Menikahi Gadis Berandal

Menikahi Gadis Berandal
Insiden Dadakan


__ADS_3

Mikayla keluar dari butik tempatnya bekerja. Waktu telah menunjukkan pukul lima lebih lima belas menit.


Seorang pria muda tengah berusaha mengamat-amati gerak-gerik Mikayla sore itu.


Saat itu Mikayla sedang siap-siap menuju ke kantor suaminya karena Delano masih sibuk dan tidak bisa menjemputnya.


Delano meminta Mikayla yang datang ke kantornya karena Ia ingin mengajak istrinya untuk dinner bareng disebuah restoran seafood.


Mikayla melirik jam tangannya. Ia sedang menunggu sopir Delano yang akan menjemputnya.


Beberapa meter dari situ pria yang sedang mengamati Mikayla mulai berbicara ditelepon.


"Halo boss, ia masih menunggu jemputan."


"Tolong perlambat dulu dia karena aku masih diperjalanan, masih sekitar dua puluh menit baru tiba disana. Tolong timingnya diatur." ujar suara wanita diseberang.


"Oke boss. Jangan khawatir. Segera!"


Pria itu berjalan mendekati tempat Mikayla berdiri. Ia berpura-pura setengah mabuk dan mulai berbicara ngawur.


"Hai cantik... sendirian?" ujar pria itu yang hanya dipandang sebelah mata oleh Mikayla.


"Mau kemana, cantik? Aku antar ya?" kata pria itu sambil berpura-pura kelihatan bodoh dan bingung.


Mikayla berusaha menjauhi pria itu. Pikirnya, dari mana pria itu muncul? Kenapa ia tiba-tiba telah berada didekatnya? Apakah dia sedang mabuk masih sore begini?


Pria itu semakin nekad mendekati Mikayla, tangannya menyentuh pundak Mikayla tapi dengan sigap Mikayla menepiskannya.


"Hey, jangan macam-macam kamu ya. Aku bisa saja menghabisimu sekarang juga."


Mendengar perkataan Mikayla, pria itu terkejut dan malahan terpancing untuk melihat reaksi Mikayla bila ia berbuat lebih nekad lagi.


"Memangnya kamu bisa? Hahaha... perempuan sepertimu bisa menghabisiku?"


Pria itu tertawa meremehkan lalu maju dan hendak meraih tangan Mikayla.


Insting Mikayla akan gelagat tidak baik dari pria tersebut membuatnya dengan sigap menahan tangan pria itu dan melipatnya kearah bawah sehingga pria itu merintih kesakitan.


Tidak mau terlihat lemah, pria itu berusaha menendang gadis didepannya tapi sayang lutut Mikayla telah lebih dulu menghantam keras ke arah perut pria itu. Rintihan keras keluar dari mulut pria itu. Ia memegang perutnya dengan kedua tangan. Pikirnya, ternyata perempuan ini sangat kuat dan kelihatannya bukan perempuan biasa.


Sopir tiba di depan Mikayla. Sopir yang menjemput segera keluar dari mobil untuk membantu istri bossnya yang kelihatan sedang diserang seseorang.


"Jangan mendekat Pak. Biar saya saja yang memberinya pelajaran!" teriak Mikayla pada sopir Delano. Sopir itu langsung terdiam ditempat dalam keadaan panik.

__ADS_1


Pria muda itu segera melancarkan kembali aksinya karena Ia tidak terima dikalahkan begitu saja oleh seorang perempuan. Belum sempat tangannya mengarah kearah wajah Mikayla, sebuah pukulan keras telah lebih dulu menghantam wajah kemudian dadanya. Pria itu langsung jatuh ke tanah tak berdaya.


Mikayla tersenyum sinis menatap pria yang tergeletak di tanah itu sambil meringis menahan sakit yang luar biasa. "Jangan mengulangi perbuatanmu kalau tidak ingin mendekam di penjara!"


Setelah berkata demikian, Mikayla memberi isyarat pada sopir Delano untuk pergi dari tempat itu.


Sepanjang perjalanan ke kantor Delano, sang sopir tak henti-hentinya melirik pada istri bossnya itu. Ia masih tak percaya kalau wanita secantik itu ternyata sangat tangguh dan punya ilmu bela diri!


.


.


.


.


Delano masih sedang membalas beberapa email dari kliennya ketika sebuah ketukan terdengar.


Delano tersenyum karena Ia tahu bahwa itu pasti istrinya. "Masuk saja." kata Delano.


