Menikahi Gadis Berandal

Menikahi Gadis Berandal
Pergi


__ADS_3

Mikayla berpamitan pada Laura Lavine, Bibi dari Scott setelah menyerahkan Surat pengunduran dirinya beberapa hari lalu.


Ia juga tak lupa berpamitan sekaligus berterima kasih pada Scott atas pertemanan mereka. Bagaimanapun Scott telah menjadi teman yang sangat baik dan juga banyak membantunya dalam banyak hal.


Ada kesedihan dalam hati Mikayla ketika Ia tiba di rumahnya siang itu dan mengatur sebuah koper kecil untuk mengisi beberapa pakaiannya beserta perlengkapan lainnya.


Mikayla ingin menenangkan dirinya dari segala rasa kalut yang terus menyelimuti hari-harinya. Ia telah memesan tiket untuk keberangkatan sore nanti kembali ke Indonesia untuk sementara waktu.


Dengan mata yang basah, Mikayla menyelesaikan packingannya kemudian memeriksa kembali passport dan kartu-kartu lainnya.


Ia memutuskan untuk menulis sebuah catatan untuk Delano. Ia tak mau mengirimnya lewat WhatsApp dengan tujuan agar Delano bisa melihat flash disk yang akan ia letakan bersama catatan itu.


Mikayla mulai menulis:


Delan, aku pergi untuk sementara waktu kembali ke Indonesia. Aku rasa video dalam flash disk ini bisa menjawab semua pertanyaanmu tentang keresahan dan kesedihanku selama ini.


Tak perlu panik. Aku tak sepenuhnya mempercayai isi video itu dan menganggap kamu hanya dijebak dalam hal ini. Namun, aku tak bisa mendustai hatiku bahwa aku sangat kecewa dan terpukul.

__ADS_1


Jangan khawatir, kamu bisa menjelaskannya nanti jika aku kembali. Aku hanya ingin menenangkan diri untuk sementara waktu dan merenungi apakah aku masih pantas mendampingimu mengingat aku bukanlah wanita yang sempurna, yang dapat memberikan keinginanmu.


Jaga dirimu baik-baik. Aku pasti akan merindukanmu, sayang.


Kayla.


Setelah selesai menulis, Mikayla meletakan catatan itu disebuah meja di kamar tidur mereka serta meletakan flash disk di atas catatan itu.


Mikayla melirik jam di tangannya. Ia berdiri, mengambil tas dan menarik kopernya.


Sejenak Ia menatap sekeliling ruangan rumah besar itu. Ada rasa sedih yang kembali membuat air matanya jatuh. Bagaimanapun rumah itu sempat mengukir kenangan indahnya bersama Delano. Walaupun ia pasti akan kembali, namun ia belum yakin berapa lama Ia harus menenangkan dirinya dan meninggalkan Delano.


Mikayla beranjak keluar dari rumah itu dan menumpang sebuah taxi online yang sudah dipesannya menuju bandar udara Los Angeles.


Sepanjang perjalanan air matanya masih juga menetes. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang walaupun setengah hatinya masih tertinggal di kota itu.


Mikayla bergegas untuk check in. Setelah selesai Ia memutuskan untuk mengisi perutnya sebentar disebuah kafe Korean Food yang berada beberapa meter dari tempatnya check in.

__ADS_1



Ia melirik jam lagi. "Masih ada waktu." bisiknya. Karena cuaca agak dingin disertai hujan deras dan petir, Mikayla memutuskan untuk memesan makanan yang super pedas agar tubuhnya terasa hangat.


Selesai menikmati makanannya, Mikayla segera beranjak dari tempat itu. Ketika Ia hendak duduk di tempat dimana penumpang lainnya yang sejurusan dengannya sedang duduk menunggu panggilan untuk masuk ke dalam pesawat, tiba-tiba perutnya terasa melilit. Ternyata makanan yang dimakannya tadi terlalu pedas dan membuatnya harus berlari ke toilet.


Mikayla memasuki toilet untuk menuntaskan rasa sakit yg melilit. Sewaktu ia berada dalam toilet, ia tak bisa konsentrasi lagi mendengar pengumuman panggilan terakhir dari pesawat yang hendak ditumpanginya.


Karena perutnya masih sakit juga, Mikayla menghabiskan waktu lama didalam toilet tersebut.


Sewaktu ia keluar dari sana, pesawat yang hendak ditumpanginya telah tinggal landas.


Mikayla hanya bisa pasrah. Ia juga harus merelakan kopernya yang telah terlanjur dibawa pergi oleh pesawat yang telah meninggalkannya. Ia kemudian bergegas ke bagian pemesanan tiket express untuk membeli tiket baru yang jam keberangkatannya hanya berselang satu jam.


Ia pun langsung check in kemudian menunggu lagi. Tak berselang lama, ia sudah duduk didalam pesawat yang akan membawanya ke Jepang untuk transit disana sebelum ke Jakarta.


Mikayla menutup matanya. Ia tak mau memandang keluar jendela. Hatinya seperti belum rela untuk meninggalkan kota itu.

__ADS_1


Perasaannya campur aduk. Tapi ada rasa lega yang perlahan menyusup relung hatinya manakala ia mengingat kota kelahirannya dan juga teman-teman se-gengnya.


Senyum kecil menemaninya tidur dalam pesawat yang telah jauh meninggalkan Amerika menuju Asia.


__ADS_2