
Hari-hari yang dilalui Mikayla dan Delano berubah indah. Tak Ada lagi rasa kaku ataupun sungkan diantara mereka.
Bagi Mikayla, ia benar-benar merasa beruntung menjadi istri Delano. Delano sangat memanjakannya dengan berbagai cara semenjak mereka benar-benar menjalani hubungan sebagai suami istri yang sebenar-benarnya.
Kini Mikayla merasa orang tuanya benar dalam hal memilih jodoh yang umurnya terpaut lumayan jauh darinya karena Delano sangat dewasa dalam berbagai hal.
Begitu pula bagi Delano, perubahan drastis dalam hidupnya sangat dirasakan Robert maupun karyawannya. Bagi Robert, Big bossnya kayak orang yang baru jatuh cinta. Terkadang suka senyum sendiri dan melamun sesaat sambil memandangi foto istrinya yang diletakan diatas meja kerjanya.
Pagi itu Delano datang sedikit terlambat dan itu bukanlah kebiasaannya. Delano datang dengan wajah berseri-seri yang membuatnya kelihatan tampak jauh lebih tampan dari hari-hari sebelumnya.
"Robert, tolong pesankan seikat mawar pink dan kirimkan ke alamat tempat kerja istriku." ucap Delano pada Robert sambil memberikan alamat tempat kerja Mikayla. "Ini kartunya, tolong selipkan didalam bunganya ya."
Robert tersenyum dan mengangguk penuh tanda tanya sambil meraih kertas alamat dan kartu yang disodorkan bossnya. Pikirnya, Big bossnya sudah beberapa bulan nikah tapi baru beberapa hari ini Ia kelihatan seperti orang yang benar-benar baru jatuh cinta pada istrinya. Yang lucunya lagi, Robert sering sekali mendengar Bossnya menelpon sang istri hanya untuk menanyakan apa ia sudah makan atau belum. Atau hanya sekedar mengucapkan 'I love you, Honey' atau 'I miss you, now."
Robert bergegas untuk memenuhi permintaan Delano walaupun pikirannya masih penasaran dengan sikap bossnya yang tiba-tiba berubah sangat romantis dan sweet.
.
.
.
.
Mikayla memeriksa kembali laporan pengiriman pakaian yang sudah selesai dikerjakannya. Ia meluruskan badannya dengan perasaan lega ketika sebuah ketukan terdengar.
"Come in, please." kata Mikayla. Seorang office boy masuk dengan seikat bunga ditangannya.
"Excuse me, Ms. Prasetya. There's a bouquet of roses for you. Where should I put it?"
Mikayla menatap mawar cantik ditangan office boy tersebut. Ini sudah yang kesekian kalinya ia mendapat kiriman bunga dan ia tahu siapa yang mengirimkannya. Siapa lagi kalau bukan suaminya!
"Just put it in a big vase over there. Thank you."
Office boy tersebut meletakan bunga tersebut di sebuah vas bunga besar kemudian keluar dari ruangan itu.
Mikayla beranjak ke tempat dimana bunga itu diletakkan. Ia mencium keharumannya kemudian membaca kartu yang terselip disitu. Senyum manis tersungging dibibirnya.
__ADS_1
"To the love of my life,
I love u so much and I always will."
Delano
Mikayla jadi senyum-senyum sendiri. Mereka berdua benar-benar di mabuk cinta. Mikayla baru merasakan yang namanya pacaran setelah menikah.
Ia kemudian memutuskan untuk pulang tepat waktu nantinya agar bisa menemui Delano dikantornya untuk sekedar memberi kejutan.
.
.
.
.
Waktu telah menunjukkan pukul lima sore dan Mikayla bergegas untuk pulang. Tak lupa ia pamit dahulu pada rekan-rekan sekerjanya yang masih suka berlama-lama di butik tersebut.
Mikayla menyempatkan membeli dua kopi Creamy Latte kesukaan Delano dan dirinya beserta dua potong strawberry cheese cake untuk dimakan bersama sore itu.