Pintu terbuka dan sosok bersepatu boots dengan penampilan anggun masuk dan tersenyum. "Maaf, aku masuk kesini karena sekretarismu mengatakan bahwa ini sudah lewat jam kerja, jadi dia mengizinkan aku menemuimu."


Wajah Delano yang tadinya berseri langsung berubah drastis.


"Ada apa kamu muncul disini, Celine?"


Sedikit ragu, Delano menerima amplop itu lalu membacanya. Ia kemudian melemparkan undangan itu keatas meja lalu melipat tangannya didepan dada.


"Terima kasih." ucap Delano singkat.


"Kamu tak memberikanku ucapan selamat?" ujar Celine dengan senyum menggoda.


"Selamat ya. Semoga usahamu sukses." ucap Delano masih dengan wajah tanpa ekspresi.


Celine berjalan ke arah meja whisky di dekat situ. Ia kemudian tanpa sungkan menuangkan whisky kedalam dua buah gelas yang memang selalu disiapkan untuk para tamu yang berkunjung.


Delano berjalan kearah Celine dengan tatapan dingin. "Jika tak ada lagi urusanmu, kamu boleh pergi sekarang."


Celine lagi-lagi tersenyum manja. "Jangan kejam begitu padaku. Setidaknya kita bersulang dulu atas pencapaianku." ujar Celine sambil memberikan sebuah gelas pada Delano. Delano menerima gelas itu. Kemudian mereka saling toss. Delano berusaha untuk bersikap baik saja agar Celine cepat-cepat pergi dari ruangannya karena sebentar lagi istrinya akan tiba.


Sementara Delano meneguk whisky di tangannya, Celine mengambil hapenya dan berpura-pura mengecek pesan yang masuk. Namun sebenarnya ia sedang merekam video di hapenya.


"Bagaimana kabar istrimu? Aku pikir kalian sedang berencana memiliki anak, bukan?"

__ADS_1


Delano mulai memijit dahinya. Tiba-tiba ia merasa sedikit pening dan berkeringat. Delano segera melonggarkan dasinya. Dunia serasa mulai berputar.


"Delan... jawab aku dong...apakah kalian akan segera memiliki anak seperti impianmu dulu jika menikah denganku?"


Mendengar itu Delano hanya menggeleng dan mulai tak bisa mengontrol perkataannya.


"Errg... Istriku tak bisa memberiku anak."


Celine mulai tersenyum puas melihat reaksi Delano yang mulai kelihatan teler.


"Wah kasihan juga ya... padahal ia masih sangat muda dan sehat tapi ternyata gak bisa memberiakanmu keturunan."


Delano menatap Celine dengan pandangan yang sedikit kabur.


"Jika kamu benar-benar menginginkan anak, aku bisa memberikannya padamu, Delan." ucap Celine sambil mendekati Delano yang mulai terhuyung. Celine langsung memeluk Delano yang hampir terjatuh lalu menuntunnya kearah sofa.


"Bagaimana? Kamu setuju jika aku yang memberikanmu anak?" Tanya Celine dengan lembut ke telinga Delano.


Delano tertawa. "Anak? Hmm....terserah kamu saja. Aku..aku sudah tak sabar punya anak hehehe..." Setelah berkata demikian, Delano pun tertidur dalam keadaan duduk.


Celine langsung mematikan rekaman videonya kemudian dengan tergesa-gesa segera berlalu dari ruangan itu.


Ada senyum kepuasan di wajah Celine karena rencananya bisa berjalan semulus itu.


.


.


.


.


.


Beberapa saat kemudian Mikayla tiba dikantor Delano. Ia langsung menuju ke ruangan suaminya.


Ketika tiba disana ternyata Robert berada disitu sambil memandang bossnya yang sedang ketiduran di sofa.


"Mbak Mikayla. Maaf, tapi saya sudah berusaha membangunkan Pak Delano tapi beliau kelihatannya sangat lelap."


Mikayla tersenyum geli. "Mungkin dia kelelahan. Biarkan saja. Aku akan menemaninya sampai dia bangun nanti."


Robert kemudian mengangguk dan berlalu dari situ.

__ADS_1


Mikayla memandangi wajah Delano yang memerah dalam tidurnya.


Tanpa sengaja Mikayla memandang dua buah gelas whisky diatas meja. Gelas yang satunya terdapat noda lipstik yang kelihatan masih baru. Mikayla mengernyitkan dahinya, ia kemudian cepat-cepat menepiskan perasaan aneh yang perlahan menyusupi pikirannya.


__ADS_2