
Mikayla masih gak percaya jika dirinya ternyata mampu meraih sebuah pencapaian dalam sejarah hidupnya. Walaupun dengan susah payah menyelesaikan skripsinya, ia lega karena hari wisudanya tiba juga.
Mikayla sangat bahagia mendapat ucapan kelulusan dari teman-teman segengnya termasuk Tommy yang membawakannya seikat bunga seusai upacara wisuda.
Delano yang tak pernah menjauh dari sisi Mikayla merasa sedikit kesal dengan perlakuan Tommy terhadap istrinya. Cowok muda itu kelihatan tak sungkan menunjukkan perhatiannya pada Mikayla. Malahan kehadiran Delano hampir-hampir tidak dianggapnya. Tommy tak jemu-jemu mengajak Mikayla berselfie ria beberapa kali dengan segala macam pose yang membuat Delano pengen muntah saja. Baginya Tommy tak lebih seperti anak anjing yang baru menemukan tulang kesayangannya yang sudah lama hilang terkubur.
"Maaf, sudah saatnya kami harus pulang." Ucap Delano dingin sambil meraih tangan Mikayla menjauh dari Tommy.
Tommy hanya bisa tersenyum kecut menyaksikan Mikayla yang hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Maaf ya Tom, aku harus pergi."
Tommy hanya membalas lambaian itu dengan wajah kecewa. Hatinya tetap menyangkali bahwa gadis pujaannya telah menjadi milik sah lelaki lain.
.
.
.
.
Didalam mobil Mikayla berusaha membebaskan rambutnya dari segala macam asesoris yang dipasang oleh juru rias sewaktu mendandaninya. Mikayla membiarkan rambut panjangnya tergerai karena Ia paling tidak suka rambutnya diikat.
Delano yang sedari tadi memperhatikannya tersenyum hangat sambil meraih seikat bunga yang sedari tadi hanya ditaruh di jok belakang mobilnya.
__ADS_1
"Selamat ya gadis berandalku. Akhirnya kamu lulus juga." ucap Delano sambil menyerahkan bunga tersebut pada Mikayla.
Mikayla tersenyum bahagia. Walau ia tidak terlalu menyukai bunga, tapi pemberian Delano baginya amat istimewa. Yang membuat Mikayla senang adalah Delano begitu sabar menemaninya kesalon dan juga mengikuti upacara wisudanya.
"Makasih ya. Bunganya harum dan cantik." kata Mikayla memasang senyum semanis mungkin.
Delano balas tersenyum. "Kita makan-makan yuk. Orang tua kita sudah nungguin kita di restoran."
"Ayo." balas Mikayla singkat sambil memeluk bunga pemberian Delano dan menciumi aromanya.
Delano memacu mobilnya kearah sebuah kawasan restoran.
Mikayla hanya mengangguk tanpa menghentikan aksinya menciumi bunga-bunga didepannya.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, mobil mereka tiba diparkiran sebuah restoran besar dan ternama.
Baik Mikayla dan Delano disambut oleh orang tua mereka termasuk Delon yang ikutan juga saat itu. Ia menyalami Mikayla dan mengucapkan selamat.
"Selamat Kayla. Semoga aku segera menyusul kamu." ucap Delon sambil merangkul Mikayla sesaat dan bercipika cipiki.
"Makasih Delon. Aku harap kamu juga bisa segera menyelesaikan skripsimu." ujar Mikayla dengan sebuah tepukan dipundak Delon.
Setelah semuanya mengucapkan selamat pada Mikayla, merekapun mulai menikmati sajian yang sudah disiapkan.
__ADS_1
"Oh iya, kalian nantinya di Amerika tinggal di apartemen atau rumah?" tanya Nyonya Anggita pada kedua anaknya.
"Untuk sementara diapartemenku dulu, Ma. Kami akan mencari rumah yang sesuai dengan selera kami berdua." ucap Delano disela-sela makannya.
Mikayla yang tidak begitu menghiraukan dimana nantinya Ia akan tinggal, tidak begitu mengikuti pembicaraan orang tua mereka.
Nyonya Davina tersenyum menatap Mikayla yang sedari tadi hanya sibuk dengan hapenya.
"Usahakan nanti kalau memilih rumah, minimal memiliki lima atau enam kamar tidur supaya kalau nanti kalian sudah memiliki anak-anak, mereka bisa punya kamar masing-masing. Kamar tamu harus tetap ada jika sewaktu-waktu kami datang mengunjungi kalian."
Mikayla yang mendengar ucapan Nyonya Davina langsung terbatuk batuk karena kaget mendengar kata 'memiliki anak' yang keluar dengan mulusnya dari bibir Nyonya Davina.
Delano langsung menepuk-nepuk pundak Mikayla. Ia berusaha menahan tawa gelinya demi melihat respon Mikayla terhadap ucapan ibunya.
Dalam hati Delano bergumam, "Punya anak? Bagaimana mau punya anak? Ciuman saja setelah menikah belum pernah!"
Baik Mikayla maupun Delano saling menatap dengan wajah yang saling tersenyum geli. Nyonya Davina yang sedari tadi memperhatikan respon anak-anaknya merasa kalau dua orang itu tidak serius menanggapinya.
"Delano, umur kamu udah tiga puluh. Dan kamu Kayla, jangan pernah mau jika Delan menyuruhmu menunda kehamilan karena umurmu bukan semakin muda melainkan semakin tua,"
Delano dan Mikayla hanya mengangguk sambil pura-pura fokus pada makanan mereka.
Selama ini mereka berdua mencoba untuk meminimalisir perselisihan diantara mereka. Semua berjalan lancar dan itu dikarenakan mereka tak pernah melibatkan perasaan dalam hubungan pernikahan mereka.
Bagi Delano maupun Mikayla minimnya perselisihan diantara mereka dikarenakan oleh tak adanya perasaan cinta yang tumbuh. Mereka sangat menjaga privasi masing-masing, termasuk urusan jatuh cinta dengan pihak lain!
__ADS_1