
Pagi itu Mikayla sudah segar dengan setelan kaos oblong putih, blue jeans dan sepatu kets. Ia meraih hape dan mengisinya dalam tas kecilnya. Ia kemudian memakai kaca mata hitamnya serta membiarkan rambut panjang lurusnya tergerai.
Hari itu ibunya mengatakan bahwa Ia dan Delano harus pergi memilih cincin pernikahan mereka disebuah toko perhiasan langganan orang tua Delano. Mikayla yang semula sangat keberatan dan menyerahkan sepenuhnya pada pihak keluarga Delano malahan kena omelan ibunya karena dianggap tidak sopan.
"Setiap calon pengantin harus memilih selera mereka. Lagian kalian butuh waktu bersama agar bisa lebih saling kenal dan dekat." begitu yang dikatakan ibunya.
Mikayla benar-benar malas bertemu dengan Delano setelah pertemuan mereka yang berakhir perselisihan kecil di acara lamaran beberapa hari lalu. Ia juga agak malu jalan dengan pria itu karena takut kalau-kalau tak sengaja bertemu dengan salah satu temannya dan melihatnya jalan sama om om!
Hapenya berbunyi tanda ada pesan WhatsApp yang masuk. Mikayla membuka pesan dari nomor yang tidak Ia kenal.
"Ini dengan Aku, Delano. Sesuai permintaan orang tua kita, hari ini aku akan jemput kamu untuk pergi ke toko perhiasan di Grand Mall. Tiga puluh menit lagi aku sampai."
Mikayla segera menjawab pesan tersebut.
"Aku udah siap dari tadi, Om" sambil menyimpan nomor tersebut dengan nama "Om Delano"
Delano yang membaca pesan balasan Mikayla terlihat kesal dengan kata 'om' yang tertulis disitu.
"Dasar anak ingusan!" umpatnya dalam hati.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, sebuah mobil sport Lamborgini Veneno telah diparkir didepan rumah Mikayla.
Nyonya Anggita yang kebetulan sedang menikmati keindahan bunga-bunga koleksinya langsung tersenyum manis kearah Delano yang keluar dari mobil dengan penampilannya yang casual mengenakan kaos oblong hitam dan jeans berwarna abu-abu beserta sneakers berwarna putih.
"Selamat pagi, Bu Anggita." sapa Delano dengan sopan.
"Nak, Delano. Selamat pagi. Panggil saja Tante. Gak usah terlalu formal begitu." ujar Nyonya Anggita sambil mempersilahkan Delano duduk.
"Sebentar, Tante panggilkan Kayla dulu." ujar Nyonya Anggita sambil berlalu menuju lantai dua.
Beberapa menit kemudian Mikayla muncul dengan kaca mata hitamnya. Delano yang sedari tadi hanya melihat kearah taman sedikit terkejut dengan suara Mikayla.
"Ayo berangkat." ucap Mikayla memandang pria didepannya dengan tatapan kurang ramah.
Delano langsung menatap kearah datangnya suara. Ia sedikit terperangah juga melihat sosok didepannya yang dalam pandangannya terlihat sangat cute pagi itu, namun cepat-cepat ia menghilangkan penilaiannya tersebut dan kemudian pamitan pada ibu Milkayla.
# Penampilan Mikayla pagi itu #
Delano membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Mikayla duduk didepan bersamanya.
Sepanjang perjalanan, Mikayla tak berbicara sedikitpun. Delano hanya meliriknya sekali-kali dari kaca spionnya. "Hmm....serasa gak percaya gadis semanis ini seorang berandal yang suka adu jotos!" gumam Delano dalam hati.
Mikayla yang sedari tadi hanya diam dan melemparkan pandangannya keluar jendela hanya bisa bicara dengan dirinya sendiri.
"Si Om ini ternyata keren juga kalau diamati baik-baik." gumam Mikayla dalam hatinya.
