Menikahi Gadis Berandal

Menikahi Gadis Berandal
Mikayla Berontak


__ADS_3

Baik Mikayla maupun Delano benar-benar sudah eneg karena hampir setiap hari disuruh jalan bareng sama orang tua mereka, terutama orang tua Delano yang sudah benar-benar sampe ke ubun-ubun untuk nikahin putra mereka dengan Mikayla!


Hari itu Delano dan Mikayla harus menghabiskan malam mingguan layaknya pasangan yang sedang dimabuk cinta. Sayangnya mereka berdua tidak seperti pasangan sewajarnya karena mereka sedang dimabuk rasa kesal, jengkel dan rasa pengen meninju seseorang untuk dijadikan pelampiasan!


"Kita jalan kemana?" Tanya Delano dalam keadaan menyetir.


Mikayla hanya diam dengan wajah cemberut. Sedetik kemudian Ia menarik nafas dengan berat.


"Terserah kamu saja." Jawabnya cuek.


Delano menggaruk kepalanya. Seandainya bukan karena menghargai orang tuanya, gadis itu pasti sudah dia suruh turun dari mobil.


"Okelah. Kita ke tempat pijat aja kalo begitu! Pijat couple!" Tegas Delano tanpa melirik sedikitpun pada gadis disampingnya.


"What? Gak salah? Ngapain juga ketempat pijat? Pijat couple segala, emang aku perempuan apaan. Bilang aja kalau kamu udah mau macam-macam sama aku!" Teriak Mikayla dengan wajah penuh kekesalan.


Delano tersenyum sinis. "Lha...tadi katanya terserah! Kenapa protes? Lagian apa salahnya pijat couple? Kitakan udah mau nikah."


Mikayla jadi lebih jengkel. Pengen rasanya Ia teriak kuat-kuat atau meninju mulut pria disampingnya tapi ia harus berusaha menahan amarahnya itu.


"Please ya,... Tolong turunkan aku disini. Caramu bercanda benar-benar bikin aku eneg! Kalau mau telpon mamaku, ya silahkan." Seru Mikayla dengan nafas yang memburu karena mencoba menahan dadanya yang serasa mau meledak.


Mendengar itu Delano jadi panik. "Oke, oke, aku minta maaf kalau keterlaluan godain kamu tadi. Tapi please, jangan minta turun disini dong. Disini terlalu ramai."


"Kalau ramai baguskan? Biar gampang dapat taxinya." ujar Mikayla dengan ketus.


"Gak boleh disini pokoknya." Delano bersikeras.


"Lha trus, mau diturunkan dimana aku?" Mikayla tambah ketus.


"Dijalan super sepi biar gak ada yang nolongin kamu!" Ucap Delano dengan asal karena ia juga sudah gemas sekali dengan gadis itu.


"Kamu benar-benar ya.....bikin kesabaranku habis!" Mikayla setengah berteriak.


"Kamu juga! Selalu mengosongkan stok kesabaranku!" balas Delano dengan wajah memerah.


Mikayla mulai memukul-mukul pundak Delano yang masih sedang menyetir. Delano kelabakan juga dan pada akhirnya ia harus mengalah dan menepikan mobilnya diantara keramaian orang-orang yang sedang menikmati malam minggu.


"Hentikan Kayla!" Teriak Delano ketika mobilnya telah terparkir dengan aman.

__ADS_1


Mikayla tambah membabi buta menyerang Delano karena amarahnya sudah benar-benar memuncak!


Sekuat tenaga Delano berusaha menahan kedua tangan gadis yang sedang berontak itu. Dan....


Bugg!!


Wajah Delano kena tinju dari tangan Mikayla. Delano berhenti sejenak dari usaha menghentikan ulah Mikayla. Pikirnya, kuat juga gadis ini. Kekuatan tinjunya gak main-main karena Delano sempat merasa sedikit berkunang.


Mikayla yang tersadar dengan perbuatannya langsung terdiam sejenak menatap sosok tampan disampingnya yang sedang memijat rahangnya.


"Aku turun sekarang!" Ucap Mikayla sambil berusaha membuka pintu tapi tidak bisa karena Delano telah mengatur lock mode otomatis.


