Menikahi Gadis Berandal

Menikahi Gadis Berandal
Saya Kayl. Bukan Mikayla atau Kayla!


__ADS_3

Kayl melepaskan sunglassesnya kemudian menatap wajahnya disebuah cermin dan memoleskan sedikit bedak. Ia tak lupa menambahkan lipgloss agar bibir merahnya terlibat mengkilap dan segar.


Sopirnya membuka pintu dan Kayl keluar. Ia menatap gedung perusahaan Grand Future yang menjulang dihadapannya lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu. Ia berdecak kagum demi melihat taman-taman hijau yang diimbangi dengan bunga beraneka warna yang memberi kesan homy.


Kayl beranjak kedalam gedung dan langsung bertemu seorang resepsionis. Beberapa saat kemudian seorang pria dengan sigap dan sungkan memberi hormat dan mengantar Kayl menuju ke lantai 12 untuk bertemu dengan pimpinan perusahaan tersebut.


Pagi itu Kayl terlibat anggun dengan setelan hitam. Rambutnya diikat rapi kebelakang. Baginya, pada kesempatan apapun, kerapian dan keanggunan harus menjadi bagian dari dirinya agar mudah diingat dan dihargai orang.



Kayl dipersilahkan duduk oleh Bu Rima setelah mereka saling menanyakan kabar satu sama lain. Bagi Bu Rima, Miss Kayl adalah tipe wanita yang ramah dan rendah hati pada siapa saja.


Delano sedang berdiri memandang keluar jendela ketika sebuah ketukan terdengar.


"Masuk."


"Pak, Miss Kayl sudah ada. Mau dipersilahkan masuk sekarang?" tanya Bu Rima.


Delano hanya mengangguk kemudian kembali menatap keluar jendela. Pagi itu ia kurang bersemangat karena ia semakin stress mengingat acara jamuan makan malam dengan keluarga Lilian yang semakin dekat membuatnya merasa berbeban berat.


"Selamat Pagi Tuan Delano."


Terdengar suara lembut seorang wanita menyapanya. Delano perlahan membalikkan badannya untuk menyambut tamu kehormatannya dengan sebuah senyum keramahan.


"Selamat datang Miss.....hmm...Kayla? Mikayla? Benarkah itu kamu?" mata Delano membesar, suaranya tercekat ditenggorokan. Nafasnya serasa berhenti sejenak. Senyum yang tadi tersungging dibibirnya lenyap digantikan mimik terkejut setengah mati.


Kayl tersenyum kecil. "Maaf. Nama Saya Kayl dan bukan Kayla atau Mikayla."


Delano masih terus mematung. Tatapannya tajam kearah Kayl. Ia benar-benar seperti kehabisan oksigen dengan wajahnya yang memucat.


"Tuan Delano? Tuan? Apakah anda baik-baik saja?" ucap Kayl dengan wajah sedikit khawatir dan bingung dengan reaksi pria tampan di depannya yang masih tak bergerak dengan mimik yang aneh baginya.


"Tuan Delano?" ucap Kayl sekali lagi dengan suara yang lumayan keras.

__ADS_1


Delano seketika tersadar. Ia berusaha membasahi bibirnya yang terasa kering. Ia berusaha keras mengatur nafasnya dan mencoba mengembalikan nyawanya kembali ketubuhnya yang seakan sempat terbang karena rasa terkejut yang luar biasa.


"Tuan Delano, anda terlihat seperti sedang melihat hantu! Apakah ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Kayl sambil menatap dirinya sendiri serta mengamati kalau-kalau ada yang tidak beres dengan pakaian atau wajahnya.


"Errgh...hmm...Miss Kayla...maaf.."


"Nama Saya Kayl, bukan Kayla, Tuan." ucapan Delano yang terbata-bata langsung diserobot Kayl.


"Maafkan saya, Miss... Kayl. Wajah anda benar-benar mirip sekali dengan seseorang yang saya kenal. Saya benar-benar terkejut. Errgh...saya ... maaf, maksud Saya silahkan duduk Miss Kayl." ucap Delano dengan nada suara yang masih bergetar. Debaran jantungnya masih belum stabil. Wajahnya juga masih pucat. Ia masih tak percaya kalau wanita cantik yang sedang duduk dengan anggun dihadapannya adalah benar-benar manusia atau hantu!


Delano menatap mata Kayl tanpa berkedip yang membuat Kayl sedikit salah tingkah. Pikirnya, "Aneh benar pria ini. Sudah salah menyebut namaku, kini ia masih terus menatapku seakan akan masih tak percaya kalau aku ini manusia!"


"Miss Kayl. Sebelumnya Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya ingin tahu, apakah anda memiliki saudara kembar?"


Kayl mengernyitkan dahinya. "Pertanyaan macam apa ini? Bukankah datang ke kantornya untuk bicarakan bisnis?" bisik Kayl dalam hati.


"Maaf Tuan Delano. Saya hanya memiliki seorang kakak laki-laki. Saya tidak punya saudara perempuan sama sekali apalagi saudara kembar."


"Tuan Delano? Hello...Tuan Delano!" suara Kayl lagi-lagi memaksa Delano untuk kembali berkonsentrasi dari pikirannya yang masih agak linglung.


