Menikahi Gadis Berandal

Menikahi Gadis Berandal
Perjodohan Kedua


__ADS_3

Delano menatap layar hapenya lalu tersenyum lega. Ia sangat bersyukur karena Miss Kayl Armando tidak keberatan mengganti hari penandatanganan perjanjian perusahaan mereka dengan miliknya.


Delano mengusap wajahnya. Ia sedikit resah dengan pertemuan keluarga yg sudah diatur oleh orang tuannya. Bagi Delano ia benar-benar sudah muak harus terjebak untuk yang kedua kalinya dalam sebuah perjodohan yang sudah diatur oleh orang tuannya, terutama ibunya. Ibunya tahu betul kalau dirinya tak akan pernah bisa menolak segala keinginannya. Delano terlalu menyayangi ibunya dan selalu mampu menjadi seorang anak manis dalam keluarganya.


#flash back (seminggu yang lalu)


"Delano, kamu masih muda, sayang. Mama dan Papa tak ingin melihatmu terus bersedih dan banyak termenung sejak kehilangan Mikayla. Kamu tak bisa hidup sendirian terus-menerus. Sudah saatnya membuka hatimu untuk wanita lain. Tolong pertimbangkanlah hal itu. Umur kamu semakin bertambah dan sebaiknya kamu harus memikirkan untuk memiliki keturunan. Untuk apa punya karir bagus dan uang yang banyak tapi tak punya penerus?"


Delano hanya bisa terdiam menatap lantai. Ia berusaha mencerna setiap kata yang keluar dari mulut ibunya. Ia tak dapat mengelak jika perkataan ibunya ada benarnya. Namun Delano benar-benar masih ingin sendiri. Masih sangat sulit bagi Delano melupakan bayangan Mikayla yang harus tiba-tiba meninggalkannya selamanya disaat lagi sayang-sayangnya.


"Delano, sayang. Minggu depan mama dan papa mengundang Lilian dan orang tuanya untuk sekedar jamuan makan malam bersama. Kamu harus hadir ya. Kamu ketemu aja dulu dengan Lilian. Sekedar bincang-bincang. Kalau kamu merasa cocok, bisa dilanjutkan ke tahap yang lebih serius. Lilian gak beda jauh dari umurmu sekarang. Kamu hanya terpaut tiga tahun lebih tua darinya. Jadi, pastinya ia sangat dewasa."


Delano masih termenung. Beberapa saat kemudian ia mengangguk tanpa semangat.


"Baiklah jika itu yang mama dan papa inginkan. Tapi.... untuk kali ini, sebaiknya jangan terlalu memaksakan diriku. Aku akan menghadiri pejamuan keluarga tersebut dan berkenalan dengan ... siapa tadi namanya?" tanya Delano sambil menggaruk kepalanya.


"Lilian." sebut ibunya.


"Oh ya, Lilian. Aku akan pastikan semua berjalan dengan baik. Tapi...aku tidak bisa menjamin apakah hubungan tersebut akan ada kelanjutannya atau tidak."


Delano kemudian berdiri lalu meninggalkan ibunya yang hanya bisa menatap punggungnya. Dalam hatinya ia bersyukur, setidaknya Delano telah berjanji akan hadir dalam acara jamuan makan malam tersebut.

__ADS_1


#Flashback off


Masih terpaku menatap hapenya, Delano tiba-tiba teringat akan perjanjian dengan Miss Kayl yang akan berlangsung dikantornya dua hari lagi.


Delano menelpon sekretarisnya,


"Bu Rima, maaf mengganggu istirahatnya. Tolong persiapkan segala sesuatunya untuk persiapan penandatanganan kerjasama dengan Miss Kayl lusa nanti dan bawa semua berkasnya ke meja saya sekarang. Aku harus memastikan lagi tak ada kesalahan satupun."


"Baik Pak, segera." kata suara diseberang.


Delano melirik jam ditangannya. "Hmm, jam makan siang hampir selesai." gumamnya.


Sebuah ketukan dipintu terdengar. "Masuk." kata Delano.


"Ini semua berkasnya, Pak. Oh iya, perusahaan Miss Kayl adalah perusahaan pertama yang berhasil kita ajak kerja sama sejak perusahaan ini didirikan Bapak. Sebenarnya pemilik perusahaan Miss Kayl adalah seorang dokter terkenal di kota ini. Tapi ia telah menyerahkan sepenuhnya pada anaknya yaitu Miss Kayl. Apakah Bapak sudah pernah bertemu secara langsung dengan Miss Kayl?" tanya Bu Rima.


Delano mengernyitkan dahinya dan menggeleng. "Selama ini saya hanya bertemu dan membicarakan segala sesuatunya dengan salah satu managernya, si Pak Ramli. Tapi lusa nanti saya akan bertemu langsung dengan Miss Kayl."


"Jika Bapak bisa menebak, kira-kira Miss Kayl itu umur berapa ya?" kata Bu Rima dengan senyum jenakanya.


Delano kembali mengernyit. "Kalau dari suara dan gaya bicaranya yang begitu anggun di telepon, sepertinya ia berumur sekitaran tiga puluhan, sama seperti saya mungkin."

__ADS_1


Bu Rima kembali tersenyum. "Sangat meleset, Pak!"


Delano tersenyum kecil. "Emang Bu Rima sudah pernah bertemu dengan Miss Kayl? Atau Bu Rima sudah mengenalnya?"


Bu Rima kembali tersenyum penuh arti.


"Dua-duanya benar. Suami saya bekerja di perusahaan Miss Kayl. Waktu ada acara perusahaan mereka, saya mendampingi suami saya dan kami saling diperkenalkan oleh suami saya. Miss Kayl ternyata masih sangat muda, usianya masih sekitar dua puluhan tapi dia sangat cerdas dan dewasa. Ditambah lagi dia adalah wanita yang sangat feminin dan anggun. Dan yang mengesankan adalah kecantikannya yang mungkin...hmmm... bisa bikin Bapak klepek-klepek nantinya kalau bertemu he..he..."


Delano tertawa mendengar penjelasan Bu Rima. Baginya, bertemu wanita cantik itu adalah hal yang biasa mengingat kehidupannya di Amerika dulu selalu bertemu dengan banyak wanita cantik.


"Bu Rima ada-ada aja. Jangan mentang-mentang saya ini duda, lantas harus dengan mudahnya jatuh cinta pada wanita cantik."


Bu Rima tertawa geli.


"Maaf Pak, tapi Pak Delano gak kelihatan duda sama sekali. Soalnya Bapak emang duren alias duda keren. Masih kelihatan perjaka. Bener lho, Pak. Buktinya, banyak karyawan wanita Bapak yang tiap ngobrol pasti membicarakan ketampanan Bapak. Pokoknya Bapak itu banyak fansnya!"


Delano terus tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Aduh kalo ngobrol beginian gak bakalan selesai pekerjaan saya Bu Rima. Terima kasih atas penilaian Bu Rima tentang saya. Sekarang saya mau kerja."


Bu Rima tersenyum, "Baiklah, Pak. Saya permisi dulu." kemudian menghilang dibalik pintu.

__ADS_1


Delano masih senyum-senyum sendiri. Baginya Bu Rima adalah sekretaris yang lucu dan ceplas ceplos dan hal itu terkadang menjadi hiburan tersendiri bagi Delano yang selalu suka menyendiri dan selalu sibuk dengan pekerjaan.


__ADS_2