
Mikayla sangat excited seminggu terakhir ini karena akhirnya ia bisa mulai bekerja disebuah butik yang hanya berjarak beberapa kilometer dari tempatnya tinggal.
Visa kerjanya juga yang diurusnya sendiri tanpa sepengetahuan Delano telah disetujui pihak Kedubes hanya dalam beberapa hari. Pikirnya, mungkin karena Ia telah menetap di negara itu sehingga Ia bisa mendapatkan visa tersebut dengan mudah.
Mikayla beranjak ke tempat kerjanya setelah Delano berangkat ke kantornya. Ia memutuskan untuk tidak memberitahukan Delano kalau Ia telah mendapatkan pekerjaan.
Baginya, Delano sudah tak peduli dengan apapun yang Ia lakukan, dan ia merasa seperti menjadi wanita bebas kembali tanpa ikatan apapun.
Pagi itu Scott menawarkan tumpangan pada Mikayla. Scott membawa motor besarnya berwarna biru tua dengan sebuah helm cadangan untuk dipakai Mikayla.
Mikayla tidak memakai rok ataupun casual dress seperti yang ia pakai dihari-hari sebelumnya karena Ia tahu Scott akan menjemputnya dengan motor.
Ada rasa bangga tersendiri yang dirasakan Mikayla. Ternyata Ia bisa juga memperoleh pekerjaan dan berusaha perlahan untuk tidak begitu bergantung pada kartu-kartu debit dan kredit pemberian Delano.
Mikayla tersenyum begitu Scott menghentikan motornya tepat dipinggir jalan tempat ia menunggu.
"Morning sweetie. How are you." ucap Scott sambil menyerahkan sebuah helm pada Mikayla.
"Never been better. Thanks." ucap Mikayla sambil merapikan rambutnya kebelakang bersiap memakai helm.
Tak jauh dari tempat itu, ternyata mobil Delano yang hendak memasuki kembali kompleks apartemennya karena ada dokumen yang kelupaan sedang mengamati Mikayla yang sedang memasang helm.
__ADS_1
Tak sulit bagi Delano untuk mengenali sosok istrinya. Wajah khas Asianya dengan rambut panjang yang selalu dibiarkan tergerai membuat Delano mudah untuk menyimpulkan bahwa gadis yang sedang berbicara dengan rider itu adalah Mikayla, istrinya!
Rahang Delano mengeras, dadanya seketika naik turun dengan cepat dikarenakan degupan jantungnya yang mulai tidak beraturan. Matanya berubah sangar. Ada rasa panas yang menjalar dalam pikiran dan juga hatinya melihat pemandangan itu.
Delano terus mengamati Mikayla yang naik keatas motor biru tua itu dan melingkarkan kedua tangannya pada pengemudi yang wajahnya tertutup oleh helm hitam. Dari gelagatnya Delano tahu kalau pengemudi yang sedang dipeluk Mikayla dari belakang adalah seorang pria.
Delano seketika mengurungkan niatnya kembali ke apartemen. Ia memutuskan mengikuti kedua orang tersebut.
Beberapa menit kemudian, motor itu berhenti di depan sebuah butik yang belum di buka. Tampak Mikayla turun dari motor dan membuka helmnya serta menyerahkannya pada lelaki itu. Mereka berbicara sejenak.
Delano menikmati pemandangan itu dengan perasaan yang hendak meledak manakala melihat Mikayla yang selalu terlihat tertawa berkali-kali. Gadis itu benar-benar menikmati pembicaraan itu. Dari gelagat dua orang tersebut Delano dapat menilai bahwa mereka telah saling mengenal dengan baik.
Mikayla terlihat memasuki bangunan butik itu lewat sebuah pintu samping yang tidak terkunci. Setelah tubuhnya menghilang dibalik pintu itu, barulah pria diatas motor itu bergerak meninggalkan tempat itu.
Motor itu tampak berhenti disebuah cafe yang masih tutup dan sepi.
Delano mengernyitkan dahinya. Tempat itu tak asing baginya karena Ia pernah mampir sekali atau duakali.
Delano turun dari mobilnya dengan akal sehat yang tidak lagi pada tempatnya. Ia benar-benar telihat berang dan kalut. Tangannya dikepalkan kuat-kuat demi menahan amarah yang terasa sedang membakar dadanya.
Tanpa melepaskan kacamata hitamnya, Delano berjalan cepat mendekati pria yang telah membuka helmnya dan sedang memarkirkan motornya.
__ADS_1
Pria berambut pirang itu terkejut dan oleng kesamping motornya ketika tiba-tiba sebuah tinju yang keras mendarat di pipi kirinya.
Pria itu mencoba bertahan agar tidak jatuh. Ia berusaha meraih kesadaran sepenuhnya. Sambil menahan rahang dan juga pipinya yang terasa nyeri, Scott melayangkan pandangannya pada Delano yang postur tubuhnya jauh menjulang dan padat dibanding dirinya.
"Hey, kid. Suppose it's a warning for you! Don't you ever dare to see my wife again!"
Delano berucap dengan nada marah yang berusaha ditahannya.
Dahi Scott mengernyit.
"Hey, man. Who are you? What do you mean?"
Delano tersenyum sinis. "Don't pretend that you don't know about Mikayla. She is my dearest wife. Remember, this is gonna be the last time Ia saw you with her!"
Setelah berucap demikian Delano kembali ke mobilnya dan segera memacunya kembali ke Baverly Hills. Ada perasaan puas ketika meninju wajah anak muda itu. Ia benar-benar telah kehilangan akal sehatnya hari itu.
Scott yang masih bingung, memijat-mijat pipi dan rahangnya yang terasa sangat sakit. Wajah putih kemerahaannya kini berubah biru, hijau keunguan.
Pikirnya, apakah orang tadi adalah suami Mikayla? Mikayla memang pernah mengatakan kalau Ia telah menikah, tapi Mikayla tidak pernah bercerita tentang suaminya karena Ia memang kelihatan tidak pernah ingin berbicara tentang hal itu.
Scott menarik nafas panjang. Ia bisa merasakan kemarahan lelaki itu dari pukulan yang sempat membuatnya berkunang.
__ADS_1
Scott memaki dirinya. Ia kemudian memutuskan untuk tidak lagi menghubungi Mikayla atau mengajaknya jalan-jalan untuk sementara waktu.