
# Beverly Hills, California, USA
"Bagaimana sayang? Apakah kamu sudah memikirkannya?" ucap suara diseberang.
"Mama dan papa ingin kamu segera menikah. Kalau disini umur kamu sudah sangat mapan untuk berumah tangga. Lagian keluarga Tuan Dimas Permadi adalah sahabat baik papamu. Mereka punya andil sewaktu kamu akan lanjut sekolah ke Amerika. Waktu itu perusahaan ayahmu baru saja bangkit dari masalah besar. Tuan Dimaslah yang membantu kita waktu itu sehingga papamu bisa mengabulkan permintaanmu untuk kuliah diluar negeri."
Delano memijat dahinya. Ia menarik nafasnya dengan susah payah.
"Ma... zaman udah serba canggih seperti ini masih saja jodoh-jodohan?"
"Lha, gimana lagi? Kamu punya pacar disana tapi gak pernah serius. Siapa namanya? Celine? Kan udah putus katamu. Trus sama Aline katanya cuma teman dekat aja. Padahal dua duanya keturunan Indonesia."
Mendengar perkataan ibunya, Delano hanya bisa tersenyum.
"Ma, pacaran itu kan gak mesti harus menikah ujung-ujungnya. Lagian...Celine udah kecantol sama bule disini, trus aku mau gimana lagi? Kalau si Aline, dia cuma teman jalan aja. Kami gak cocok kalau pacaran. Oh, iya sebenarnya aku mau dijodohin sama anak Tuan Permadi yang mana?"
"Ya ampun Delan. Emang anak Pak Dimas Permadi ada berapa? Anak mereka cuma satu-satunya, si Mikayla. Dia cantik lho. Umurnya masih 22 tahun."
Mata Delano terbelalak. "Apa Ma? Gak salah? Masa aku mau menikah sama anak ingusan? Please deh, Ma......"
"Delan, justru itu kamu harus menikah dengannya. Orang tuanya ingin agar kamu bisa membimbingnya menjadi wanita yang lebih dewasa tentunya."
Mendengar perkataan ibunya, Delano menggigit kukunya.
"Jadi....Delan menikah dengannya hanya untuk jadi gurunya? No..no...no! Delan sudah cukup sibuk dan sakit kepala dengan pekerjaan disini. Please deh, Ma. Mending aku jomblo seumur hidup dari pada menikahi anak ingusan."
"Gak ada komplain, Delan. Lusa kamu sudah di Indonesia sesuai perintah ayahmu. Suruh saja si Robert menangani perusahaanmu disana. Robert sangat berkompeten dan selalu bisa kamu andalkan. Tidak ada tapi-tapian. Sudah cukup lama waktu yang mama dan papa berikan untuk kamu tapi sampai sekarang kamu gak pernah membawa calon istrimu pada kami. Jadi, kami sudah memutuskan untuk menikahkanmu dengan pilihan kami. Kita bicara nanti lebih lanjut kalau kamu sudah sampai disini." suara diseberang menghilang dan sambungan telepon putus begitu saja.
Delano hanya bisa memandang layar hapenya dengan wajah kesal. Ia benar-benar tak menyangka jika orang tuanya mau menikahkannya dengan seorang gadis yang umurnya terpaut lumayan jauh dengannya.
__ADS_1
Tapi Delano adalah anak yang sangat berbakti pada orang tuanya. Walaupun kali ini permintaan orang tuanya adalah yang paling sulit dan tidak mungkin dapat dijalaninya, Ia hanya bisa pasrah karena memang selama hidup di negeri orang, Ia belum pernah sukses dalam percintaan sampai umurnya sudah membilang 30 tahun.
"Robert! Tolong kemari!" teriak Delano ketika membuka pintu ruang kerjanya.
Robert yang dipanggil cepat-cepat berlari mendapatkan Bossnya yang kelihatan sangat galau.
"Ya, Pak Delan. Ada yang bisa saya bantu?"
Delano menyerahkan sepotong kertas pada Robert yang bertuliskan 'Mikayla Permadi'.
"Tolong cari tahu tentang gadis ini. Di print aja hasilnya. Aku tunggu sekarang!"
"Baik, Pak." Ucap Robert seraya keluar dari ruangan tersebut.
Delano memandang keluar jendela. Pikirannya jadi sedikit kacau. Kepalanya terasa sedikit berdenyut. Hatinya jadi tak tenang membayangkan akan segera pulang ke tanah airnya lusa dan .....tentunya harus menikah!
Beberapa saat kemudian, Robert masuk dengan dua lembar kertas ditangannya.
Delano membaca lembaran kertas pertama. "Hmm...jadi dia masih berstatus mahasiswa? Dulu umurku segitu udah magang kerja. Sedikit sekali info tentang dia." gumam Delano.
Robert tersenyum kecil. "Gadis itu hanya punya social media di Instagram saja, itupun jarang sekali update status. Fotonyapun yang saya print itu adalah foto statusnya lebih dari setahun yang lalu."
Delano membuka lembaran kedua yang berisi foto-foto Mikayla. Matanya sedikit membesar melihat penampakan gadis difoto itu.
# Tampang Mikayla Permadi 1,5 tahun yang lalu #
"Apa gak salah mama dan papa menjodohkanku dengan gadis yang modelnya kayak berandal begini?" umpat Delano dalam hati.
__ADS_1
Robert yang kebingungan gak tahan juga untuk tidak bertanya.
"Kalau boleh saya tahu, Pak. Siapa gadis itu?"
Delano menarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya perlahan.
"Calon istriku!" jawabnya singkat.
Robert terperanjat dengan kening mengernyit.
"Selera boss unik juga ya." ucapnya polos.
Delano langsung merobek-robek kertas ditangannya dengan kasar dan menyerahkannya pada Robert.
Robert langsung mengambil sobekkan kertas itu dan membuangnya ditempat sampah yang ada disekitar situ.
Delano berdiri memandang pemandangan dibawah sana lewat jendela. Sedetik kemudian Ia menarik sebuah bangku dan duduk mengahadap jendela. Kelihatan sekali kalau beban pikirannya sangat berat.
# Delano yang sedang banyak pikiran #
"Robert, kamu tolong urus baik-baik perusahaan ini untuk sekitar satu atau dua bulan kedepan. Aku harus pulang ke tanah air lusa. Kamu sudah sangat tahu semua pekerjaanku. Aku percayakan perusahaan ini padamu untuk sementara waktu." ucap Delano tanpa mengalihkan pandangannya.
Robert mengangguk. "Baik, Pak. Saya akan melakukan semua tugas ini dengan sebaik-sebaiknya. Ada lagi yang bisa saya bantu, Pak Delan?"
Delano menegakkan duduknya. "Iya, sebentar kita berlatih taekwondo di studio Mr. Yakamura. Bersiaplah. Aku pengen banget mendapat lawan yang seimbang kali ini untuk melepaskan beban hari ini." ucap Delano dengan wajah dingin.
"Baik Boss. Jam 5.30 aku tunggu di tempat parkir. Semua perlengkapan akan saya ambil di apartemen Bapak jam 4 nanti." kata Robert sambil minta diri dan keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Delano kembali duduk di meja kerjanya. Ia memandang tumpukkan berkas-berkas yang harus diperiksanya. Mood kerjanya entah hilang kemana. Ia jadi sulit berkonsentrasi.
"Gadis macam apa kamu, Mikayla? Kamu benar-benar bukan tipeku!" gumam Delano sambil meninju meja didepannya.