
Sudah seminggu lebih Delano merasakan ada yang aneh pada diri Mikayla.
Mikayla lebih sedikit berbicara dan lebih banyak melamun. Kalaupun Delano berada didekatnya hanya untuk sekedar mencumbunya, Mikayla berusaha menolaknya secara halus.
Delano memandang foto istrinya yang diletakkannya diatas meja kerjanya. Ia semakin resah karena Mikayla tak kunjung berbagi perasaannya. Hati Delano dipenuhi tanda tanya. Pikirnya, ada apa dengan Mikayla? Mengapa Ia tak sehangat sebelumnya, bahkan bercumbu dan bermesraanpun ia berusaha menolak!
Delano menggigit ujung kukunya. Sejenak kemudian Ia berusaha kembali berkonsentrasi dengan pekerjaan di komputernya. Namun ia kembali termenung dan kemudian bertekad untuk membuat istrinya bicara padanya setelah pulang kerja nanti.
.
.
.
.
.
Waktu telah menunjukkan pukul enam sore ketika mobil Delano tiba di butik tempat istrinya bekerja.
Mikayla masuk kedalam mobil tanpa bicara sepatah katapun. Sepanjang perjalanan ia hanya memandang keluar jendela.
__ADS_1
Delano semakin resah dibuatnya.
"Honey, kita dinner diluar aja ya?" ucap Delano memecahkan kesunyian.
Mikayla tampak menggeleng tanpa mengalihkan tatapannya dari pemandangan diluar. "Aku lelah dan ingin pulang saja." ucapnya singkat.
Delano mengangguk dengan perasaan kecewa. Tapi ia tak bisa menolak keinginan istrinya yang tampak tidak bersemangat. Ia terus memacu mobilnya kearah rumah baru mereka yang baru ditempati selama sebulan terakhir.
Setelah keduanya selesai membersihkan diri dan menikmati makan malam dalam diam, Mikayla langsung menuju kamar untuk tidur.
Delano mengikuti Mikayla ke tempat tidur. Nampak istrinya telah memejamkan mata tapi kelihatan belum terlelap.
Delano mendekatkan dirinya dan mencoba merangkul tubuh yang terasa kaku itu.
Mikayla membuka matanya. Sejenak kemudian Ia menarik nafas panjang.
Ia benar-benar tak ingin memulai semuanya. Yang Ia inginkan adalah Delano terbuka dan jujur.
Mikayla mencoba menatap wajah suaminya, ia mencoba mencari sesuatu disana tapi yang didapatinya hanyalah tatapan ketulusan.
"Delan, apakah kamu benar-benar mengharapkan anak dariku?"
__ADS_1
Delano tampak tersenyum dan mulai memahami dari mana keresahan istrinya dimulai.
"Mengapa kamu menyiksa diri dengan semua itu? Anak itu hanyalah bonus dari Tuhan. Dengan atau tanpa anak, aku akan tetap bersamamu!"
Mikayla masih berusaha mencari kesungguhan di mata Delano. Ia masih belum yakin bila teringat lagi perkataan Delano dalam video itu.
Melihat reaksi istrinya yang masih dingin, Delano mengusap wajah Mikayla.
"Kalau kamu mau kita bisa ikut program bayi tabung. Kalaupun gagal, aku tidak akan segan untuk terus mencobanya berapapun biayanya! Asalkan kamu bahagia."
Mikayla tersenyum sekilas. Pikirnya, pria ini benar-benar membuatnya semakin bingung! Apakah ia memang tidak tahu dengan apa yang telah dilakukannya dibelakang atau dia hanya berpura-pura baik padanya?
"Sudahlah....jangan dipikirkan." ujar Mikayla sambil membalikkan badannya kesamping. "Tidurlah, besok kita berdua harus kerja."
Delano langsung menahan tubuh Mikayla manakala ia mencoba untuk membelakangi dirinya.
"Jangan abaikan aku seperti itu!" Ucap Delano sedikit tegas. "Sudah seminggu lebih kamu bersikap dingin padaku dan aku sudah berusaha untuk sabar. Tapi sekarang, suka atau tidak, aku ingin mencumbumu!"
Mikayla hanya terpaku mendengar perkataan Delano, ia ingin menolak tapi Delano tak menghiraukan itu lagi.
Dengan usaha sedikit keras, Delano mulai mencumbu makhluk cantik dibawahnya. Mikayla tak membalas ciuman hangatnya tapi Delano tak peduli lagi.
__ADS_1
Hanya ada kepasrahan ditubuh Mikayla ketika Delano mulai melepaskan semua yang melekat ditubuhnya dan perlahan-lahan memasuki dirinya dengan gairah yang sudah beberapa hari dipendamnya.
Mikayla hanya bisa menjerit dalam hatinya, berharap adegan itu segera selesai dalam waktu singkat!