Menikahi Gadis Berandal

Menikahi Gadis Berandal
Vonis Mati


__ADS_3

Sudah hampir sebulan sejak memperbaiki penelitian skripsinya, Mikayla merasa stuck!


Pak Teguh baginya adalah seorang dosen perfeksionis! Tuntutannya terlalu berlebihan sehingga Mikayla jadi malas meneruskan dua bab terakhir dari skripsinya.


Sore itu, ayah dan ibunya memintanya untuk bicara sesuatu yang sangat serius. Ia tahu kalau mereka bakalan mengungkit lagi masalah skripsinya yang gak selesai-selesai itu. Batas waktu yang diberikan orang tuanya selalu saja tak bisa dicapainya.


Baik ayah dan ibunya kini tengah duduk hadapannya. Mikayla merasa sedikit merinding. Entah fasilitas apa lagi yang akan ditarik untuk sementara waktu oleh orang tuanya mengingat segala janji yang berkali-kali ia ucapkan pada orang tuanya, tak satupun dipenuhinya. Mikayla merasa seperti sedang berhadapan dengan para hakim di pengadilan.


"Bagaimana dengan skripsimu, Kayla. Papa dengar kamu sudah hampir sebulan ini tidak pernah datang konsultasi." suara Tuan Dimas terdengar sangar ditelinga Mikayla.


Mikayla menarik nafas sedalam-dalamnya.


"Maaf Pa, Kayla benar-benar buntu kali ini. Beri Kayla waktu lagi untuk menyelesaikan ya. Kayla janji."


Tuan Dimas memandang anaknya dengan tatapan meremehkan.


"Berjanji katamu? Lupakan saja. Ayah sudah bosan dengan semua itu! Hidupmu itu seperti tak punya tujuan. Kamu pikir orang tuamu ini akan selamanya sehat dan hidup terus untuk mendampingimu?"


Nyonya Anggita menimpali ucapan suaminya.


"Benar semua yang dikatakan ayahmu, Kayla. Kami tak pernah tahu sampai kapan Tuhan masih memberikan kesehatan dan umur yang panjang bagi kami, jika gaya hidupmu hanya terus mempermalukan keluargamu, apa yang dapat kami harapkan darimu?"


Mikayla terdiam. Seumur hidup diomeli kedua orang tuanya, belum pernah Ia mendengar mereka berbicara tentang batas hidup mereka dan hal itu seperti menampar wajahnya!

__ADS_1


Tuan Dimas menegakkan duduknya serta melipat tangannya didepan dada.


"Kami sebagai orang tuamu bertanggung jawab penuh atas kelangsungan hidupmu nanti. Oleh karena itu kamu dengarkan ucapan ayahmu ini baik-baik." Tuan Dimas menarik nafas dan meneguk segelas air disampingnya.


"Ayah dan ibu telah sepakat untuk mengakhiri gaya hidup berandalanmu dengan menikahkan kamu!"


Mata Mikayla langsung membesar.


"Apa? Gak salah, Pa?


Tuan Dimas tersenyum kecut.


"Jangan protes atau kamu selamanya tidak akan pernah lagi menginjakkan kakimu dirumah ini. Kamu akan kami nikahkan dengan anak dari keluarga Tuan Samson Prasetya. Suka atau tidak suka, kamu harus menerima perjodohan ini sebelum kamu rusak diluar sana."


Masih sangat kaget mendengar ucapan ayahnya, tiba-tiba ada senyum kecil tersungging dibibir Mikayla.


Tuan Dimas menggelengkan kepalanya.


"Bukan. Tapi dengan kakaknya."


Wajah Mikayla berubah kecewa.


"Tapi Pa... kenapa tidak dengan Delon saja? Kalau dinikahkan sama Delon, aku tidak keberatan."

__ADS_1


"Apa? Menikah dengan Delon yang sama berandalnya dengan kamu? Mau jadi apa kalian? Mau jadi keluarga mafia, heh?" teriak Tuan Dimas.


Nyonya Anggita mendekati Mikayla yang terlihat sangat kesal mendengar penilaian ayahnya tentang Delon.


"Kayla sayang, kamu gak akan ada perubahan hidup jika menikah dengan Delon. Lagian dia gak ada bedanya sama kamu. Selain kuliah yang gak selesai-selesai, juga selalu bikin orang tuanya sakit kepala. Mau jadi apa masa depan kalian kalau bersama?"


Mikayla semakin merasa sesak. Ingin rasanya Ia lari dari hadapan orang tuanya, tapi kakinya seakan dirantai.


"Kayla, keluarga Tuan Prasetya sudah setuju menikahkanmu dengan anak tertua mereka, Delano Prasetya. Kamu memang tidak mengenalnya karena sejak lulus SMA dia langsung melanjutkan kuliah dan kerja di Los Angeles. Dia sangat mapan dan dewasa. Jadi kami pikir dia bisa membimbingmu kelak agar bisa menjadi wanita dewasa yang lebih baik. Umurnya lebih tua delapan tahun darimu. Tahun ini dia baru memasuki usia 30 tahun."


"Apa? Sudah setua itu, Pa? Ya ampun...berarti aku akan dinikahkan dengan om om!" jerit Mikayla dengan wajah panik. Ia tak menyangka orang tuanya sekejam itu padanya.


"Jangan bilang dia om om. Siapa bilang dia sudah om om. Dia masih single dan punya masa depan yang jelas dan terarah. Harusnya kamu beruntung karena orang tuanya tidak keberatan menikahkan anak kebanggaan mereka dengan kamu yang memiliki reputasi kurang baik dimata orang lain!" suara Tuan Dimas terdengar penuh emosi.


Mikayla rasa-rasanya ingin berteriak tapi teriakannya itu hanya nyangkut dileher.


"Ya ampun. Bagaimana ini? Ini sama dengan vonis mati bagiku jika harus menikahi seorang om om!" teriaknya dalam hati.


"Bersiaplah, karena minggu depan hari sabtu kalian akan dipertemukan. Tuan dan Nyonya Prasetya beserta anak mereka, Delano akan datang melamarmu!" setelah mengucapkan kaliamat terakhirnya, Tuan Dimas mengajak istrinya untuk keluar dari ruangan itu karena mereka harus bersiap untuk menghadiri sebuah acara perusahaan.


Mikayla yang ditinggalkan sendirian hanya bisa terduduk lemas dengan tatapan kosong. Ia tak mungkin lari dari rumah dengan tangan kosong tanpa uang sepeserpun seperti yang pernah Ia lakukan. Lagian orang sewaan ayahnya akan mudah menemukannya.


Mikayla memukul-mukul sofa tempat ia duduk. "Mengapa bukan dengan Delon? Kenapa harus dengan kakaknya yang umurnya terpaut sangat jauh dariku?" guman Mikayla dengan perasaan kalut.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan? Jika teman-teman gengku tahu aku akan dinikahkan dengan om om, pasti mereka akan menertawakanku tujuh turunan. Dasar sial, sial, sial! Ini namanya vonis mati dari papa dan mama!"


Mikayla semakin stress dengan keputusan orang tuanya sehingga ia memutuskan untuk menghabiskan hari-harinya mejelajah kota dengan motornya untuk menenangkan pikiran.


__ADS_2