Menikahi Gadis Berandal

Menikahi Gadis Berandal
Keputusan Besar


__ADS_3

(Setahun kemudian)


Delano tersenyum kecil menatap semua dokumen-dokumen penting yang telah rampung selama dua bulan terakhir.


Matanya kemudian menatap sendu pada foto wanita cantik yang berada diatas meja kerjanya. Ada rasa ngilu yang masih terus mengiris dadanya setiap kali Ia memandang foto mendiang istrinya.


Hari itu adalah peringatan setahun kepergian Mikayla setelah kecelakaan pesawat yang merenggut nyawa istri tercintanya.


Delano menyentuh mawar merah yang menebarkan keharuman dalam ruang kerjanya. Matanya memerah menahan perasaan sakit akan kenangan indah bersama Mikayla yang muncul dalam benaknya.


"Honey, aku sungguh merindukanmu. Aku kangen sikap pemberontakmu tapi juga kelembutanmu saat kita bercumbu."


Ada air mata yang jatuh tepat diatas bunga mawar yang berada diatas meja kerjanya. Bunga yang dibelinya untuk memperingati setahun kepergian istrinya.


Sampai saat ini Delano tak pernah tahu kekuatan dari mana yang masih membuatnya bertahan hidup sejak kehilangan Mikayla.


Mungkinkah kenangan indah yang singkat itu? Atau wajah manisnya yang selalu menghiasi mimpi-mimpinya sehingga tetap kuat menjalani hidup? Pikir Delano.

__ADS_1


Sebuah ketukan pelan terdengar Dan pintu terbuka. Robert masuk dengan sebuah berkas ditangannya.


"Pak, semua sudah beres. Pembeli rumah itu sudah siap untuk transaksi jual belinya. Notaris juga sudah ada disana. Bapak siap berangkat sekarang?"


Delano menarik nafasnya dengan berat sambil berusaha tersenyum dan mengangguk. "Lima menit lagi aku turun."


Robert kemudian keluar dan menutup pintu.


Delano kembali memandang foto Mikayla dan tersenyum dipaksa.


"Maafkan aku, honey. Aku tak dapat terus berada disana dan meratapi kenangan kita siang dan malam. Aku terpaksa menjualnya. Percayalah, bukan berarti aku melakukannya untuk melupakanmu. Tidak! Tapi aku percaya kalau kamu juga tak ingin aku terus-terusan hidup dalam kesedihan, bukan?"


.


.


.

__ADS_1


.


Delano menatap rumah yang pernah ditinggalinya bersama Mikayla untuk yang terakhir kalinya dengan tatapan sedih. Hatinya telah mantap melepaskan semua kenangan indah bersama Mikayla dirumah itu.


Robert menatap bossnya dengan perasaan simpati, seolah dapat merasakan apa yang sedang terjadi dalam hati dan pikiran bossnya.


"Pak kita pulang sekarang? Masih Ada beberapa hal yang harus diatur dan dikemas hari ini sebelum Bapak kembali ke Indonesia besok."


Ucapan Robert menyadarkan Delano dari lamunannya.


Ia kemudian tersenyum dan masuk kedalam mobil. Mobilpun bergerak meninggalkan halaman rumah mewah itu. Sebagian hati Delano seakan tertinggal disana. Matanya terus menatap rumah itu sampai menghilang dibalik pagar besar.


Sepanjang perjalanan kembali ke kantornya Delano hanya terus melamun tanpa bicara. Sekali-kali matanya menyusuri tempat-tempat dimana ia pernah menghabiskan waktu dengan almarhumah istrinya.


Keputusan terbesar yang pernah Ia ambil dalam hidupnya adalah meninggalkan Baverly Hills untuk selamanya. Kota yang penuh kenangan dan selalu mampu membuatnya menangis manakala menyusuri setiap sudutnya dengan motor sendirian.


Delano mengambil keputusan untuk kembali ke tanah airnya meninggalkan perusahaannya dikelola oleh Robert dan dua orang rekan kepercayaannya.

__ADS_1


Ia telah membuka perusahaan serupa sebagai cabangnya di Jakarta dan bertekad untuk mengelolanya sampai akhir hidupnya. Baginya, hanya dekat dengan kasih sayang keluarganyalah ia bisa mendapatkan kekuatan dan dukungan penuh dalam menjalani hari-harinya seorang diri.


Besok ia akan meninggalkan Amerika dan memulai lembaran baru hidupnya di tanah airnya, Indonesia.


__ADS_2