Menikahi Gadis Berandal

Menikahi Gadis Berandal
Lamaran


__ADS_3

Keluarga Prasetya telah hadir sekitar lima menit yang lalu di rumah keluarga Permadi.


Tampak Tuan Harris Prasetya dan Nyonya Davina Prasetya sedang berbincang-bincang dengan tuan rumah, Tuan Dimas dan Nyonya Anggita Permadi. Mereka sedang mendiskusikan teknis pelaksanaan pernikahan anak-anak mereka nantinya.


Disela-sela pembicaraan itu, tiba-tiba Nyonya Davina bertanya tentang Mikayla.


"Mikaylanya mana, Bu? Kok belum keluar?"


Nyonya Anggita tersenyum sambil berdiri,


"Saya cek dulu ya Bu, soalnya dia sedikit kurang sehat hari ini. Tapi dia baik-baik saja. Saya permisi sebentar."


Sewaktu Nyonya Anggita melangkah ke lantai dua untuk memanggil Mikayla, terdengar suara motor memasuki halaman.


Beberapa saat kemudian terdengar ketukan dipintu yang sedang terbuka.


"Delan, akhirnya kamu muncul juga." ucap ibunya demi melihat anaknya yang baru tiba.


Delano muncul dengan setelan dalaman putih dan jas berwarna hitam. Ia tampak sangat rapi seperti permintaan ibunya.


# Penampilan Delano diacara lamaran



"Selamat malam, Pak Dimas. Maaf saya terlambat." ucap Delano dengan sopan yang disambut senyum ramah oleh Tuan Dimas.


"Saya terpaksa datang dengan motor karena menghindari kemacetan tapi ternyata tetap terlambat juga."


"Tidak apa-apa Nak, Delan. Silahkan duduk dulu. Kamu datang tepat waktu. Sebentar lagi kita makan malam bersama." ucap Tuan Dimas sambil mempersilahkan Delano duduk."


Seorang pelayan masuk membawakan segelas minuman untuk tamu yang baru datang.


Sementara mereka berbincang tentang pekerjaan dan kehidupan Delano di Beverly Hills, California, nampak Nyonya Anggita diikuti oleh seorang gadis cantik yang sedikit pincang jalannya.


Delano yang duduk membelakangi arah datangnya Nyonya Anggita dan Mikayla, tidak menyadari kalau Mikayla telah duduk hampir berhadapan dengannya.


"Nak Kayla, cantik benar malam ini. Tapi kakinya kenapa?" Tanya Nyonya Davina dengan nada khawatir.


Delano yang baru tersadar dengan kehadiran Mikayla, langsung memalingkan pandangannya kearah gadis itu.

__ADS_1


Ia mengernyitkan dahinya dan sedikit terkejut.


"Kenapa ia bisa sangat beda banget dengan foto yang pernah aku lihat? Rambutnya tak lagi hijau. Dan matanya itu? Sepertinya aku pernah bertemu, tapi.....dimana ya?" gumam Delano dalam hatinya. "Hmm...kenapa dia terkesan lebih manis dari fotonya?"


# Penampilan Mikayla ketika bertemu Delano



Mikayla melayangkan pandangannya kearah Delano yang sedari tadi sedang menatapnya dengan wajah aneh. Ia seketika terperanjat dengan nafas yang seperti tercekat dilehernya. "Ya, ampun... dia ...diakan si pria yang menolongku beberapa hari yang lalu! ****** aku kalau dia mengenali wajahku!" umpat Mikayla dalam hati.


Nyonya Anggita menyentuh tangan anaknya yang kelihatan binggung dan belum menjawab pertanyaan Nyonya Davina.


"Errg...maaf Bu Davina...ehmm...Aku kepeleset dan kakiku terkilir jadi masih belum bisa berjalan dengan normal. Tapi sudah kedokter kok, besok palingan udah baikan lagi." ucap Mikayla terpaksa berbohong agar orang-orang didepannya tidak tahu kalau ia agak pincang karena berkelahi dengan geng Apachel.


Nyonya Davina tersenyum.


"Nak Kayla, perkenalkan ini anak tertua kami, Delano, kakak dari Delon. Dia baru saja kembali dari Amerika karena dia punya bisnis disana."


Mikayla tersenyum paksa. Ia hanya mengangguk tanpa berani lagi menatap wajah Delano.


"Senang berkenalan denganmu." ucap Mikayla.


"Si berandal itu! ya! Dia gadis yang berkelahi dengan banyak pria waktu itu. Aku tak mungkin salah! Matanya...suaranya...."


