
"Miss Kayl, ini adalah berkas yang anda minta tadi. Semuanya sudah siap." Ucap seorang asisten yang bertubuh langsing dengan postur agak pendek pada bossnya."
Wanita yang di panggil Kayl itu tersenyum kemudian mulai membaca perjanjian kerjasama yang telah diketik rapi. Matanya mencari-cari dengan cermat setitik kesalahan yang mungkin masih ada. Termasuk kesalahan pengetikan.
Ia kemudian mengambil kalkulator didepannya dan mulai menghitung dengan cermat. Beberapa saat kemudian Ia tersenyum puas.
"Excellent! Saya senang." Ucapnya kepada asistennya. "Pinkan, tolong pastikan saya lagi jam berapa pertemuannya dengan pimpinan perusahaan baru itu. Mereka kelihatannya sudah sangat berpengalaman walaupun baru beberapa bulan mendirikan perusahaan itu disini. Dengar-dengar pusatnya bukan di Indonesia tapi diluar negeri. Jika kita melakukannya dengan sebaik-baiknya, perusahaan kita akan sangat terbantu dan pastinya memperoleh keuntungan investasi yang lumayan besar."
Pinkan mengangguk tanda setuju dengan perkataan bossnya. "Saya akan infokan segera. Permisi Miss. Kayl."
Pinkan berjalan keluar dan mulai menghubungi para menejer satu persatu untuk memantapkan jalannya perjanjian kerjasama yang akan dilaksanakan minggu depan.
Baginya sejak Dokter Gerald melepaskan kepemimpinannya pada anak angkatnya Miss Kayl, perusahaan Jasa Bisnis Property mereka mengalami kemajuan cukup pesat dan Dokter Gerald bisa lebih berkonsentrasi pada profesinya di rumah sakit swasta miliknya.
Dokter Gerald memang terkenal sebagai dokter pebisnis. Beberapa bisnisnya sudah dikelola dengan sukses oleh anak tertuanya Putra Giovano Armando.
Pinkan tersenyum manis mengingat nama Putra Giovano Armando, si pria tampan anak Dokter Gerald. Ia selalu terpesona pada si tampan itu setiap kali Ia muncul dikantor mereka untuk sekedar bertemu adik angkatnya.
Dari pengamatan Pinkan, Giovano semakin sering datang berkunjung semenjak adik angkatnya menjadi pimpinan perusahaan mereka. Kelihatan sekali jika Giovano sangat menyukai Kayl. Hal itu dapat dilihat dari caranya menatap Kayl dan juga caranya memperlakukan si cantik itu dengan penuh kelembutan.
Pinkan menarik nafasnya perlahan.
"Tapi mereka berdua emang cocok kok, walaupun Miss. Kayl kelihatan hanya menganggap perhatian Pak Giovano sebagai seorang kakak." Gumam Pinkan sambil melangkah memasuki ruangannya.
.
.
.
.
__ADS_1
Kayl meraih telepon yang berdering diatas mejanya.
"Miss Kayl, Pimpinan Perusahaan Grand Future ingin bicara langsung dengan anda. Ia akan menghubungi anda sepuluh menit lagi." Ucap suara Pinkan diseberang.
"Baiklah. Berikan saja nomor hape saya. Lebih enak bicara di hape." Ucap Kayl.
"Baik Miss Kayl."
Beberapa menit kemudian hape Kayl berbunyi. Kayl menatap nomor tanpa nama tersebut. Ia langsung menepuk jidadnya. "Mengapa aku lupa namanya ya? Ini pasti dari pimpinan perusahaan itu.
Kayl meraih hapenya dan mulai berbicara.
"Hello. Selamat siang. Ini dengan Kayl Armando."
"Hello Miss Kayl. Saya Delano Prasetya, Pimpinan Grand Future."
Mendengar suara diseberang, kepala Kayl terasa menegang dan mulai berdenyut. Suara itu... seperti pernah didengarnya tapi ia bingung dimana dan kapan. Kepala Kayl mulai terasa sakit manakala suara itu terdengar lagi diseberang memanggil namanya.
Kayl berusaha menarik nafasnya sekuat tenaga. Otaknya terus berputar seakan-akan menuntut memorinya untuk mengingat jejak-jejak tentang pemilik suara itu tapi Ia gagal. Suara itu mengingatkannya tentang sesuatu yang sangat membekas dalam hidupnya. Tapi apa itu? Siapa itu? Kayl tak sanggup mengingatnya lagi.
Terdengar lagi suara diseberang.
"Miss Kayl, apakah anda masih disana?"
Kayl langsung menegakkan duduknya dengan nafas yang agak cepat.
"Maafkan saya Tuan Delano. Maaf kalau tadi ada sedikit masalah. Iya, apakah ada yang bisa saya bantu mengenai perjanjian kerjasama kita minggu depan?"
"Iya Miss Kayl. Saya ingin tahu jika anda tidak keberatan untuk memajukkan harinya. Minggu depan saya ada acara keluarga yang sangat penting dan tidak bisa ditinggalkan. Jadi jika anda tidak keberatan bisakah kita majukan dua hari depan?"
Kayl tersenyum. "Tidak masalah Tuan Delano. Semuanya telah siap dipihak kami. Kalau begitu kita bertemu lusa jam 10 pagi di kantor anda?"
__ADS_1
"Baiklah Miss Kayl. Terima kasih karena anda tidak keberatan dengan perubahan ini. Saya sangat menghargainya. Kalau begitu, sampai bertemu di kantor saya lusa jam 10."
Kayl menatap hapenya setelah mengakhiri pembicaraan. Ada perasaan aneh yang menyusupi pikiran dan hatinya. Apakah pemilik suara itu ada hubungannya dengan masa lalunya yang hilang dari ingatannya?
Kayl memijat kepalanya.
Hatinya menjadi resah karena sudah setahun lebih ia belum juga bisa mengingat siapa dirinya maupun keluarganya. Apakah ia masih lajang atau telah menikah? Apakah ia seorang yatim piatu? Berbagai pertanyaan menambah beban pikirannya.
Keluarga angkatnya tak bisa banyak menolongnya. Ia hanya bisa bersyukur karena masih ada orang-orang baik yang mau menerimanya sebagai anak serta memperlakukannya dengan sangat baik dan penuh kasih sayang.
Suara ketukan pelan terdengar dan sebuah wajah tampan menyembul dari balik pintu.
Kayl tersenyum bahagia melihat siapa yang muncul.
"Vano? Masuklah."
Giovano berjalan mendekati sosok yang selalu dikaguminya.
"Sibuk, Sweetie?" Tanya Giovano dengan mata jenakanya.
Kayl tertawa kecil. "Untuk kamu aku selalu punya waktu."
"Makan siang bareng aku yuk. Ada sebuah cafe baru tidak jauh dari tempat ini. Kayaknya patut dicoba." ucap Giovano sambil menghempaskan tubuhnya disebuah kursi yang berada tepat didepan meja kerja Kayl.
Kayl tersenyum. "Oh ya? Kalau begitu Ayo! Aku benar-benar lapar karena tadi pagi gak sempat sarapan."
Giovano bangkit dari duduknya dan menyambut tangan Kayl yang sudah mengapit lengannya.
Mereka melangkah keluar sambil sesekali tertawa.
# Putra Giovano Armando #
__ADS_1