang Mikayla yang kini posisinya telah berada diatasnya.


Untuk beberapa waktu Ia membiarkan Mikayla menikmati kemenangan sesaat diatas tubuhnya.


Mikayla kini dengan kuatnya menahan kedua tangan Delano disamping kepalanya agar pria itu tidak berkutik sama sekali.


"Dengar ya Om. Jangan pernah lagi kamu mengganggu temanku Scott apalagi menyentuhnya. Aku tidak akan segan-segan menghabisimu walaupun kamu adalah suamiku!"


Delano tersenyum menyeringai dibawah gadis yang sedang dibakar amarah itu.


"Oh, jadi sekarang kamu membela selingkuhanmu itu ketimbang suamimu sendiri?"


Sebuah tinju mendarat dipipi kiri Delano yang menyebabkan sudut bibirnya pecah.


Delano terdiam sesaat. Namun sedetik kemudian emosinya terpancing juga. Dengan sekali mengangkat kedua kakinya kearah tubuh Mikayla yang sedang menindihnya, membuat tubuh gadis itu jatuh tepat diatas dada Delano.


Sebelum Mikayla sempat mengangkat tubuhnya dari dada Delano, dengan cepat Delano membalikkan posisi mereka. Kini Delano telah gantian berada diatas tubuh gadis itu dengan kedua tangan kekarnya mencengkeram tangan gadis itu agar tidak dapat bergerak lagi.


Mikayla berusaha berontak tapi Delano tak memberinya ampun. Setetes darah yang keluar dari sudut bibir Delano menetes dan jatuh tepat diantara kedua dibibir Mikayla yang sedang terkatup namun meringis karena menahan berat tubuh Delano diatasnya.


Melihat darahnya yang menetes ke bibir gadis dibawahnya, Delano mendekatkan wajahnya dan menjilati bibir Mikayla sampai bibir itu bersih dari bercak darahnya yang menetes.


"Hentikan! Aku jijik padamu! Aku bukan Celine yang bisa kau jilati kapanpun kau mau! Kau tuduh aku selingkuh padahal hampir setiap siang dan malam kau habiskan waktumu dengan wanita murahan itu. Aku benci kamu!!" teriak Mikayla dengan histeris.


Delano terkesiap mendengar ucapan Mikayla. Ternyata selama ini gadis itu memperhatikan dirinya. Ada rasa lega bercampur bahagia yang perlahan menghangatkan hati Delano.


Kini ia melonggarkan cengkeraman tangannya dari gadis yang telah terdiam dibawahnya.


"Kayla, aku tak pernah selingkuh darimu. Celine memang terus mengejarku agar aku kembali padanya tapi aku tak pernah meladeninya. Aku tak pernah sedikitpun berpikir mengkhianati pernikahan kita." suara Delano terdengar begitu lembut di telinga Mikayla.


"Katakan, apakah kamu cemburu?" Tanya Delano dengan hati-hati pada gadis dibawahnya.


Mikayla terpana sambil membalas tatapan Delano. Benarkah ia cemburu? Benarkah ia kesal setiap kali melihat Delano bersama Celine? berbagai pertanyaan memenuhi pikiran Mikayla.

__ADS_1


"Aku tak mau menjawab pertanyaanmu karena pertanyaan itu seharusnya milikku. Akulah yang harus bertanya padamu." Mikayla menelan ludahnya kemudian berusaha membasahi bibirnya.


"Jujurlah Delan. Apakah kau memukul Scott karena cemburu?"


Delano masih menatap wajah Mikayla dengan perasaan bingung. Benarkah ia cemburu? Benarkah melihat Mikayla memeluk lelaki lain telah membuatnya kehilangan kendali? berbagai pertanyaan yang sama pula memenuhi pikiran Delano.


Masih saling menatap, keduanya berusaha menjawab pertanyaan yang sama dalam hati mereka masing-masing.


Delano terus menelusuri setiap inci dari wajah Mikayla yang masih kelu terlentang dibawahnya.


Perlahan Delano semakin mendekatkan wajahnya kearah gadis itu sehingga hidung mereka kini saling menyentuh.


Dengan sedikit keraguan Delano menyentuh bibir kelu itu dengan kelembutan bibirnya. Gerakan lidahnya sekali-kali memberi sinyal agar gadis itu sudi membuka mulutnya dan membalas gairah ciumannya dengan gerakan yang seirama.


"Aku mungkin cemburu." bisik Delano disela-sela hisapannya. "Aku sangat cemburu melihatmu memeluk pria lain." Delano kembali memasukkan lidahnya pada mulut mungil itu yang mulai membalas pagutan demi pagutan Delano dengan gairah yang masih tertahan.


Delano kembali berbisik sambil tak melepaskan bibirnya dari mulut gadis itu.


"Aku paling tak suka diduakan. Aku hanya menginginkanmu seorang! Jadi... setialah padaku!"


Mendengar itu, hasrat Mikayla yang masih berusaha ditahannya segera dilepaskannya. Dengan lihai ia membalas permainan bibir Delano. Keduanya kini semakin terbakar gairah yang menyebabkan mereka lupa dimana mereka sedang beradu asmara.


Mereka baru berhenti ketika terdengar seseorang sedang mematikan lampu dibagian ruangan lain.


Keduanya tersipu lalu tertawa geli menyadari apa yang sedang mereka perbuat diatas ring itu.


"Honey, kita pulang sekarang. Kasur dirumah kayaknya lebih empuk dari pada ring ini." ucap Delano kemudian berdiri dan menarik tangan Mikayla.


Mikayla hanya tersipu sambil merapikan rambut dan juga kaosnya.


Sedetik kemudian terdengar Delano berbicara dengan sopir pribadinya di telepon. Delano menyuruh sopirnya untuk datang mengambil mobilnya karena Ia akan pulang naik motor bersama istrinya.


Beberapa saat kemudian, Delano sudah diatas motor. Ia memakaikan helm pada Mikayla. Mikayla naik di belakang Delano dan melingkarkan kedua tangannya.


"Honey, Peluk aku yang erat ya. Lebih erat dari pelukanmu pada si bule itu." ujar Delano sambil tersenyum.


Mikayla mencubit pinggang Delano sehingga pria itu meringis dalam tawanya.


Sedetik kemudian Mikayla telah mengeratkan pelukannya ditubuh Delano sambil menyandarkan kepalanya.


Delano memacu motornya dengan perasaan lega. Rasa bahagia yang menyelimutinya saat itu seakan menghidupkan kembali cahaya hatinya yang sempat redup dalam keraguan.


Kini ia baru menyadari kepada siapa hatinya telah berlabuh. Sejak malam itu Delano telah menetapkan bahwa kini hatinya hanya milik Mikayla seorang!


*************************************


Hi guys, mungkin kalian bertanya, mengapa novel aku yang satu ini berlatar tempat di Beverly Hills, Los Angeles, California.


Hehehe, Author setiap nulis pasti menggunakan tempat-tempat yang sudah pernah Author kunjungi, disemua novel Author pasti latarnya berganti-ganti negara dan gak hanya di Indonesia aja, sesuai pengalaman travelling Author πŸš™πŸšŒβœˆοΈβœˆοΈ


dengan harapan kalian semakin menyukai karya-karyaku.

__ADS_1


Mau merasakan latar negara lainnya yang sudah pernah Author kunjungi? Yuk dibaca #CONTRADICTORY LOVE dan #TEARS, REVENGE, AND LOVE.


Jangan lupa LIKE and COMMENTnya ya guys πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜Š


__ADS_2