"Apakah kedatangan Saya hari ini tidak tepat, Tuan? Maaf, sedari tadi saya amati anda seperti kurang fit pagi ini." Kayl berkata sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Raut wajahnya terlihat sedikit khawatir.


"Eh..errgh...maafkan saya, Miss Kayl. Mungkin anda benar. Tapi saya pastikan kalau saya baik-baik saja. Saya mungkin hanya sedikit kelelahan dengan pekerjaan saya akhir-akhir ini."


Delano mengusap wajahnya dan kemudian menegakkan cara duduknya.


"Kalau begitu ayo kita mulai proses penandatanganan kerja sama kita. Ini berkas dari perusahaan kami yang harus anda baca dahulu." kata Kayl sambil menyodorkan sebuah map tebal yang diambil dari dalam tasnya.


Delano menerima berkas tersebut kemudian menyerahkan juga berkas darinya untuk dibaca oleh Kayl.


Keduanya terdiam beberapa menit. Kayl membaca dengan saksama berkas dari Delano. Begitu juga Delano. Namun sesekali Kayl melirik pada Delano karena dari bahasa tubuh pria itu, ia kelihatan gelisah dan setengah mati untuk terus berkonsentrasi pada berkas didepan matanya.


"Hmm...Ada apa dengan Tuan Delano?" pikir Kayl. "Sejak bertemu mata tadi diawal perjumpaan, ia kelihatan seperti syok dan kebingungan. Kasihan juga kalau ia benar-benar kelelahan." Kayl terus memperhatikan wajah tampan didepannya yang kini telah berkeringat di ruangan bersuhu sejuk 16 derajat celcius.

__ADS_1


Tiba-tiba kepala Kayl berdenyut. "Wajah itu...matanya, hidungnya dan ....bibirnya...ah, mungkin aku sudah gila. Bukan hanya suaranya tapi kini wajah itu .... semakin dekat diperhatikan semakin membuatku resah. Entah dimana aku pernah bertemu dengannya sebelumnya? Tidak...tidak! Belum pernah sama sekali! Tapi.... Tuan ini seperti seorang yang tak asing rasanya!" Kepala Kayl semakin berdenyut. Kini dirinya juga mulai berkeringat. Seketika berkas ditangannya jatuh ke lantai.


Delano terkesiap melihat sosok didepannya yang terlihat seketika memucat! Dengan refleks Delano menangkap tubuh Kayl yang terhuyung kedepan. Beruntung Delano langsung memeluk tubuh ramping itu sehingga kepalanya tidak membentur meja kaca didepannya.


"Miss Kayl.... Miss Kayl..." Delano menatap wajah Kayl yang kini berada sangat dekat dengan wajahnya sedang kedua tangannya masih memeluk tubuh Kayl.


Kayl berusaha mengerjapkan matanya berulang kali sambil terus bernafas dengan cepat. "Tu..Tuan, tolong segelas air." pintanya.


Delano perlahan menggendong tubuh Kayl dan meletakan di sofa yang ada diruangan itu.


Ia kemudian meraih segelas air dari atas meja kerjanya dan perlahan membantu Kayl untuk duduk dan minum.


Delano kemudian menatap wajah manis itu dengan penuh ketakutan.


"Miss Kayl, apakah anda baik-baik saja? Sepertinya bukan hanya saya yang sedang tak sehat sekarang ini, tapi ternyata anda juga sedang kurang fit."


Kayl membalas tatapan Delano kemudian tersenyum kecil.


"Maafkan saya Tuan Delano. Saya sudah merepotkan anda."


Delano tersenyum ramah. "Tidak perlu sungkan. Istirahatlah sebentar. Oh ya, Saya sudah setuju dengan perjanjian kerja sama ini. Saya sudah menandatanganinya. Anda tak perlu terburu-buru memutuskan. Saya bisa menunggu sampai anda benar-benar sehat, Miss Kayl."


Kayla kembali tersenyum. "Tidak perlu menunggu, saya juga sudah menandatangani berkasnya. Jadi kerjasama kita sudah bisa jalan.


Saya sangat berterima kasih pada anda hari ini. Maaf, sudah merepotkan." ucap Kayl sambil menyodorkan gelas yang telah kosong kepada Delano. Kini ia berusaha berdiri dan merapikan pakaian dan juga rambutnya. Kayl meraih tasnya dan juga berkas yang sudah ditanda tangani Delano.


"Maafkan saya tidak bisa berlama-lama. Saya harus segera kembali untuk beristirahat. Jangan sungkan menelpon saya jika ada hal yang masih kurang jelas, Tuan."


Delano tersenyum kemudian menjabat tangan Kayl yang terasa dingin. Matanya terus mengamati tubuh Kayl yang menghilang dibalik pintu.


"Cobaan apa yang kuterima hari ini? Ya Tuhan! Dia benar-benar mirip Mikayla! Semua yang ada padanya! Tapi..... Mikayla tidak seanggun dan feminin seperti Kayl. Mikaylaku seorang berandal! Wajah yang sama dengan kepribadian yang berbeda bagai bumi dan langit! Ya Tuhan, mengapa ia muncul disaat aku sangat merindukan Mikayla?"


Delano tertunduk sambil meremas rambutnya. Sedetik kemudian ia sudah terisak-isak dalam tangis!

__ADS_1


__ADS_2