Menikahi Gadis Berandal

Menikahi Gadis Berandal
Mengalah


__ADS_3

Delano membanting jacketnya ketika tiba dikamarnya. Ia terlalu banyak minum bersama temannya Erick dan Raga.


Kepalanya sedikit berdenyut karena alkohol. Beruntung ia masih aman dan selamat ketika tiba dirumah.


Pikirannya menerawang pada kejadian beberapa jam yang lalu saat bertengkar hebat dengan Mikayla di dalam mobilnya. Ia menyesal telah mencium gadis itu dengan paksa. Pikirnya, kenapa juga dia harus mencium gadis itu? Tapi, hanya dengan cara begitu kucing liar itu bisa dijinakkan!


"Arrrgggh!"


Delano memijit-mijit kepalanya yang sakit. Rasa bersalah membuatnya bingung. Mau tak mau ia harus menemui gadis itu untuk meminta maaf dengan setulus-tulusnya.


Delano memejamkan matanya dan tertidur sampai cahaya matahari pagi telah menusuk matanya.


.


.


.


.


Pagi itu, selesai mandi dan sarapan, Delano meraih hapenya dan mulai menulis pesan pada Mikayla.


"Aku mohon maaf yang setulus-tulusnya atas apa yang telah aku lakukan padaku semalam. Boleh kita bertemu? Rasanya lebih baik minta maaf secara langsung padamu."


Delano mengirim pesan tersebut. Beberapa saat kemudian muncul tanda bahwa pesannya telah dibaca. Namun sudah lama menunggu tapi tidak ada balasan juga. Delano gelisah.


"Kenapa juga aku harus memikirkan perasaannya? Bodoh amat!" Pikir Delano berusaha membuang rasa bersalahnya.


Beberapa saat kemudian balasan dari Mikayla masuk juga. Delano tak mengira akan menerima jawaban seperti itu.


Mikayla: "Aku juga mau minta maaf karena sudah menonjokmu tadi malam."

__ADS_1


Delano tersenyum lega kemudian menulis lagi.


"Jadi, kamu gak marah lagi?"


Mikayla: "Sebenarnya masih banget, tapi sudahlah. Nyokap aku cerewet banget kalau aku perpanjang masalahnya."


Delano tersenyum lagi.


"Jadi anggaplah tonjokan diwajahku dibayar impas oleh sebuah kecupan dibibirmu."


Mikayla: "🤮🤮🤮"


Melihat jawaban Mikayla dengan emotikon wajah yang muntah, Delano tertawa terbahak-bahak. Ia menulis lagi.


"Masih tahan jalan sama aku?"


Mikayla: "Pertanyaanku, apakah kamu mampu untuk sabar jalan sama aku?"


"Oke, aku mengalah saja. Aku pastikan untuk lebih sabar sama kamu. Tapi..."


Mikayla: "Tapi kenapa?"


Delano: "Tapi berjanjilah jangan terlalu sering ngambek. Aku orangnya gak pandai membujuk cewek yang ngambek."


Mikayla: "Emang belum pernah pacaran ya? Udah setua itu masih gak ngerti sifat seorang cewek juga? Gak heran aku, udah tua belum juga nikah."


Delano merasa terpojok dengan pesan tersebut. Pikirnya, dasar cewek brengsek! Emangnya aku cowok gak laku? Tapi....benar juga sih karena belum laku-laku juga sampai terpaksa harus menikah dengan perjodohan!


Delano meremas rambutnya. Ia kehabisan kata-kata.


Tiba-tiba pesan dari Mikayla masuk lagi.

__ADS_1


Mikayla: "Udah ya Om, jangan dipikirin perkataanku tadi walaupun aku rasa ada benarnya.... 😅😅😅"


Delano menggigit bibirnya.


"Tapi aku kasian padamu..."


Mikayla: "Kok kasian sama aku? 🤔🤔"


Delano: "Karena gadis semuda kamu harus menikah dengan om om 🤪🤪"


Mikayla: 🤮🤮🤮 terpaksa! Jangan ge-er!"


Delano tertawa sambil menutup mulutnya.


"Tapi kamu juga beruntung...."


Mikayla: "Beruntung apaan?"


Delano: "Karena aku bukan om-om botak dan gendut! Setidaknya aku masih punya tampang."


Mikayla: "Wooii...sadar Om, sadar! Jangan kege-eran kamu ya. Kamu tuh pantasnya nikah sama yang tante-tante juga tau!"


Delano kembali tertawa geli.


"Tenang aja, kalau kita udah nikah, kamu mau atau gak, kamu bakalan jadi tante-tante juga karena nikah sama om om!"


Mikayla: " Bodoh ah! Go to hell! 🤮🤮🤮" (Kemudian mematikan hapenya.)


Delano tersenyum puas. "Skak mati kamu kucing liar! Bentar lagi kamu bakalan jadi tante-tante jika nikah sama aku!" ucap Delano dalam hatinya.


Delano terpaksa harus mengalah mengingat gadis itu jauh dibawah umurnya. Ia tak mau bersikap kekanakan menghadapi gadis labil tersebut walau terkadang Delano gak sanggup untuk tidak terpancing oleh sikap dan perkataan Mikayla jika sedang berantem.

__ADS_1


Delano sadar kalau Ia suka sekali menggoda Mikayla dengan candaan gilanya yang membuat Mikayla lebih emosional. Itu semua ia lakukan karena tidak tahan lagi dengan mulut pedas si kucing liar tersebut. Baginya si kucing liar itu sekali-kali perlu diberi pelajaran juga.


__ADS_2