
Setelah kemunculan Celine beberapa waktu yang lalu, Delano kelihatan berubah drastis di mata Mikayla. Delano lebih sedikit berbicara dan tidak sehangat dulu. Kehadiran Mikayla disekitarnya juga terkadang tidak digubris Delano.
Mikayla mencoba mengerti keadaan itu setelah mendengar cerita tentang kehidupan cinta Delano dari Leony.
Kini Mikayla tahu kepada siapa perasaan Delano sesungguhnya. Baik Robert dan Leony tidak begitu suka dengan sifat Celine yang selalu menyakiti Delano. Namun karena Celine sudah terlanjur mendapatkan tempat paling istimewa di hati Delano, menyebabkan Delano susah untuk move on. Setiap kali Celine datang untuk memohon kembali padanya, Delano pasti akan memaafkan wanita itu!
Menurut Leony, mata Delano benar-benar telah dibutakan oleh cintanya pada Celine. Delano adalah tipe cowok yang setia dan susah untuk jatuh cinta. Tak heran, Celine menggunakan kelemahan itu untuk terus dan terus memperdaya Delano dengan bibir manisnya.
Untuk membunuh kebosanannya, setiap sore sampai menjelang malam, Mikayla menghabiskan waktunya berjalan-jalan dengan motor Delano. Ia bahkan bisa sampai ke pusat kota Los Angeles hanya untuk sekedar cuci mata.
Di Los Angeles ada sebuah cafe keren yang membuat Mikayla suka berlama-lama menghabiskan waktunya. Cafe unik itu adalah milik seorang cowok bernama Scott Lavine yang telah berteman baik dengan Mikayla dua bulan terakhir.
Cafe milik Scott adalah cafe untuk komunitas pecinta motor. Sesekali Scott mengajak Mikayla menyaksikan balapan liar yang diadakan teman-teman Scott ketika jalanan mulai sepi. Tapi kesempatan untuk bisa melihat balapan liar itu sangat langka mengingat balapan itu dimulai sekitar jam 11 atau jam 12 malam. Selama ia bersahabat dengan Scott, baru dua kali Mikayla menonton balapan liar bersamanya.
Mikayla memarkir motornya dan masuk kedalam cafe. Ia disambut oleh senyum hangat Scott yang sedang menyapa tamu-tamunya. Dimata Mikayla, Scott adalah pribadi yang hangat dan juga lucu. Ia merasa cocok berbagi cerita dengan Scott.
"Hi Kayl. Take a seat, please." ucap Scott dengan senyum manisnya.
"Thanks, Scott." ujar Mikayla sambil duduk.
(selanjutnya mereka berbincang-bincang, tapi author nulisnya dalam Bahasa Indonesia aja ya walaupun mereka bicara dalam English ππ)
# SCOTT LAVINE
"Kenapa kelihatan sumpek?" Tanya Scott ketika melihat Mikayla kurang bersemangat.
Mikayla meneguk minuman soda ditangannya.
"Aku hanya bosan aja gak ada kerjaan setelah lulus. Aku pengen kerja supaya setiap hari ada yang bisa membuatku sibuk."
Scott mengangguk sambil berpikir.
__ADS_1
"Kamu tertarik gak kalau kerja ditempat Bibiku. Namanya Laura Lavine. Ia punya beberapa buah toko butik dan salah satu cabangnya di Beverly Hills baru saja dibuka. Nah, Bibiku lagi cari seorang asisten accounting. Kalau gak salah kamu pernah bilang kalau kamu lulusan accounting kan?"
Mikayla menatap Scott dengan tatapan penasaran. "Benarkah? Bisakah aku melamar sambil menunggu izin visa kerjaku keluar?
Scott tersenyum."Pasti bisa kalau aku yang merekomendasikan. Kamu segera bikin CV aja dan kirim ke alamat email Bibiku yang akan aku kirim ke WhatsApp kamu. Setelah itu langsung urus visa kerjamu ya."
Mikayla tersenyum senang. "Kalau begitu aku akan segera siapkan malam ini dan kirim sama Bibimu. Semoga bisa diterima."
Scott tersenyum mantap. "Aku pastikan kamu diterima."
"Thanks a lot, Scott. You're such a very helpful friend."
