Menikahi Gadis Berandal

Menikahi Gadis Berandal
Berdamai


__ADS_3

Mikayla memarkir motornya disebuah parkiran pusat perbelanjaan. Hari itu Ia harus membeli tinta printernya yang telah habis. Ia terpaksa harus kembali berkutat dengan skripsinya setelah sudah beberapa minggu vakum karena Ia merasa stuck!


Mikayla membuka helm dan jacketnya lalu menyimpannya dibagasi motor. Ia merapikan rambutnya dan berjalan kesebuah toko perlengkapan komputer.


Setelah selesai membeli apa yang dibutuhkannya, mata Mikayla tertuju pada seorang pria yang sedang memilih-milih model headsets disebuah rak.


"Delano?" Gumam Mikayla.


Mikayla berjalan kearah dimana Delano sedang berdiri lalu menepuk pundak si tampan itu dengan pelan.


"Hey Om."


Delano terperanjat. Wajahnya yang tadi lagi bagus-bagusnya, langsung berubah masam ketika melihat siapa yang menyapanya terlebih dengan panggilan 'om'.


"Kayla? Kamu ngikutin aku ya?" ucap Delano dengan nada tak bersahabat.


"Woy...siapa juga yang ngikutin kamu. Aku lagi beli sesuatu disini dan gak sengaja aja liat kamu. Dasar om om, feelingnya sensitif dan serba curiga!" ujar Mikayla dengan kesal.


Delano tersenyum sinis. "Udah ah, aku gak mau bertengkar lagi. Capek!" ucap Delano sambil berjalan ke arah rak yang lain.


"Yang ngajak bertengkar siapa?" ucap Mikayla dan kali ini dengan suara yang agak meninggi. "Yang ada kamunya ngajak aku nikah."


Delano terperanjat dan berbalik hendak menutup mulut Mikayla dengan telapak tangannya tapi urung dilakukannya. Beberapa pembeli disekitar mereka sedang menatap kearah mereka sambil berbisik-bisik dan tersenyum.

__ADS_1


"Dasar kucing liar!" umpat Delano sambil keluar dari toko tersebut.


Mikayla mengikutinya sambil senyum-senyum. Ia merasa puas telah berhasil membuat Delano kesal.


"Delan, tunggu!" teriaknya, tapi Delano cuek dan terus bejalan.


"Hey..Om... aku mau bilang sesuatu."


Delano terus berjalan. Mikayla jadi lebih kesal karena dicuekin Delano.


"Hey...kadal got, berhenti!"


Mendengar teriakan Mikayla, Delano menghentikan langkahnya dan kemudian berbalik.


"Hey kucing liar peranakan vampir, aku gak ada urusan denganmu dan gak mau berantem lagi! Mengerti?"


"Iya benar! Lihat aja nih bekas gigitanmu belum juga hilang. Gigi kamu itu taring semua makanya bekasnya gak hilang-hilang! Untung saja gak ada virus rabiesnya!" Ucap Delano dengan kesal sambil menunjukkan tangannya yang masih ada bekas gigitan Mikayla.


"Aku gak berani terlalu dekat-dekat sama kamu. Masih trauma kena gigitan."


Mendengar itu Mikayla mengurungkan langkahnya mendekati Delano.


Ia merasa sangat bersalah melihat tangan Delano yang masih berbekas. Bekas berwarna ungu kehitaman nampak jelas ditangan kekar itu. Mikayla hanya bisa terpaku menatap tangan Delano dengan perasaan iba. "Sampe segitunya bekas gigitan itu..." gumam Mikayla dalam hati. Ada penyesalan yang muncul perlahan.

__ADS_1


Delano yang keheranan melihat Mikayla yang masih mematung memandang tangannya segera menyembunyikan tangan itu kedalam kantong celananya.


"Kamu mau ngomong apa tadi?" Suara Delano melembut.


Mikayla menunduk sambil menggeleng.


"Bukan apa-apa. Aku cuma mau kita berdamai saja.....maksudku, kita jangan bertengkar terus. Kita jadi sahabat baik saja biar gak ada beban nantinya."


Delano tersenyum. "Baiklah. Setuju! Aku juga sudah capek."


Mikayla tersenyum kecil. "Baiklah, aku pergi dulu." ucap Mikayla sambil membalikkan badannya. Namun baru selangkah tangan Delano menahan pergelangan tangan Mikayla.


"Tunggu." seru Delano. "kamu mau kemana biar aku anterin."


Mikayla menggeleng. "Gak usah repot, aku bawa motorku. Lagian aku mau ke arena balapan liar. Mau nonton teman-temanku beraksi disana. Percayalah, kamu gak bakalan suka karena aku tahu kamu tipe cowok baik-baik. Lagi pula polisi bisa datang sewaktu-waktu."


Delano melepaskan tangan Mikayla. "Balapan liar? Nih cewek benar-benar berandal!" umpat Delano dalam hatinya. Raut wajahnya langsung berubah kaget. Melihat itu Mikayla hanya tersenyum kecil.


"Kita berdua emang bagaikan langit dan bumi bedanya. So, pertimbangkanlah kembali jika kamu benar-benar ingin menikahiku. Masih ada waktu seminggu sebelum pernikahan kita. Aku rasa orang tuamu bisa mengerti jika kamu menolak. Kamu hanya butuh "berontak" untuk membatalkan semua ini."


Setelah berucap demikian Mikayla berjalan meninggalkan Delano yang masih menatapnya dengan perasaan yang tak dapat ia gambarkan. Pikirnya, ucapan gadis itu benar adanya, ia hanya perlu berontak untuk membatalkan pernikahan mereka yang akan berlangsung secara tertutup minggu depan sesuai permintaan Mikayla. Tapi sesuai dengan perkataan Mikayla tadi bahwa dirinya adalah cowok baik-baik, maka tak mungkin baginya untuk berontak pada orang tuanya yang sangat ia hormati!


Delano berjalan kearah mobilnya diparkir. Dari balik kaca mobilnya, ia dapat melihat Mikayla diatas motor hitamnya yang melintas tepat didepannya. Delano menarik nafasnya dalam-dalam memikirkan pernikahannya yang tinggal tujuh hari lagi. Ia masih tak berani membayangkan apa jadinya rumah tangganya dengan si berandal itu.

__ADS_1


Pikirnya, Mikayla bukanlah tipe gadis idamannya. Gadis idamannya adalah yang feminin, lembut, dan pastinya tidak bertingkah liar kayak si kucing vampir itu.


Sebenarnya ia sudah menemukan semua itu pada sosok Celine. Sayangnya, Celine mengkhianatinya dengan si pria bule, walaupun Delano tak dapat mendustai hatinya bahwa Ia masih memiliki perasaan pada Celine dan mengharapkan gadis itu kembali padanya suatu hari nanti.


__ADS_2