Sebuah ketukan lembut terdengar di pintu ketika Delano sedang memakai blazernya dengan terburu-buru.
Delano langsung membuka pintu tersebut karena Ia memang sudah berdiri didekat situ hendak keluar.
"Hi, Sayang..." ucap makhluk cantik yang sedang tersenyum didepan Delano yang kelihatan terkejut namun bahagia.
Delano yang tersenyum dengan mata berbinar langsung menarik tangan istrinya dan mengunci pintu dibelakangnya.
"Honey, aku baru mau menjemputmu tapi aku rupanya kalah cepat darimu."
Mikayla tersenyum sambil mengangkat bungkusan ditangannya.
"Nih..aku bawakan kopi kesukaan kita dan juga camilan sore. Aku mau menghabiskan sore ini denganmu disini."
Delano meraih bungkusan tersebut dari tangan Mikayla dan meletakkannya diatas meja.
__ADS_1
"Thanks, honey. Tapi sebelum itu....aku mau makan camilan yang satu ini dulu."
Delano meraih wajah cantik didepannya dan mencium mesra bibir merah itu. Mikayla melingkarkan kedua tangannya dipinggang Delano sambil membalas ciuman itu. Sesekali Delano menggigit bibir itu dengan gemas. Kini tangan kekarnya mulai merambat kebagian tubuh lain istrinya.
Mikayla menahan gerakan tangan Delano yang mulai nakal. "Minum kopinya dulu...ntar keburu dingin." ucap Mikayla disela-sela ciuman Delano.
Delano tersenyum sesaat dan menghentikan aktifitasnya. "Kalau sudah menciummu pasti aku pengen yang lebih lagi." kata Delano sambil mengedipkan sebelah matanya.
Ia kemudian menuntun Mikayla ke meja kerjanya. "Kita minum kopinya disini aja."
Mikayla tampak sedikit bingung. "Kenapa gak di sofa aja. Disini hanya ada satu tempat duduk."
Delano tersenyum. Ia duduk dikursi kebesarannya kemudian menarik tubuh Mikayla untuk duduk di pangkuannya.
"Aku mau duduk seperti ini biar lengket terus sama istriku."
Mikayla tersenyum geli dengan perlakuan Delano tapi dia sangat menikmati posisi duduk diatas pangkuan suaminya.
Delano melingkarkan salah satu tangannya dipinggang Mikayla sedang tangan satunya memegang gelas kopi.
Mikayla mengambil sepotong cheese cake kemudian menyuapi Delano. Delano kemudian balas menyuapi istrinya.
"Sayang, kamu terlalu memanjakanku." Ucap Mikayla sambil meneguk kopi ditangannya.
Delano menempelkan bibirnya ke pipi Mikayla. "Aku suami posesif dan semoga kamu gak keberatan."
Keduanya saling menatap mesra dan tersenyum.
Sedetik kemudian Delano meraih gelas kopi dari tangan istrinya serta menjauhkan semuanya. Mikayla yang kebingungan hanya bisa memandang dengan wajah terperangah.
"Lho...kok berhenti ngemilnya?"
Delano tersenyum nakal. Ia kemudian menghadapkan tubuh Mikayla kearahnya.
"Sebentar aja dilanjutkan, aku gak tahan ingin mencumbumu." ucap Delano seraya melancarkan aksi bibirnya pada Mikayla.
Mikayla sedikit kewalahan, "Hmm...sayang...tapi ini di kantor." ucapnya disela-sela ciuman Delano yang semakin bergairah.
__ADS_1
Delano berhenti sejenak dan menatap wajah istrinya dengan mesra. "Siapa yang suruh kamu muncul di kantorku saat jam kerja telah usai. Aku bebas berbuat apa saja padamu sekarang."
Ucapan Delano disambut tawa geli Mikayla. Sesaat kemudian keduanya telah hanyut dalam rengkuhan gairah asmara yang telah membuat mereka lupa diri hingga langit malam telah tiba menggantikan warna jingga yang kini telah digantikan bintang-bintang.