Menikahi Gadis Berandal

Menikahi Gadis Berandal
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Mikayla telah bersiap pagi itu. Sopir pribadi Delano telah menunggunya diparkiran.


Hari itu Mikayla tampil sedikit berbeda dikarenakan Ia malas menyetrika pakaian casualnya.


Ia meraih rok blus sepasang berwarna kuning yang dibelikan Leony sewaktu mereka jalan-jalan. Leony memberikan baju tersebut karena Ia jarang melihat Mikayla tampil sexy seperti perempuan-perempuan lainnya. Bagi Leony, Mikayla terlalu tampil 'seadanya' dan perlu sekali-kali untuk bergaya modis sebagai wanita yang feminin.


Pikir Mikayla, apa salahnya sekali-kali tampil beda. Lagian ia ingin mengajak Delano makan di Cafe Leony, sekaligus ingin memperlihatkan pada Leony betapa cantiknya baju yang dibelikan untuknya.


Mikayla mendandani wajahnya dengan sedikit make up. Sebenarnya ia tidak tahu menahu bagaimana berdandan tapi sejak berteman dengan Leony yang sangat feminin, ia jadi bisa berdandan walaupun hanya seadanya.


Setelah memoleskan sedikit lipstik dibibirnya, Mikayla menyemprotkan parfum yang dibelikan Delano. Baunya sangat lembut perpaduan bunga dan buah-buahan.


Mikayla kemudian meraih tas dan hapenya setelah merapikan kembali rambutnya. Setelah itu Ia turun ketempat parkir dan siap menemui suaminya di perusahaannya.


Mobil yang ditumpangi Mikayla berhenti tepat di depan pintu utama kantor Delano. Shelton dengan sigap membukakan pintu bagi istri bossnya.


Setelah mengucapkan terima kasih, Mikayla berjalan menuju lift yang membawanya ke lantai 7.


Kedatangan Mikayla membuat semua mata karyawan tertuju padanya. Mikayla membalas tatapan kagum para karyawan dengan senyuman ramah. Ia kemudian menuju ruang kerja Delano dan mengetuk pintu.


"Masuk," seru suara dari dalam.


Mikayla membuka pintu perlahan dan mendapati Delano yang sedang menandatangani berkas-berkas dihadapannya.


Bau parfum lembut Mikayla yang menyeruak kedalam ruangan itu membuat Delano menghentikan aktifitasnya dan menatap sosok berbaju kuning yang telah berdiri di depan pintu.


"Hi, Delan." ucap Mikayla singkat.


Delano terpana beberapa saat. Mulutnya sedikit terbuka. "Damn! Why is she so charming?" gumam Delano dalam hatinya.


Delano berdiri dengan wajah yang masih terpesona. Ia berjalan mendekati Mikayla dan menarik tangan gadis itu untuk mendekatinya.


"You look totally different today." ucap Delano yang langsung membuat Mikayla sumringah.



"Thanks." balas Mikayla dengan wajah salah tingkah ditatap Delano seperti itu. Jantungnya tiba-tiba berdesir aneh.


"Aku sudah membawa berkas-berkas yang dibutuhkan." kata Mikayla sedikit gugup sambil menunjukkan map plastik ditangannya.


Delano kelihatan tidak tertarik dengan berkas yang ditunjukkan Mikayla. Ia mengambil berkas itu dari tangan Mikayla tanpa sedikitpun melepaskan tatapannya dari gadis didepannya. Delano melemparkan berkas itu kebelakang dan jatuh tepat diatas mejanya.


Masih dengan rasa gugup, Mikayla masih saling bertatapan dengan si tampan didepannya. Tanpa sepatah katapun, Delano melingkarkan salah satu tangannya kepinggang Mikayla kemudian menarik gadis itu hingga melekat ditubuhnya.

__ADS_1


Mikayla hanya terdiam dengan tubuh yang menegang.


Delano meletakan bibirnya di telinga gadis itu.


"Kamu mau menggodaku ya." bisik Delano.


Mikayla menggeleng tanpa suara.


"Tumben berpakaian seperti ini." Pandangan Delano kini telah turun ke dada Mikayla dan terus sampai ke pahanya karena memang rok yang sedang dipakai gadis itu terkesan sangat pendek. Kini salah satu tangan Delano telah meremas paha mulus itu dan menariknya keatas hingga rok Mikayla yang sudah pendek itu tambah naik lagi karena gerakan tangan Delano.


"Jangan salahkan aku jika aku tergoda." bisiknya lagi. "Jika tak ingin aku bersikap begini, berhentilah berpakaian seperti ini. Terlalu norak bagiku!"


Mikayla hanya mengangguk pelan dalam pelukan Delano. Entah mengapa Ia membiarkan Delano melakukan hal itu. Yang jelas, ia tanpa sadar mulai menikmati kenakalan Delano walaupun detakan jantungnya semakin keras terdengar ditelinganya sendiri.


