
Pria paruh baya itu mencoba mempertajam pandangannya dari balik sebuah jendela kaca kecil yg menyatu dengan pintu. Ia mencoba memperhatikan sosok gadis yang sedang duduk di sebuah tempat tidur pasien dari luar ruangan dimana gadis itu berada. Gadis itu tak bergeming dengan tatapan kosong. Masih nampak beberapa bekas luka lecet yang telah sembuh ditangan dan wajahnya.
"Dokter Gerald, pasien anda telah siuman sejak tadi subuh. Sudah sebulan lebih ia mengalami koma. Saya pikir ia tak akan pernah bangun lagi. Benar-benar mujizat!" ucap seorang perawat perempuan pada pria paruh baya itu.
Pria yang dikenal sebagai Dokter Gerald Armando itu mengangguk pelan.
"Apa reaksinya ketika sadar?"
Perawat itu menggeleng pelan mendengar pertanyaan Dokter Gerald.
"Sampai saat ini Ia belum bicara sepatah katapun. Ia kelihatan linglung sewaktu kami menanyakan namanya. Hanya bola matanya yang sekali-kali berpindah-pindah tapi terkesan kosong."
Dokter Gerald menarik nafas dengan berat. "Gadis yang malang. Sungguh malang!"
Perawat tersebut menunjukkan mimik simpati pada Dokter Gerald.
"Sampai saat ini belum ada keluarga yang mengklaimnya. Tak seorangpun mengenalnya. Dan yang paling menyedihkan, gadis itu mengalami amnesia berat sehingga sulit untuk mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Walaupun operasi untuk mengeluarkan penyumbatan diotaknya berhasil dengan sangat baik, tapi pemulihan memorinya tidak berjalan sesuai prediksi."
__ADS_1
Mendengar hal itu, Dokter Gerald mengusap wajahnya. Bayangan almarhum putrinya kembali terbayang dalam ingatannya. Kejadian tujuh tahun yang lalu ketika Ia harus kehilangan putrinya dalam sebuah kecelakaan mobil. Jika dapat Ia perkirakan, dan seandainya putrinya masih hidup pasti umurnya sama dengan gadis tanpa Identitas itu.
Mata Dokter Gerald sedikit memerah. Masih jelas dalam ingatannya sekitar sebulan yang lalu. Saat itu Ia dijemput sopirnya dari bandara setelah seminggu mengikuti seminar kesehatan di Jepang.
Dalam perjalan pulang, ia beriringan dengan sebuah mobil yang sama-sama dari bandara. Pada hari naas itu, mobil yang membawa gadis itu dari bandara mengalami kecelakaan tragis karena bertabrakan dengan sebuah bis yang remnya telah blong. Kejadian itu sangat cepat dan jalanan menjadi macet. Mobil yang ditumpangi gadis itu terbalik sehingga masyarakat yang berkumpul saat itu hendak menolong sopir dan juga gadis itu saling berdesak-desakan.
Dokter Gerald yang juga turun dari mobilnya mencoba mengamati dari jarak jauh. Diantara orang-orang yang berdesakan itu ada yang memanfaatkan keadaan dengan mengambil beberapa barang-barang berharga gadis itu termasuk tas yang mungkin berisi kartu-kartu yang dapat menunjukkan identitas gadis itu.
Sebagai seorang dokter, Dokter Gerald langsung menelpon polisi dan juga rumah sakit setempat. Nyawa sang sopir tak dapat diselamatkan, sedangkan gadis itu mengalami koma karena benturan dikepalanya.
Perawat tersebut mengangguk dan membuka pintu didepan mereka perlahan. "Silahkan dokter."
Dokter Gerald berjalan masuk dan berdiri tepat didepan gadis yang diam bagaikan robot yang kehabisan baterei.
Dokter itu merogoh sebuah senter kecil dari sakunya dan mencoba memeriksa mata gadis itu satu persatu. Cahaya yang disorotkan ke mata gadis itu membuat gadis itu memicingkan kelopak matanya berusaha menghindari cahaya yang menyilaukan penglihatannya.
"Bagus." Ucap Dokter Gerald. Ia nampak sehat dan sesuai hasil pemeriksaan terakhir, tanda-tanda vitalnya dalam keadaan baik. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Beberapa hari lagi ia boleh pulang."
__ADS_1
Perawat yang masih mendampingi dokter tersebut kelihatan bingung.
"Tapi dok, mau diantar pulang kemana? Tak seorangpun mengenalnya dan ia juga tak tahu apa-apa tentang dirinya."
Dokter Gerald menepuk pundak perawat itu seraya tersenyum.
"Dia akan pulang ke rumahku. Aku dan istriku yang akan merawatnya sampai memorinya kembali pulih atau sampai keluarganya menemukannya."
Mendengar ucapan Dokter Gerald, perawat itu tersenyum sambil mengangguk. "Dokter adalah malaikat penolong baginya. Semoga Tuhan membalas segala kebaikan dokter."
Dokter Gerald tersenyum lembut. Ia kemudian mengusap kepala gadis yang masih diam terpaku itu.
"Selama ia masih tak dapat mengingat siapa namanya, kita panggil saja dia Kayl. Nama kecil almarhum putriku."
Perawat itu tersenyum hangat.
"Kayl, nama yang sangat imut. Seimut dan secantik wajah gadis malang ini!"
__ADS_1