
Rumah keluarga Prasetya yang tadinya ramai dengan para keluarga dekat kini telah sepi. Pesta pernikahan telah usai. Hanya beberapa pelayan yang masih kelihatan sibuk membersihkan serta membereskan rumah besar itu.
Mikayla masih dikamar dengan seorang penata rias yang sedang membantunya membersihkan wajahnya dari sisa-sisa make up yang masih melekat.
Beberapa saat kemudian Mikayla melepaskan gaun pengantinnya dengan dibantu penata rias tersebut. Setelah itu Ia langsung masuk ke kamar mandi, berendam beberapa saat serta mengganti pakaiannya dengan jeans yang sobek-sobek dibagian lututnya dan kaos oblong ketat warna merah.
Ia meraih koper berukuran sedang yang dibawa dari rumahnya ketempat keluarga Delano karena seperti janji Delano, setelah pesta usai, mereka akan langsung pindah ke apartemen Delano.
Mikayla turun ke lantai satu sambil menarik kopernya. Delano sudah menunggunya disana sambil asik dengan hapenya.
Tuan dan Nyonya Permadi tak bisa menahan keinginan anak-anak mereka mengingat mereka telah dewasa dan Delano yang sudah terbiasa dengan budaya barat yang mengutamakan privasi apalagi setelah berumah tangga.
"Hati-hatilah dijalan ya. Ingat kalau butuh sesuatu telpon kami saja. Kalian datanglah kemari kapan saja kalian punya waktu. Rumah ini rumah kalian juga." ucap Ibu Delano pada kedua pengantin baru itu.
"Makasih ma, pa." ujar Mikayla dengan malu-malu.
Delano meraih koper ditangan Mikayla sedang tangan satunya menggenggam jemari Mikayla.
"Ma, Pa, kami permisi dulu. Aku masih ada kerjaan yang harus segera diselesaikan." ucap Delano yang disambut anggukkan dan senyuman oleh ayah dan ibunya.
Delano dan Mikayla meninggalkan rumah besar itu menuju ke apartemen Delano yang jaraknya lumayan jauh dari rumah orang tuanya.
Pukul sepuluh malam, keduanya tiba di apartemen. Mikayla memandang keadaan disekelilingnya. Delano mengamati pandangan Mikayla yang sedari tadi tidak banyak bicara.
"Kamarku yang mana?" tanya Mikayla dengan tatapan bingung.
Delano menarik koper Mikayla dan meletakkannya didepan sebuah kamar.
"Disini." ucap Delano singkat.
"Kamar kamu yang mana?" tanya Mikayla karena sedari tadi Ia tidak melihat adanya ruangan lain disekitarnya kecuali ruang makan, dapur dan tempat laundry juga sebuah balkon.
"Disini juga." ucap Delano dengan enteng.
__ADS_1
Mata Mikayla terbelalak.
"Maksudmu.....hanya ada satu kamar diapartemen ini?"
"Apa yang bisa kamu harapkan dari apartemen seorang bujangan yang hanya sementara tinggal disini?" ujar Delano sambil membuka pintu kamar dan masuk kedalam.
Mikayla mematung dalam diam. "Ya ampun, mana bisa begini? Aku pikir pindah kemari agar bisa punya kamar masing-masing, ternyata sama saja!" umpat Mikayla dengan perasaan dongkol.
Beberapa menit kemudian Delano keluar dari dalam kamar. Kelihatan kalau Ia baru selesai mandi. Rambutnya yang masih setengah basah dan acak-acakan membuat Mikayla segera membuang muka, takut terpesona dengan suaminya sendiri. Tak bisa ia pungkiri kalau Delano sangat tampan dan bersahaja tapi Mikayla berusaha menepis semua pikiran itu karena baginya Delano hanyalah seorang kakak baginya.
"Istirahatlah, kamu kelihatan lelah." ujar Delano pada Mikayla.
Mikayla yang memang sudah kelelahan tak bisa menolak lagi. Ia langsung masuk kedalam kamar Delano dan langsung tidur diranjang berukuran sedang itu tanpa mengganti pakaiannya. "Ya ampun, ranjang ini terlalu sesak untuk berdua. Tapi aku sudah ngantuk banget. Kalaupun tidur disofa gak enak banget rasanya! Bisa-bisa bangun pagi aku sudah dilantai." gumam Mikayla pada dirinya. Tak berselang lama Ia sudah tertidur pulas.
Waktu menunjukkan pukul 12.30 tengah malam ketika Delano telah selesai menyelesaikan berkas-berkas yang dikirimkan Robert lewat email padanya.
Delano masuk kedalam kamar sambil merilekskan badannya yang sangat pegal karena acara pernikahan dan juga pekerjaannya yang lumayan menguras tenaga dan waktunya.
