
Delano memandang tubuh istrinya yang masih tertidur pagi itu. Pikirnya, tidak biasanya makhluk cantik itu masih berbaring pada saat jam sarapan.
Hari itu adalah hari sabtu dan Delano sudah merencanakan untuk mengajak istrinya jalan-jalan seperti biasanya.
Musim gugur tengah berlangsung dan udara diluar cukup dingin dan berangin.
Delano menyentuh pipi Mikayla dengan lembut. Dahinya mengernyit.
"Kok hangat? Apa dia sakit?"
Delano berdiri dan mengambil sebaskom air dan juga handuk kecil.
Ia mengompres dahi Mikayla. Bibir gadis itu kelihatan pucat dan kering.
Pikirnya, beberapa bulan telah mereka jalani dengan penuh bahagia, Mikayla belum pernah tepar seperti ini. Ia adalah gadis yang kuat disegala cuaca dan musim.
Mikayla merintih sejenak dengan kedua tangan menekan perutnya. Ia berusaha membuka matanya ketika merasakan Ada yang basah di dahinya.
"Honey, kamu sakit?" tanya Delano sambil memegang kedua tangan Mikayla yang sedang memegang perutnya.
Mikayla hanya mengangguk sambil mencoba membasahi bibirnya yang terasa kering dan hangat.
"Delan, perutku sakit sekali."
Delano menatap Mikayla dengan tatapan iba.
__ADS_1
"Kita ke rumah sakit sekarang. Aku ganti baju dulu."
Beberapa saat kemudian Delano telah selesai berpakaian rapi. Ia kemudian membantu istrinya mengganti pakaian. Kemudian menggendongnya ke basement menuju tempat dimana mobilnya di parkir.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit Mikayla terus merintih sambil menekan bagian perutnya.
Melihat itu Delano menjadi semakin panik. Kecepatan mobil ditambahnya hingga mereka tiba di Cedars Sinai Medical Center.
Delano segera melepas seat belt yang membelenggu istrinya kemudian hendak menggendongnya. Ketika hendak mengangkat tubuh yang telah lemah itu, Delano merasakan ada yang basah di bagian bokong istrinya. Delano seketika terbelalak demi melihat darah yang telah memenuhi tangannya. Darah yang berasal dari tubuh bagian bawah istrinya.
Delano mengurungkan niatnya untuk membopong istrinya. Ia pun segera berlari kebagian UGD.
Tak berselang lama, beberapa petugas medis datang beserta tempat tidur untuk meletakan tubuh Mikayla yang tengah bersimbah darah.
"Ya Tuhan, tolonglah istriku." Gumam Delano dengan wajah sangat terpukul.
"Apa yang terjadi padanya? Mengapa?" Delano terus bertanya-tanya dalam pikirannya. Mimik wajahnya menunjukkan ketakutan luar biasa akan kehilangan istrinya.
Delano keluar dari toilet dan langsung kembali di koridor UGD menunggu Tim Medis menyelesaikan pekerjaan mereka.
Hampir dua jam ia menunggu ketika pintu UGD terbuka dan seorang suster memanggilnya.
"Apakah anda kerabat saudari Mikayla Prasetya?" Tanya suster tersebut.
"Saya suaminya. Bagaimana keadaan istriku?"
__ADS_1
"Silahkan anda masuk dulu, dokter ingin bicara dengan anda."
"Baiklah." ucap Delano sambil masuk ke ruang UGD untuk menemui dokter.
Delano menatap sejenak tubuh istrinya yang sedang menutup mata di ranjang rumah sakit. Ia masih tampak sangat pucat. Hati Delano sangat tersayat oleh kesedihan.
Seorang dokter menepuk bahu Delano.
"Tuan, apakah anda suaminya?"
Delano terperanjat dan langsung menjawab.
"Iya, benar dokter. Saya suaminya. Boleh saya tahu apa yang terjadi dengan istri saya?"
"Istri anda sudah stabil dan tidak memerlukan transfusi. Istri anda keguguran. Usia kandungannya sekitar hampir dua bulan." ucap Dokter tersebut yang membuat Delano terbelalak.
"Apa? Jadi istri saya selama ini sedang hamil? Tapi...kenapa dia bisa keguguran dok?" Wajah Delano kelihatan sangat terpukul.
"Sepertinya tidak ada perkembangan pada janinnya sehingga akhirnya janin itu keluar dengan sendirinya. Dari diagnosis awal, istri anda memiliki gangguan pada kandungannya sehingga Ia sulit untuk memiliki anak. Hal ini wajar terjadi pada wanita. Ini disebut Sindrom Ovarium Polikistik atau masalah keseimbangan hormon. Istri anda untuk sementara waktu akan dirawat selama dua atau tiga hari tergantung kondisinya. Jika tidak lemah lagi, sudah bisa pulang."
Delano hanya bisa mengangguk lemah mendengar penjelasan dokter.
"Terima kasih Dokter." ucap Delano kemudian beranjak ke tempat dimana istrinya sedang berbaring.
Delano memegang tangan Mikayla dan mengecupnya. "Honey, cepat sembuh ya. Aku akan tetap ada disampingmu." Ada setitik air mata yang keluar dari mata Delano. Ia masih belum percaya dengan vonis dokter terhadap istrinya. Ia tak dapat mendustai hatinya kalau Ia kecewa dengan vonis dokter yang mengatakan jika Mikayla akan sulit untuk memiliki anak. Namun bagi Delano harapan selalu ada. Ia tak ingin Mikayla sedih sehingga Ia memutuskan untuk tidak mengatakan pada istrinya apa yang telah dikatakan dokter padanya. Ia telah terlanjur mencintai istrinya apa adanya!
__ADS_1