
Pagi itu, masih dengan semangat yang sama, Mikayla tak sabar untuk mengunjungi tempat-tempat wisata di Hollywood.
Delano muncul dari dalam kamar ketika Mikayla hendak masuk untuk mengambil tas dan hapenya.
Keduanya hampir bertabrakan namun kemudian mereka saling terpana satu sama lain.
Mikayla tak menyangka jika Delano ternyata memakai pakaian berwarna putih senada dengan pakaian yang sedang dipakainya.
Delano juga berpikiran sama, "Hmm..sebuah kebetulan yang indah." gumam Delano dalam hatinya.
"Wah, kita ternyata kompak ya hari ini." seru Mikayla menghilangkan rasa canggung yang menyeruak sewaktu mereka saling menatap lumayan lama.
Delano tersenyum dan lekas-lekas berlalu dari hadapan Mikayla.
"Kita berangkat sekarang." ucapnya.
Mikayla bergegas ke dalam kamar mengambil tas dan hapenya. Beberapa detik kemudian mereka berdua telah berada di basement tempat Delano memarkir mobilnya.
"Kita mau ke pantai mana hari ini?" Tanya Mikayla pada Delano yang sedang konsentrasi menyetir.
"Sunset Boulevard. Disana juga lumayan banyak pengunjung. Tapi nanti kamu boleh lihat-lihat suvenir atau barang- barang yang kamu suka. Di seputaran Hollywood juga banyak. Jadi usahakan belinya jangan kebanyakan, ntar gak tau mau ditaruh dimana." ujar Delano sambil memasang kaca mata hitamnya.
Mikayla tersenyum geli. Pikirnya, ngapain juga belanja suvenir kalau akan menetap? Mau dikasih siapa?
"Jangan khawatir, kalau mau beli-beli, palingan aku hanya akan membeli jaket kulit dan topi saja." ujar Mikayla sambil memperbaiki cara duduknya karena hari itu dia sedang memakai pakaian santai berbentuk dress terusan.
Tiba di Sunset Boulevard Beach, keduanya langsung berlari ke pantai.
Delon berdiri agak jauh dari Mikayla yang sedang asyik membasahi kakinya dibibir pantai. Dari jarak beberapa meter itu Delano memperhatikan tingkah Mikayla. Tak bisa mendustai hatinya kalau sosok didepannya itu sangat memikat dan mempesona persis dengan perkataan Robert.
"Ternyata dia memang sangat manis. Apalagi dengan dress putih itu." gumam Delano dengan mata tak lepas dari setiap gerak gerik Mikayla.
Dari kejauhan Mikayla sesekali melihat kearah Delano yang tak pernah melepaskan pandangan darinya.
"Benar juga kata teman-temanku. Delano ternyata sangat tampan, apalagi dengan kemeja putih itu. Hmm... " gumam Mikayla.
__ADS_1
"Ada apa sih dengan pikiranku?" ujar Mikayla memarahi dirinya. "Kenapa juga jantungku berdebar begini?" Mikayla berusaha lebih menjauh lagi dari pandangan Delano. Ia ingin menghilangkan perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul tanpa diundang.
Delano yang melihat Mikayla telah berjalan kearah lain, segera meraih kameranya dan mengejar gadis itu.
Setelah dapat mengejar gadis itu, Delano berjalan perlahan mengikuti langkah Mikayla dari belakang. Tanpa sepengetahuan gadis itu, Delano sesekali memotretnya.
Merasa diikuti seseorang, Mikayla berbalik dan mendapatkan Delon yang sedang asyik mengambil foto-fotonya.
Mikayla tersenyum begitu mengetahui siapa yang sedang mengikutinya. Dan "ceklek", lagi-lagi Delano memotretnya sambil tersenyum.
Mikayla menghentikan langkahnya. Ia melemparkan senyum manis pada Delano yang terus sibuk memotretnya.
"Selfie bersama, yuk." ujar Mikayla pada Delano dan beberapa saat kemudian Delano memposisikan kameranya untuk selfie.
"Jangan berdiri jauh-jauh. Sini dekat sama aku." ujar Delano sambil meraih bahu Mikayla dan "ceklek", foto selfie mereka berduapun diabadikan.
Mikayla mengambil hapenya. "Yuk selfie sama aku pake hape ini biar gak ribet."