.
.
.
.
Semenjak mengetahui bahwa Delano telah menikah, Celine bukannya mundur, tapi malahan lebih gencar lagi menemui Delano.
Ia masih sering-sering muncul di kantor Delano atau ketika Delano sedang menikmati kesendiriannya disebuah cafe atau club malam.
Delano menarik nafasnya dengan berat. Ia menyadari dua bulan terakhir ini Ia tidak begitu menunjukkan perasaannya pada Mikayla. Semua itu karena Ia tak mau menyakiti hati Mikayla dengan harapan yang tidak jelas.
Terkadang perasaan rindu terhadap gadis itu sangat menyiksanya. Hasratnya untuk mencium dan membelai wajah manis itu masih sering datang tak terkendali namun ia sadar kalau Ia tak ingin menjadi pria brengsek yang hanya mementingkan nafsu semata.
Untuk menghindari hasrat itu, Delano terpaksa harus menjaga jarak dengan cara tidak banyak bicara dan tidak menunjukkan perhatian dan kepeduliannya pada Mikayla.
Ia tahu kalau Mikayla menyadari perubahan dirinya itu. Walaupun pada akhirnya dirinyalah yang semakin merasa penasaran bagaimana sebenarnya perasaan Mikayla terhadap dirinya mengingat gadis tidak pernah kelihatan sedih ataupun protes terhadap perlakuannya selama ini.
Delano mengacak rambutnya. Sejuta pertanyaan tentang Mikayla seakan datang dan pergi. "Tak adakah sedikitpun perasaannya padaku? Mengapa Ia tak pernah menanyakan soal Celine? Seakan-akan ia tak pernah keberatan jika aku kembali kepelukan Celine!"
__ADS_1
Delano menyandarkan kepalanya dikursi dengan mata terpejam. Beberapa saat kemudian Ia melirik jam ditangannya. "Sudah pukul setengah sembilan." gumamnya.
Ia kemudian meraih hape dan blazernya. Delano memutuskan untuk menenangkan pikirannya disebuah cafe di pusat kota Los Angeles.
.
.
.
.
Delano meneguk minumannya dengan perasaan yang sudah sedikit lega. Ia memperhatikan orang-orang yang lalu lalang dari kaca jendela yang sedikit terpisah dari pelanggan lainnya.
Tiba-tiba ia merasakan ada sebuah sentuhan lembut di pundaknya.
"Boleh aku temani?" ucap suara itu.
Delano tak bergeming karena Ia kenal betul suara itu. Ya, siapa lagi kalau bukan Celine yang seakan-akan telah memasang GPS ditubuhnya karena kemanapun Delano pergi, ia bisa muncul sewaktu-waktu.
Celine bergelayut dipundak Delano tapi Delano hanya mengabaikannya.
"Aku temani minum ya?" ucap Celine sambil menyentuhkan gelasnya ke gelas Delano yang hanya diam tak menggubriskannya.
Celine tak ambil pusing walaupun Delano nyata-nyata menunjukkan bahwa kehadirannya disitu tak berarti apa-apa dimata pria tampan itu. Bagi Celine, cepat atau lambat, Delano pasti akan jatuh juga kepelukannya.
Tak jauh dari situ, sepasang mata sedang memperhatikan keduanya. Ada rasa kecewa dimata gadis itu yang sejak sore telah menghabiskan waktunya berbicara dengan Scott tentang pekerjaan.
Mikayla berusaha menutupi kekecewaannya dengan meneguk minumannya. Selama ini ia selalu berusaha menyembunyikan perasaannya pada Delano. Ia tahu kalau hati Delano lebih memilih Celine, dan Mikayla memaklumi hal itu.
Mikayla berdiri dan mencari Scott untuk pamit. Ia kemudian keluar lewat pintu samping dan langsung melarikan motornya untuk pulang. Ia bertekad untuk menyelesaikan CVnya dan kemudian mengirimkannya pada Bibinya Scott.
Ia berjanji untuk sekuat tenaga menghilangkan segala rasa tentang Delano dari hatinya. Bagaimanapun pernikahan mereka hanyalah sebuah keterpaksaan yang bisa berakhir sewaktu-waktu!
__ADS_1