Menikahi Gadis Berandal

Menikahi Gadis Berandal
Hujan


__ADS_3

Langit mendung sejak pagi dan hujan deras mengguyur bumi. Mikayla hanya mamandang keluar jendela dengan selimut kecil menutupi kakinya yang terasa dingin. Disampingnya masih tergeletak laptop yang baterainya hampir habis. Mikayla perlahan mematikan laptopnya lalu meletakkannya diatas meja dekat dari tempatnya duduk. Ia mendesah pelan. Skripsinya hampir selesai pada bagian kesimpulan tapi hujan hampir seharian membuatnya malas menemui Pak Teguh dikampus.


Ia meraih hapenya dan menuliskan sebuah pesan pada Pak Teguh untuk sekedar memohon maaf karena tidak bisa memenuhi jadwal hari itu. Ia juga memberitahukan dosennya itu kalau Ia lagi kurang enak badan.


Mikayla memaksakan diri menyelesaikan skripsinya sampai subuh jam 4. Ia hanya tidur sejam kemudian bangun lagi jam 6 untuk melanjutkan skripsinya. Alhasil pagi itu Ia sedikit pusing dan meriang. Ditambah lagi ia hanya tidur disofa ruang keluarga jadi badannya sedikit terasa pegal disana sini karena posisi tidur singkatnya yang kurang enak.


Mikayla kembali menatap hujan dengan posisi tiduran sambil memeluk kakinya yang semakin terasa dingin.


Tiba-tiba ia merasakan ada sedikit demi sedikit kehangatan yang mengalir dari kakinya. Karena kepalanya yang masih pening, ia tidak memperhatikan kehadiran Delano yang telah duduk dibawah kakinya dengan kedua tangan yang sedang memegang kakinya yang dingin.


"Kayla, kamu sakit?" Tanya Delano lembut.


Mikayla masih tak menjawab. Matanya terpejam menikmati kehangatan yang kini telah menjalar sampai kebahunya.


Delano menatap wajah manis itu dengan perasaan khawatir. Ia telah membungkus gadis itu dengan selimut.


"Kayl....Kayla." Delano menyentuh pipi gadis itu.


"Hmm...lumayan hangat." gumamnya.


Beberapa saat kemudian Mikayla membuka matanya perlahan dan mendapati wajah Delano sedang memandangnya. Mikayla sedikit kaget. Ia ingin mendorong tubuh Delano yang sangat dekat dengan posisinya tapi Ia terlalu lemah untuk melakukannya.


"Kayla, kamu sakit. Aku ambil obat penurun panas dulu." ucap Delano sambil berdiri dan mengambil obat dari kotak P3Knya.


Beberapa menit kemudian Ia sudah berada disamping Mikayla dengan obat dan segelas air hangat.


"Kayla, minum obatnya dulu." ucap Delano.

__ADS_1


Mikayla hanya menggeleng lemah.


"Aku gak suka minum obat."


"Kayla, kamu lagi sakit. Aku gak bisa membiarkanmu seperti ini. Ayo diminum dulu obatnya." suara Delano agak meninggi.


Mikayla tetap menggeleng. "Aku paling benci minum obat." suara Mikayla terdengar lemah.


Delano menarik nafasnya. Ia jadi gemas juga kalau harus meladeni gadis kekanakan yang takut minum obat.


"Ayolah Kayl, kalau kamu gak mau minum, aku bawa kamu ke rumah sakit sekarang juga!"


Mata Mikayla membesar. Ia langsung berusaha duduk ketika mendengar kata rumah sakit.


"Please, jangan bawa aku kesana. Berikan obatnya." pinta Mikayla.


Mikayla berusaha menelan obat yang diberikan Delano dan meneguk air dengan cepat-cepat. Ia paling gak suka minum obat. Tapi dari pada harus dibawa ke rumah sakit, Mikayla rela menelan obat tersebut walaupun dengan susah payah menahan rasa pahit yang sempat hinggap di indra perasanya.


"Lain kali jangan memaksa diri kerja sampai pagi." ucap Delano sambil meletakan gelas diatas meja.


"Kamu harus makan. Aku sudah buatkan sup asparagus dan ayam goreng tepung."


Mikayla menatap Delano dengan tatapan bersalah.


"Maaf sudah merepotkanmu sejak kita menikah. Aku yang seharusnya memasak untukmu tapi.....aku gak pintar masak." ujar Mikayla dengan suara yang masih terdengar lemah.


Delano hanya tersenyum kecil. Ia kemudian meraih kepala gadis itu dan menyandarkan kebahunya. Mikayla tak menolak perlakuan Delano. Justru ia menikmatinya.

__ADS_1


"Gak masalah. Aku udah tahu kamu gak bisa masak. Jaman sekarang justru lelaki lebih pintar masak dibanding perempuan."


"Makasih ya Delan. Beban kamu justru bertambah sejak nikah sama aku." ujar Mikayla dengan pelan.


Delano hanya menggeleng sambil meraih remote televisi didekatnya dan mulai mencari-cari chanel kesukaannya.


"Jangan dipikirin. Lagian, kamu gak usah terlalu memaksakan diri menyelesaikan skripsimu hingga sakit begini."


Mikayla menarik nafasnya. "Mana bisa aku gak kerja keras. Kita kan harus segera ke Amerika?"


Delano menjentikan jemarinya ke dahi gadis itu dengan lembut.


"Kamu selesaikan aja skripsimu pelan-pelan. Kita berangkat jika kamu sudah selesai. Aku gak mungkin ninggalin kamu kan? Apa kata orang tua kita nanti jika aku berangkat sendirian?"


Mikayla tersenyum lega mendengar perkataan Delano. Delano ternyata sangat pengertian.


Hujan masih terus mengguyur tanpa memperlihatkan tanda-tanda berhenti. Cahaya kilat diiringi bunyi gemuruh yang sangat keras mengaggetkan Mikayla yang refleks langsung mendekap Delano disampingnya seraya menyembunyikan kepalanya didada bidang itu.


Delano tersenyum geli. "Ternyata sifat berandalmu bisa hilang hanya karena bunyi guntur."


Mikayla tidak menghiraukan perkataan Delano. Ia perlahan melepaskan pelukan itu.


"Jangan ge-er ya dipeluk cewek cantik, itu hanya refleks kaget, bukan apa-apa." ucap Mikayla dengan wajah yang sudah memerah.


Delano berdiri dan meraih tangan Mikayla.


"Ayo kita makan dulu. Keburu dingin makanannya."

__ADS_1


Mikayla tak menolak karena Ia memang sudah lapar. Genggaman tangan Delano yang menuntunnya ke meja makan berusaha dimaknai Mikayla sebagai perhatian seorang kakak pada adiknya. Tidak lebih!


__ADS_2