Menikahi Gadis Berandal

Menikahi Gadis Berandal
Maaf


__ADS_3

Setelah perselisihan berhari-hari yang lalu dan sangat menguras emosi itu, Delano tak pernah lagi tidur sekamar dengan Mikayla. Ia menghabiskan setiap malam tidur di sofa.


Rasa bersalah dan penyesalan terhadap Mikayla membuatnya resah selama berhari-hari. Mikayla tak mau lagi bicara dengannya kecuali menyangkut hal yang sangat emergency.


Peristiwa yang membuatnya memaksa Mikayla bercumbu sepihak masih sangat membekas dipikiran Delano. Walaupun Mikayla telah berstatus sebagai istrinya, Delano tetap merasa jijik terhadap dirinya karena apa yang telah dilakukannya sangat melukai hati Mikayla.


Delano menarik nafasnya dalam-dalam. Ia kemudian berdiri dan berjalan ke depan pintu kamar. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam.


Delano memberanikan diri masuk ke dalam kamar. Ia sudah tak tahan dengan perang dingin diantara dirinya dan Mikayla yang sudah lebih dari seminggu. Ia bertekad untuk meminta maaf dan membujuk Mikayla untuk berbaikan.


Mikayla yang belum tertidur sedikitpun terkejut dengan kehadiran Delano yang langsung menatapnya dan perlahan naik keatas ranjang dan mendekatinya. Mikayla membalikkan badannya dan langsung menutupi seluruh badannya dengan selimut sampai keatas kepalanya.


Nafas Delano terdengar begitu dekat ditelinganya.


"Kayla....maafkan aku." ucap Delano pelan.


"Please, kita gak bisa begini terus. Bicaralah padaku, Kayl."


Mikayla tetap diam.


Delano membuka selimut yang menutupi kepala gadis itu. Ia kemudian berbisik lagi.


"Kayla. Please, maafkan aku."


Gadis itu tetap diam dengan mata yang terlihat terbuka. Nampak Mikayla sedang menggigit kukunya.


"Kayla, ...aku janji akan segera mengurus SIM khusus untukmu supaya kamu bisa naik motor kapanpun kamu mau. Tapi....please, jangan diamin aku seperti ini." pinta Delano.


Mendengar perkataan Delano, Mikayla membalikkan badannya dan mendapatkan wajah memelas Delano tepat diatasnya.

__ADS_1


"Benarkah?" ucap Mikayla singkat.


Delano tersenyum sambil mengangguk mantap.


"Asal kamu mau memaafkanku." Dalam hati Delano, gadis ini mudah sekali memaafkannya hanya karena sebuah motor.


Mikayla tersenyum kecil. Ia kemudian duduk dan bersandar.


"Delan, katakan padaku. Mengapa kamu menghukumku dengan cara itu?"


Mendengar pertanyaan Mikayla, Delano terkesiap. Ia bingung mencari kata-kata untuk menjawab pertanyaan Mikayla.


"Bolehkah aku tahu, wanita keberapakah aku yang pernah kamu perlakukan seperti itu? Apakah di negara ini hal seperti itu sudah biasa?"


Delano seketika menatap Mikayla dengan tajam.


"Kayla, supaya kamu tahu, walaupun pergaulan di negara ini sangat bebas, tapi aku bukanlah tipe lelaki seperti yang kamu bayangkan. Kamu adalah wanita pertama yang pernah aku perlakukan seperti itu walaupun caranya tidak layak dan wajar."


"Aku selalu berusaha untuk menjaga suatu hubungan dengan budaya dan nilai-nilai yang sudah ditanamkan orang tuaku. Mungkin karena itulah aku selalu gagal dalam percintaan. Mereka menginginkan lebih dariku yaitu ...dengan....meniduri mereka."


Mikayla memandang Delano dengan mimik yang masih sedikit kesal.


"Delan, agar kamu tahu, seberandalnya diriku, aku bukanlah perempuan yang liar seperti anggapanmu. Aku belum pernah menyerahkan diriku begitu saja untuk ditiduri seorang pria. Jadi...apa yang telah kamu lakukan padaku benar-benar menakutkan! Aku sampai tak bisa tidur karena ketakutan. Aku hampir saja pingsan karena belum pernah sekalipun tubuhku di....errgh....diperlakukan seperti itu." suara Mikayla terdengar bergetar ditelinga Delano.


Delano menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat.


"Maafkan aku. Maafkan kalau penilaianku keliru terhadapmu. Aku sangat menyesali semuanya."


Mikayla masih diam. Ia mencoba mencerna kata demi kata yang ucapkan Delano.

__ADS_1


Delano menatap lagi wajah putih itu.


"Kayla, apakah kita sudah berbaikan?"


Mikayla hanya mengangguk pelan. Ia juga sebenarnya tak tahan untuk terus-terusan berdiam diri.


Delano tersenyum melihat anggukan itu.


"Jadi, sudah bolehkah aku tidur kembali disini? Badanku pegal-pegal tidur disofa beberapa hari ini."


"Yang suruh kamu pindah tidur di sofa siapa?" Tanya Mikayla dengan wajah polosnya.


Delano tertawa kecil.


"Aku hanya takut kalau kamu masih trauma denganku jadi aku berinisiatif untuk menjauh darimu sesaat."


Delano menyentuh jemari tangan Mikayla.


"Besok siang datang ke kantorku ya. Aku antar kamu untuk mengurus SIM international. Nanti aku kirim pesan untuk berkas-berkas yang diperlukan agar kamu menyiapkannya."


Mikayla mengangguk dan tersenyum lega.


"Baiklah. Besok jam 12 aku sudah disana."


"Good. Sekalian kita lunch sama-sama. Udah lama kita gak makan bareng." ujar Delano sambil menarik selimut.


Mikayla membaringkan dirinya dan mencoba menutup matanya.


Delano memperhatikan itu dengan perasaan bergetar. Kejadian itu melintas lagi di pikirannya. Sejak hari naas itu, wajah Mikayla selalu terbayang diingatannya. Dan yang lebih memalukan lagi adalah, ia selalu bermimpi bercinta dengan gadis itu setiap malam!

__ADS_1


Delano berusaha sekuat-kuatnya menyingkirkan pikiran mesum yang tanpa mengenal waktu terus mengganggunya. Ia belum pernah seperti ini sebelumnya. Selama ini Ia selalu berhasil menahan gairah laki-lakinya pada wanita yang pernah sangat dekat dengannya. Tapi kali ini sungguh berbeda. Pesona Mikayla menjadi semakin kuat merantainya sejak Ia merasakan nikmatnya menciumi tubuh gadis itu!


__ADS_2