"Delano, ayo salaman sama Kayla. Jangan kaku begitu dong." suara ayahnya mengagetkan Delano. Delano yang masih syok sewaktu mengetahui bahwa Mikayla adalah gadis yang ditolongnya dari peristiwa keroyokan beberapa hari lalu, berusaha bersikap biasa. Ia menyodorkan tangan dan disambut Mikayla dengan jabatan tangan yang sangat singkat.


Karena keduanya sama-sama masih syok, mereka tidak berkomentar apa-apa ketika keluarga mereka telah menetapkan tanggal pernikahan keduanya. Baik Delano maupun Mikayla hanya bisa manggut-manggut walau mereka sendiri tidak mengerti jalannya pembicaraan dua keluarga tersebut.


Pembicaraan dua keluarga tersebut diakhiri dengan jamuan makan malam. Mikayla tidak berlama-lama di meja makan karena ia malas mendengar arah pembicaraan para orang tua tersebut.


Ia memilih mencari angin diteras rumah. Delano yang melihat Mikayla keluar, mengikutinya dari belakang karena Ia ingin memastikan dirinya tentang gadis itu.


Mikayla yang menyadari kehadiran Delano disampingnya segera memalingkan wajahnya kearah yang berlawanan.


Delano tersenyum kecut melihat Mikayla yang kelihatan pincang.


"Apakah benar yang kamu katakan tadi pada ibuku kalau kakimu sakit karena terpeleset?"


Mikayla langsung menatap Delano karena kaget dengan pertanyaan pria itu.

__ADS_1


"Kenapa kamu bertanya begitu? Aku memang terpeleset."


Delano menatap lurus kedepan dengan senyum sinis.


"Bukannya kakimu sakit karena berkelahi?"


Mikayla jadi kesal juga dengan gelagat Delano yang terlihat seperti sedang mempermalukan dirinya.


"Baguslah kalau kamu sudah tahu kalau aku suka berkelahi. Setidaknya kamu bisa berpikir kembali untuk tidak menikahiku!"


Delano menatap tajam wajah bening disampingnya. "Jangan kamu pikir aku suka dengan pernikahan ini ya. Kamu bukan tipe aku!"


Mikayla tertawa garing. "Eh, Om. Umur kita itu bedanya banyak, jadi kamu seharusnya menikah dengan yang seumuran."


Telinga Delano menjadi panas mendengar dirinya dipanggil 'om'.


"Hey, anak ingusan, kalau bukan karena penghargaanku pada orang tuaku, aku sudah pasti menolak menikahimu."


Mikayla tersenyum sinis. "Dengar baik-baik ya Om, kalau bukan karena harus diusir dari rumah tanpa fasilitas apapun, aku juga gak bakalan mau. Kita emang bedanya bumi dan langit. Ngerti, Om?"


"Stop panggil aku Om. Emangnya tampangku udah tua-tua amat? Harusnya kamu bersyukur masih bisa pulang dengan selamat waktu berkelahi hari itu. Seandainya hari itu aku sudah tahu kamu gadis yang akan dinikahkan denganku, kubiarkan saja kamu mati dijalan waktu itu!"


Mendengar perkataan Delano, Mikayla mengangkat tangannya hendak melayangkan tinjunya ke wajah tampan didepannya tapi bukan Delano namanya yang tidak sigap menangkis sebuah serangan tiba-tiba.


Delano menahan tangan Mikayla, bukan hanya satu, melainkan kedua tangannya.


Mikayla sedikit meringis karena kakinya juga masih sakit, ia tak bisa melepaskan kekuatan tangan Delano.


"Nih Om, kuat juga. Kayaknya ilmu bela dirinya sudah tingkat excellent." pikir Mikayla.


Sambil menahan kedua tangan Mikayla, Delano mendekatkan wajahnya yang kelihatan sangat marah ke wajah gadis didepannya.


"Dengar ya , anak ingusan. Seumur-umur aku belum pernah bertemu dengan gadis liar kayak kamu. Jangan pernah pakai ilmu bela dirimu hanya untuk menunjukkan bahwa kamu hebat karena diatas langit masih ada langit dan kamu bisa mati konyol kalau salah menggunakan ilmu itu."


Setelah selesai berucap, Delano menghempaskan tangan Mikayla dan masuk kedalam rumah untuk duluan pamitan pada orang tuanya dan juga tuan rumah.


Mikayla yang terdiam seribu bahasa hanya bisa menatap bayangan Delano yang melangkah keluar, memakai helemnya dan kemudian memacu motor besarnya keluar dari halaman rumah.


Perasaan Mikayla seakan bercampur aduk, antara benci, kesal dan juga marah bukan hanya pada Delano tapi juga pada orang tuanya yang memaksanya untuk menikah!

__ADS_1


__ADS_2