Ia menatap Mikayla yang tengah tertidur pulas. "Arrgh...gadis ini tidurnya makan tempat banget!" umpat Delano.
Ia mencoba memejamkan matanya tapi sangat sulit karena postur tubuhnya yang tinggi serta ukuran sofa yang lumayan sempit bagi tubuhnya, membuat Delano tidak nyaman. Beberapa menit kemudian, ia memutuskan untuk berbaring disamping Mikayla. Tak berselang lama, ia pun terlelap juga karena kelelahan.
.
.
.
.
.
Sinar matahari menyeruak dibalik gorden yang sedikit terbuka. Mikayla membuka matanya perlahan dan mencoba meraih kesadaran penuh. "Dimana aku ini" gumamnya. Tak berselang lama ia terduduk dan menyadari kalau Ia tengah berada di apartemen Delano yang kini telah menjadi suaminya.
__ADS_1
Mikayla mencari-cari keberadaan Delano disampingnya tapi tidak terlihat lagi. Ia pun bangkit dari ranjang itu bermaksud untuk segera mandi. Namun ketika Ia hendak menggeser pintu kamar mandi, tiba-tiba pintu itu terbuka dan sosok Delano yang hanya dengan handuk yang melingkar dipinggangnya berdiri dihadapannya dengan wajah yang sama-sama terkejut.
Melihat tubuh Delano yang setengah terbuka Mikayla sontak menutup mulutnya dan segera membalikkan badannya.
"Maaf, aku tak tahu kalau kamu didalam." ucap Mikayla dengan pipi yang memerah.
Delano tak menanggapinya. Ia keluar dari kamar mandi dengan cueknya dan langsung menuju keruang kecil yang adalah tempat pakaian, sepatu dan berbagai asesoris lainnya serta sebuah kaca besar. Tempat itu juga berfungsi sebagai ruang ganti. Delano menutup pintu itu dan segera berganti pakaian.
#Tampang Delano yang baru selesai mandi
Mikayla yang masih syok dengan pemandangan tadi segera meraih masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan dirinya. "Aduh....pemandangan apa tadi itu?" gumam Mikayla sambil mengelus-elus dadanya yang masih berdebar karena kaget. "Apakah aku harus terbiasa dengan pemandangan itu? Ah, sial! Dianya malah bersikap biasa saja. Apa dia gak tahu kalau aku sangat risih?" Mikayla terus bergumam sambil memperhatikan situasi dikamar Mandi itu.
Ternyata Delano telah menyiapkan semua perlengkapan untuknya disitu. Dari sikat gigi, sabun muka dan badan untuk wanita dan juga sampo. Tak ketinggalan handuk bersih dan juga sebuah bathrobe (jubah handuk).
Mikayla tersenyum. "Hmm... dia ternyata bisa diandalkan." ucap Mikayla kemudian bersiap membilas dirinya dengan air hangat.
Setelah berganti pakaian, Mikayla keluar mendapatkan Delano yang sedang berkutat dihadapan laptopnya dengan secangkir kopi disampingnya.
Delano mengedarkan pandangannya kearah gadis itu.
"Duduklah dan sarapan. Aku sudah membuatkan roti bakar coklat keju dan secangkir kopi. Aku tak tahu seleramu. Kalau tidak suka dibuang saja." ucap Delano dan kembali tenggelam dalam pekerjaannya.
Mikayla yang salah tingkah hanya mengangguk kemudian duduk dan mulai menikmati sarapan yang telah disiapkan Delano.
Sesekali Delano mengerlingkan pandangan matanya kearah gadis didepannya. Ia ingin tertawa menyaksikan cara makan Mikayla yang kelihatan sedang berusaha keras untuk mengunyah dengan perlahan dan sesopan mungkin.
"Makannya biasa aja, gak perlu seperti putri keraton gitu nanti makannya gak nikmat. Aku sudah beberapa kali makan denganmu tapi baru kali ini aku melihat cara makanmu yang justru kelihatan aneh. Santai aja. Hanya Ada kita berdua disini."
Mendengar ucapan Delano Mikayla langsung tertawa kecil. Ia sendiri sadar bahwa bersama Delano ia tak harus berpura-pura seperti didepan mertuanya kemarin.
"Oh iya, aku mau kekampus dulu. Ada janjian dengan dosen pembimbing skripsiku." ucap Mikayla sambil membersihkan mulutnya dan membereskan meja.
__ADS_1
"Nanti aku anterin. Aku ganti baju dulu." ucap Delano sambil berdiri dan menutup laptopnya kemudian berlalu kedalam kamar.
Mikayla tak bisa menolak. Baginya yang dilakukan Delano terhadap dirinya adalah sebuah kebaikan. Seperti yang pernah dikatakan Delon padanya bahwa kakaknya adalah seorang pria yang baik.