"Buka pintunya!"


"Gak!"


"Aku akan teriak!"


"Silahkan!"


"Kyaaaaaaaaaaa..."


Delano yang panik langsung membungkam mulut Mikayla dengan tangannya sedang tangan satunya menahan tubuh Mikayla agar tak menyerangnya.


"Aaarrrrgggh.."


Delano berteriak tertahan karena Mikayla berhasil menggigit tangannya.


"Dasar kamu memang benar-benar gadis liar!" Delano naik pitam juga tapi masih berusaha untuk tidak berlaku kasar pada Mikayla.


"Kyaaaaaaaaaaa...." Teriak Mikayla lagi begitu Delano menarik tangannya yang sakit dari mulut Mikayla.


Delano tambah panik dengan teriakan Mikayla dan ia benar-benar kehilangan akal untuk mendiamkan gadis liar tersebut.


Tanpa berpikir panjang, Delano menahan tubuh Mikayla sekuat mungkin hingga gadis itu sulit bergerak dan tiba-tiba saja bibir Delano telah menempel dibibir gadis yang sedang berteriak itu.


Delano terus menyesap bibir merah Mikayla sekuat tenaga tanpa memberi kesempatan gadis itu mengambil nafasnya.


Dan benar saja, gadis itu terdiam sejenak dengan tubuh yang tegang.

__ADS_1


Delano perlahan melapaskan ciumannya namun belum menjauhkan wajahnya dari gadis itu. Keduanya terengah-engah sambil berusaha mengatur nafas masing-masing. Ada air mata yang membasahi wajah manis didepannya.


"Ternyata gadis berandal ini bisa menangis juga hanya karena satu ciuman." Gumam Delano dalam hati.


Delano kembali duduk dikursinya dengan posisi yang sebenarnya.


"Maafkan aku, Kayl." Bisiknya pada gadis itu. "Aku benar-benar kehilangan akal untuk mendiamkanmu. Percayalah, ciuman itu tak ada artinya sama sekali."


Mikayla masih terisak. Ia berusaha menghentikan tangisnya tapi dadanya terasa sesak.


Delano kembali menatap wajah Mikayla yang basah.


"Aku antar kamu pulang sekarang."


Mikayla tetap diam. Tak sepatah katapun yang keluar dari bibirnya sampai mobil Delano tiba di halaman rumahnya.


Delano hendak keluar untuk membukakan pintu untuk Mikayla tapi gadis itu telah lebih dulu membuka pintu dan berlari kedalam rumah.


Kebetulan Nyonya Anggita sedang berada diruang tamu ketika anaknya masuk tanpa bicara dengan wajah yang habis menangis dan langsung menuju kamarnya.


Nyonya Anggita yang terheran-heran hanya bisa melongo.


"Selamat malam tante." Ucap Delano pada Nyonya Anggita.


"Nak Delano? Kok cepat banget pulangnya? Trus Mikayla kenapa ya?" Ucap Nyonya Anggita dengan hati-hati sambil mempersilahkan Delano duduk.


Delano yang kelihatan salah tingkah berusaha mencari kata-kata untuk menjelaskan apa yang terjadi.


"Tante, mohon maaf sebelumnya. Saya telah membuat Mikayla kesal. Aku tidak sengaja menciumnya dan dia langsung marah. Jadi yah....dia minta pulang." Delano menggaruk-garuk kepalanya. Ia memang tipe cowok yang tidak pandai berdusta.


Mendengar jawaban Delano yang sangat polos, Nyonya Anggita hanya bisa menggaruk pelipisnya dan tersenyum geli.


"Ya sudah, nanti tante yang bicara padanya."


Mendenger ucapan Nyonya Anggita, Delano tersenyum hangat dan minta diri untuk segera pulang.


Nyonya Anggita mengantar Delano hingga ke depan teras.


"Nak Delano, jangan dimasukkan ke dalam hati ya. Kamu harus berjuang lebih keras lagi."

__ADS_1


Delano tersenyum dan mengangguk. Ia kemudian memacu mobilnya menuju sebuah cafe dipusat kota untuk bertemu teman-teman lamanya. Malam itu adalah malam terburuk baginya!


__ADS_2