Menikahi Gadis Berandal

Menikahi Gadis Berandal
Percakapan Pagi


__ADS_3

Mikayla tersentak kaget dan langsung terduduk ketika cahaya matahari menusuk matanya. "Hape....hapeku mana? Gawat...bisa terlambat aku." Gumamnya dalam kepanikan.


Namun beberapa detik kemudian Ia jatuh lunglai diatas bantalnya. Tubuhnya terasa sakit disana sini. Terlebih tubuh bagian bawahnya yang masih terasa sedikit nyeri.


Mikayla berusaha membesarkan matanya agar kesadarannya semakin sempurna. Ia baru tersadar kalau Ia masih polos tanpa sehelai benangpun. Hanya selimut tebal yang menutupi badannya.


Mikayla menatap Delano yang terlihat sangat pulas. Walaupun dirinya telah bergerak sana sini tapi pria itu tidak terbangun juga, padahal jam segini Delano biasanya sudah selesai berpakaian dan siap untuk sarapan.


Mikayla meraba-raba meja kecil disampingnya. Rupanya hapenya telah jatuh keatas karpet. Ia memungut hape itu, melihat hari dan jam lalu kembali berbaring. Sedetik kemudian desahan kelegaan keluar dari mulutnya.


"Hari sabtu rupanya. Syukurlah." ucapnya pelan.


"Honey, kalau bukan hari sabtu emangnya kenapa?" ucap Delano tanpa membuka matanya. Ternyata Delano telah bangun dan merasakan kepanikan istrinya ketika terbangun.


"Bukan apa-apa kok." ucap Mikayla singkat. Kini tangan Delano telah mendekapnya erat sehingga wajah Mikayla telah menempel didadanya.


"Kenapa gak jadi bangun?" Tanya Delano dengan tangan satunya yang mulai membelai punggung gadis dalam dekapannya.


"Kepalaku masih sedikit pusing. Kamu gak memberiku kesempatan beristirahat hingga subuh." ucap Mikayla dengan polosnya.


Delano tersenyum geli.


"Aku kan sudah bilang kalau sejak semalam dan seterusnya aku akan terus menuntut untuk hal itu. Aku sudah merasa kecanduan sejak tadi malam."


Mikayla mengigit dada Delano hingga pria itu meringis.


"Rasain kamu." ucap Mikayla tersenyum nakal.


Delano melonggarkan pelukannya dan menatap wajah cantik di depannya.


"Aku akan menghukummu!" ujar Delano dengan senyum menyeringai. Ia menarik selimut hingga keatas kepala mereka berdua dan langsung menciumi Mikayla bertubi-tubi.

__ADS_1


"Delan.. tolong hentikan dulu.... please! Aku mau bilang sesuatu." suara Mikayla terdengar memelas diantara bibir Delano yang sedang mengecapnya dengan buas.


Delano berhenti sejenak kemudian membuka selimut tersebut. Nampak Mikayla berusaha menarik nafas untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


Delano tersenyum geli melihat Mikayla yang hampir kehabisan nafas karena ulahnya.


"Honey, kamu mau bilang apa?"


Mikayla menatap wajah Delano diatasnya.


"Aku mau bilang kalau aku sudah bekerja."


"What? tanpa minta izin dulu padaku?" protes Delano.


"Kamu sih, seperti gak peduli lagi padaku sejak dikunjungi Celine." Mikayla balas protes.


Delano membelai pipi mulus itu.


"Aku gak marah kok. Tapi, kamu kerja dimana? Sebagai apa? Aku gak mau kalau kamu kerja di bar atau club malam."


Mendengar nama Scott keluar dari bibir Mikayla, air muka Delano langsung berubah dingin. Mikayla menyadari hal itu.


"Come on, Love. Jangan ngambek gitu dong. Aku benar-benar bosan jika kamu pergi kerja. Aku gak mungkin gangguin Leony terus. Lagian, antara Scott dan aku gak ada apa-apanya selain sahabat yang saling menolong. Aku yang mengurus sendiri visa kerjaku." Mikayla berusaha meyakinkan sosok diatasnya yang kini telah duduk bersandar dengan wajah datarnya.


"Percaya padaku! Aku akan terus menjaga ikatan pernikahan kita selama kamu setia padaku."


Delano yang mendengar ucapan Mikayla langsung menatap gadis itu dan berusaha tersenyum.


"Honey, aku takut kehilanganmu. Sudah cukup aku selalu gagal dalam percintaanku sebelum menikah denganmu. Mungkin aku....masih trauma."


Mikayla dapat merasakan perasaan Delano dari nada bicaranya. Tampak dimatanya ada sisa luka dibalut kekhawatiran karena selalu dikhianati perempuan bernama Celine berulang kali.

__ADS_1


Mikayla bangkit dan memeluk Delano. Ia melekatkan wajahnya ke wajah suaminya.


"Sayang, sejak tadi malam dan seterusnya, aku hanya milikmu seutuhnya. Aku tak bisa lagi berpaling darimu." suara Mikayla terdengar lembut.


Delano menangkupkan kedua telapak tangannya ke pipi gadis itu.


"Aku telah jatuh cinta padamu terlalu dalam hingga semua jejak cinta dimasa laluku bisa terhapus dalam waktu singkat!"


Mikayla mengecup lembut bibir Delano.


"Aku masih ragu dengan ucapanmu ..." ucap Mikayla tanpa menjauhkan wajahnya.


Delano balas menyesap bibir merah itu yang sudah bagaikan candu baginya.


"Mengapa ragu?"


"Karena aku tahu aku bukan tipe wanita impianmu." bisik Mikayla.


Delano tersenyum kecil dan mulai membelai tubuh glowing itu.


"Aku tak peduli lagi kamu wanita tipeku atau bukan. Itu tak penting lagi bagiku sekarang. Yang jelas, pesonamu sudah menjeratku hingga aku bisa melupakan luka di masa laluku." Delano menarik nafasnya.


"Ini salahmu mau menikah denganku. Aku menikmati denganmu apa adanya. Kamu gadis berandalku sekaligus kucing liar kesayanganku!" Delano meremas tengkuk Mikayla yang wajahnya kini memerah. Tanpa berkata-kata lagi Ia telah merebahkan gadis itu terlentang dibawahnya.


"Dan sekarang, aku akan melanjutkan hukumanku yang tertunda tadi."


Kehangatan gairah cinta kembali memenuhi kamar itu. Pergulatan ranjang di pagi itu masih sama panasnya dengan semalam.


Entah berapa jam yang mereka habiskan pagi itu hingga perut keduanya mengeluarkan suara rintihan karena telah lama kosong dan minta segera diisi. Keduanya baru tersadar dengan senyum bahagia setelah jam makan siang hampir berakhir.


****************************************

__ADS_1


Guys, maaf, selow update dulu nih ya...ide Author tiba-tiba kering ditengah jalan padahal ending dari ceritanya udah lama di setting 🤔🤔🤔


Silahkan kalian koment2 aja dulu, karena biasanya dari koment2 kalian Author bisa dapat ide ☺️☺️☺️ Jangan lupa likenya ya 🙏


__ADS_2