"Ya ampun, kenapa juga aku berpikiran seperti itu?" ucapnya dalam hati ketika tersadar dengan penilaiannya yang muncul terhadap pria disampingnya.
# Penampilan Delano pagi itu #
__ADS_1
Mikayla menggigit kukunya, Ia masih gak percaya kalau pria disampingnya dalam waktu dekat akan menjadi suaminya!
Mobil memasuki halaman valet parking. Keduanya keluar dari mobil. Delano kemudian menyerahkan kunci mobilnya pada petugas valet.
Mikayla hanya mengikuti kemana arah Delano akan membawanya. Ia berusaha bersikap biasa-biasa saja ketika berjalan disamping Delano yang kelihatan cuek terhadapnya.
Keduanya memasuki sebuah toko perhiasan yang sangat elegan dengan disambut oleh seorang pelayan.
"Selamat pagi, silahkan nikmati waktu anda memilih perhiasan disini." kata pelayan tersebut.
Delano berjalan kearah seorang wanita yang berada dibelakang lemari perhiasan dan telah tersenyum ramah sedari tadi pada mereka berdua.
"Saya Delano Prasetya, ibu saya mengatakan bahwa..." belum selesai ucapan Delano, langsung dipotong oleh wanita tersebut.
"Oh, Tuan Delano. Iya benar, ibu anda sudah mengatur semuanya, Tuan Delano dan juga Nona cantik ini tinggal langsung memilih saja cincin yang disukai". kata petugas itu dengan terus tersenyum ramah.
Delano menatap Mikayla yang sedari tadi hanya diam dengan gelagat tidak tertarik dengan berbagai model cincin dihadapannya.
"Kayla, silahkan kamu pilih saja yang kamu mau. Aku nurut aja karena bagiku semuanya sama aja."
"Kamu saja yang pilih. Aku gak pintar milih-milih barang beginian." ucap Mikayla tak bersemangat.
Delano sedikit salah tingkah dengan respon Mikayla ditambah lagi tatapan petugas yang melayani mereka seperti penuh tanda tanya. Mungkin pelayan itu heran dengan mereka berdua yang selain tidak kelihatan romantis seperti pasangan yang akan menikah, mereka juga tidak tertarik dengan cincin pernikahan.
Menyadari sikap Mikayla yang kelihatan tidak mood, Delano akhirnya langsung memilih secara asal model cincin yang akan dibeli. Pelayan kemudian mengukur ukuran jari mereka.
"Tuan Delano, cincin pernikahannya akan siap dalam satu minggu kedepan." ucap pelayan itu.
"Baiklah, ibuku yang akan mengambilnya nanti." ujar Delano sambil membalas senyum ramah pelayan tersebut yang mengangguk tanda mengerti.
"Kita makan siang dulu sebelum pulang." ucap Delano sambil terus berjalan tanpa sedikitpun menoleh pada Mikayla yang berjalan tepat disampingnya.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Delano.
"Masakan jepang." jawab Mikayla singkat.
"Aku gak suka. Bukan seleraku. Kita cari saja selera Italia." ucap Delano.
"Kalau begitu kamu aja yang makan disana biar aku makan sendirian." ujar Mikayla dengan sikap tak peduli.
"Oke, fine! Kita ke restoran Jepang kemudian kamu aku temani makan. Setelah itu kamu temani aku makan di restoran Italia. Deal?" Tanya Delano yang disambut gelengan kepala oleh Mikayla.
"Capek kalau harus mondar mandir." sungut Mikayla yang membuat Delano sangat gemas terhadap sikapnya.
"Susah banget sih kamu diajak kompromi." ujar Delano dengan nada sedikit kesal.
"Aku kan sudah bilang kalau kita ini beda langit dan bumi. Pokoknya serba rumit! Gak bakalan ketemu deh." decak Mikayla dan langsung berjalan meninggalkan Delano yang geram dengan sikanya yang kekanakan itu. Mau tak mau, dengan berat hati, Delano mengikuti langkah Mikayla.