"Maaf. Aku tak bermaksud..." ucapan Mikayla terputus oleh tangan Delano yang telah berada dibelakang lehernya. Tangan kekar itu membelai lembut tengkuknya dan tanpa disadari mulut Mikayla telah setengah terbuka karena mencoba menahan rasa aneh yang menjalar dari leher kesekujur tubuhnya.


Keduanya masih saling tatap. Kini tatapan Delano berubah sendu. Gairahnya seakan menghentikan akal sehatnya lagi ketika menatap wajah yang selalu muncul dalam mimpinya setiap malam. Tangannya perlahan menarik kepala gadis yang terlihat tenang namun sarat akan rasa gugup yang terpancar dimatanya.


Delano tak menghiraukan lagi apa penilaian Mikayla atas dirinya saat itu.


Mikayla memejamkan matanya ketika Delano menempelkan bibirnya ke mulut Mikayla yang masih setengah terbuka itu.


Mikayla tak berusaha menghentikan ******* lembut dibibirnya. Ia malahan mulai mengimbangi tarian bibir Delano dengan gairah yang sama.


Sebuah sosok anggun dengan wajah terkejut dan bingung tengah menatap kedua insan yang tanpa sadar masih saling mendekap.


"Celine." guman Delano. Nama itu tertahan dibibirnya yang masih basah dan kemerahan karena ciuman. Baik Delano dan Mikayla langsung tersadar dan saling melepaskan dekapan.


Mikayla mundur selangkah dan langsung merapikan rambut dan bajunya. Ia jadi salah tingkah ditatap wanita itu dengan tatapan tajam dan penuh tanda tanya.


Setelah merapikan jasnya, Delano kembali menatap Celine.


"Apa yang membawamu kemari?" ucap Delano dengan nada dingin. "Usahakan buat janji dulu jika ingin bertemu." terdengar ada ketegasan dikalimat terakhir Delano.


Celine menarik nafasnya. Ia sendiri kelihatan salah tingkah.


"Maaf. Aku sudah terbiasa muncul disini kapanpun aku mau. Jadi...aku benar-benar lupa."


Celine memasang senyum paling manis.


"Aku dengar dari Robert kamu telah menikah di Indonesia. Benarkah?" Tanya Celine sambil melirik pada sosok berbaju kuning yang kini telah melipat tangannya didepan dada sambil sedikit menunduk.


Delano mengangguk. Ia kemudian meraih tangan Mikayla dan menggenggamnya.

__ADS_1


"Perkenalkan, Mikayla. Istriku yang sudah kunikahi lebih dari tiga bulan terakhir ini."


Celine menatap Mikayla dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapan itu membuat Mikayla merasa tak nyaman.


"Maaf, mungkin kalian ingin membicarakan hal yang penting, aku sebaiknya keluar." ucap Mikayla melepaskan tangannya dari Delano.


"Aku diruangannya Robert jika kamu mencariku." ujar Mikayla pada Delano dan kemudian melangkah keluar dari ruangan itu.


Celine terus memandang Mikayla hingga gadis itu menghilang dibalik pintu.


"Seleramu boleh juga." ujar Celine sambil mendekati Delano.


"Ia kelihatannya masih sangat muda."


Delano beranjak ke meja kerjanya.


"Tolong katakan, apa yang membawamu kemari."


Celine tersenyum lagi. "Aku kangen kamu."


Delano seketika melonggarkan dasinya mendengar perkataan Celine.


"Please, urusan kita sudah lama selesai. Jangan berbicara seperti itu lagi." ucap Delano menghindari tatapan Celine.


"Jujurlah padaku. Apakah kamu benar-benar mencintai gadis itu? Hmm...aku belum yakin kamu telah melupakanku seutuhnya."


Mendengar ucapan Celine, Delano bangkit dari tempat duduknya.


"Kalau aku telah melupakanmu, memangnya kenapa, heh? Setelah penghianatanmu yang kesekian kalinya, sekarang kamu datang mengatakan hal itu padaku? Dengar Celine, aku sudah beristri dan aku tak akan pernah meninggalkannya hanya untuk kembali padamu. Camkan itu baik-baik!"


Celine menggeleng kuat-kuat. Ada rasa tak percaya terpancar di matanya mendengar penegasan Delano. Selama ini, walaupun mereka putus sambung, Delano selalu menerimanya kembali. Delano seakan-akan telah menjadi budak cinta yang akan selalu memaafkannya sefatal apapun kesalahan yang dibuatnya.


"Jika kamu telah selesai, pergilah dan jangan pernah muncul lagi disini. Maaf, aku harus menemani istriku makan siang." Delano membuka pintu ruangannya lebar-lebar dan mengisyaratkan agar wanita didepannya segera keluar.


Celine beranjak perlahan keluar dari situ dengan perasaan terluka.


Delano langsung membanting pintu dibelakangnya. Perasaannya jadi tak karu-karuan. Pikirnya, mengapa Celine muncul lagi di saat dirinya mulai melupakannya?


"Arrgh....." Delano meremas rambutnya. Ia berusaha menenangkan pikirannya sejenak sebelum akhirnya menjemput Mikayla untuk makan siang bersama.


# CELINE


__ADS_1


__ADS_2