Sedang keduanya asyik berselfie, tiba-tiba perut Mikayla berbunyi.
Delano yang mendengarnya tertawa. "Yuk makan. Cacing diperut kamu udah berontak!"
Wajah Mikayla memerah tapi Ia tidak menolak karena memang Ia sudah lapar.
Delano merangkul bahu Mikayla dan berjalan menuju food court didekat situ. Mikayla tak sungkan lagi melingkarkan tangannya dipinggang Delano. Perlakuan hangat Delano padanya membuat Mikayla merasa nyaman dan tak malu-malu lagi untuk sekedar memeluk atau menggandeng Delano. Pikirnya, Delano yang memulai semua itu dan Ia hanya mengimbangi saja.
Setelah puas bersantai di Sunset Boulevard Beach, keduanya melanjutkan ke pusat wisata Hollywood.
Mikayla membeli sebuah jaket kulit. Delano membantunya menilai mana yang cocok ditubuh rampingnya. Delano tak menolak ketika Mikayla juga membelikan satu buat dirinya.
"Kita berduakan suka naik motor, jadi kamu juga beli satu ya."
Delano menurut saja. Begitu pula ketika Mikayla membeli dua buah topi couple untuk mereka.
Mikayla kemudian memilih beberapa bingkai foto berukuran kecil dan sedang yang bertuliskan "Hollywood" dan "California".
__ADS_1
"Untuk apa membeli bingkai foto?" Tanya Delano penasaran.
"Untuk menaruh foto kita dong. Memangnya untuk apalagi. Apartemenmu terkesan gersang, gak ada dekorasinya." sungut Mikayla yang disambut anggukkan oleh Delano.
"Hmm benar juga. Aku juga mau dua untuk di meja kerjaku dikantor." ujar Delano.
Mikayla tersenyum dan meraih lagi dua bingkai berukuran sedang.
"Wah sudah hampir gelap. Beberapa toko sudah siap-siap tutup. Yuk ke kasir." kata Mikayla sambil berjalan diikuti Delano.
Setiba dirumah, keduanya kelihatan sangat capek. Setelah selesai membersihkankan diri, Mikayla naik keatas ranjang diikuti Delano yang juga baru selesai mandi.
"Delan, makasih ya udah mengorbankan waktumu membawaku jalan-jalan." ucap Mikayla dengan mata terpejam.
Delano tersenyum lalu menghadapkan badannya pada gadis yang sedang menutup matanya itu.
"Imbalannya apa?" Tanya Delano setengah menggoda.
Mikayla tersenyum kecil. "Emangnya kamu mau aku kasih apa?"
Delano tersenyum penuh arti tanpa melepaskan tatapannya pada gadis disampingnya.
"Sesuatu yang gak bisa dibeli."
Mikayla langsung membuka matanya dan membalas tatapan Delano yang ternyata posisinya berada sangat dekat dengan tubuh Mikayla, hampir bersentuhan.
"Ma..maksudmu?" Tanya Mikayla gugup. Pikirnya, jangan-jangan Delano ingin meminta jatahnya sebagai suami yang belum pernah diberikannya.
Delano merasakan kepanikan Mikayla.
"Heh..Jangan berpikiran mesum ya." ucap Delano yang langsung membuat Mikayla sumringah.
Selama ini Delano tidak pernah macam-macam padanya walaupun mereka sudah hampir dua bulan tidur seranjang. Mikayla sangat menghargai perlakuan Delano tersebut. Tapi tetap saja Ia khawatir jika sewaktu-waktu Delano menuntut haknya yang satu itu.
Mikayla mengangkat kepalanya dan dengan cepat mendaratkan sebuah kecupan dipipi Delano. "Makasih ya" ucap Mikayla dan dengan cepat menutup matanya lagi.
Delano terkesiap dengan kecupan itu. Tanpa bicara lagi Ia langsung merebahkan dirinya membelakangi gadis itu dan mencoba untuk tidur. Jantungnya kembali berdegub tak beraturan. Ia tak dapat mendustai hatinya jika hasratnya untuk mencium bibir merah Mikayla semakin hari semakin kuat memaksanya. Ia sendiri tak mengerti apa artinya semua itu. Delano berusaha keras menepiskan perasaan aneh itu dan hanya menganggapnya sebagai rasa kagum sesaat.
__ADS_1