"Baiklah. Aku mengalah kali ini. Kita makan di restoran Jepang." ucap Delano sambil berusaha mengejar langkah Mikayla.
Mikayla sangat menikmati masakan Jepang yang disuguhkan. Delano hanya memakannya sedikit sekali. Ia terpaksa hanya mengenyangkan perutnya dengan dua gelas jus.
Beberapa menit kemudian, ketika hendak keluar dari restoran tersebut, tiba-tiba seorang laki-laki mencegat Mikayla. Ia menahan tangan Mikayla.
__ADS_1
"Tommy?" ucap Mikayla terkejut.
"Kenapa kamu terkesan masih menghindariku?" Tanya Tommy langsung ke inti pertanyaan.
"Lepaskan tanganku Tom." ucap Mikayla dengan wajah risih.
Delano yang melihat perlakuan Tommy terhadap Mikayla langsung melepaskan tangan Tommy dari Mikayla dengan paksa.
"Hey, bersikap sopanlah pada wanita." ucap Delano dengan wajah dingin.
Tommy terkejut dengan kehadiran Delano yang dianggap ikut campur urusannya dengan Mikayla.
"Dia siapa, Kayl?" Tanya Tommy dengan tatapan tajam kearah Delano.
Mikayla yang ditanya jadi serba salah dan bingung bagaimana harus menjawab.
"Ehm.. err... dia kakak.."
"Aku calon suami Kayla. Namaku Delano Prasetya." ucapan Mikayla langsung diserobot oleh Delano.
Baik Tommy maupun Mikayla sama-sama terkejut dengan jawaban Delano.
Wajah Mikayla memucat dan kelihatan gugup.
Delano langsung menarik tangannya dan berlalu dari hadapan Tommy yang masih terbengong tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di depan matanya.
Setelah beberapa meter berjalan, Mikayla menghempaskan tangannya dari genggaman Delano.
"Apa-apaan sih kamu ngaku-ngaku sebagai calon suamiku didepan temanku?" nada suara Mikayla terdengar sangat kesal.
"Lantas kamu mau aku berdusta, heh? Mau berdusta atau tidak, orang-orang juga nantinya bakalan pada tahu kalau aku akan jadi suamimu! Jelas?" Kali ini Delano benar-benar tak tahan lagi untuk bersikap lebih sabar.
Mikayla menghentakan kakinya dan hendak berlalu dari hadapan Delano.
"Aku mau pulang sendiri saja. Gak usah diantar! Aku tak sudi jalan sama kamu!"
Delano yang melihat Mikayla meninggalkan dirinya, langsung mengejar gadis itu dengan perasaan jengkel.
"Mikayla...tunggu! Hey....Kayla!"
Delano sedikit berlari untuk mendapatkan Mikayla yang berusaha menghindar dari kejaran Delano.
Delano langsung menarik tangan Mikayla begitu ia dapat meraihnya dan membuat langkah gadis itu terhenti.
"Dengar Mikayla. Aku harus mengantarmu pulang karena aku yang menjemputmu. Aku yang bertanggung jawab atas dirimu saat ini.
Mikayla menggeleng. "Gak! Aku pulang sendiri!"
Delano menjadi lebih sebal. "Baiklah. Kalau kamu mau pulang sendiri, aku akan menelpon ibumu sekarang dan menjelaskan mengapa kamu gak mau aku antar."
Mikayla terkejut dan terdiam. Pikirnya, gawat juga kalau Delano nekad menelpon ibunya dan memberitahukan semuanya.
Mikayla mulai menenangkan dirinya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
__ADS_1
"Baiklah. Kamu menang kali ini. Antar aku pulang sekarang!"
Akhirnya, Delano mengantar Mikayla pulang dengan perasaan tak karuan. Ia merasa gadis ini telah menghabiskan sebagian besar emosi dan energinya. Kesabarannya benar-benar diuji hari itu!