
Mikayla duduk diatas motornya sambil memperhatikan para pembalap liar sedang beradu dari kejauhan. Tangannya sibuk memainkan helm sambil sesekali tersenyum melihat para penonton yang sangat antusias.
Mikayla sengaja berdiri agak jauh dari kerumunan penonton karena jika sewaktu-waktu polisi muncul, ia bisa lari tanpa kesulitan.
Tiba-tiba sebuah tepukan lembut mendarat dibahunya dan Ia benar-benar terperanjat ketika mengetahui sosok yang sudah berdiri disampingnya dengan wajah serius.
"Delon?" pekik Mikayla yang membuat helm ditangannya jatuh. Delon langsung memungut helm itu dan menggantungnya di setang motor Mikayla.
"Apa kabar Kayla? Pastinya kamu sedang bahagiakan?" suara Delon datar.
Mereka beradu pandang namun beberapa detik kemudian Mikayla memalingkan mukanya kedepan.
"I'm fine. Makasih."
Delon tersenyum kecut dengan jawaban singkat gadis didepannya.
"Selamat ya. Kakakku adalah pilihan yang sangat tepat. Dia pria yang sangat sempurna dimata orang tuaku. Dia sangat pantas untukmu mengingat dia adalah pria yang mapan secara ekonomi dan sangat baik memperlakukan wanita. Tidak seperti aku...." Delon berhenti sejenak.
__ADS_1
Mikayla dapat merasakan ada getaran yang berusaha ditahan Delon ketika mengucapkan kalimat-kalimat tersebut.
"Sejujurnya aku tidak menginginkan pernikahan ini..." ucap Mikayla pelan.
Delon tersenyum sekilas. "Aku percaya kamu bisa menjadi wanita yang selayaknya bersama Delano. Dia memiliki banyak kelebihan yang tidak aku miliki. Aku tak ada apa-apanya. Sejujurnya aku tidak pernah bisa menerima keputusanmu setahun yang lalu untuk putus dariku. Tapi kemudian aku sadar kalau aku gak bakalan bisa membahagiakanmu. Kita berdua terlalu mirip dalam banyak hal. Sama-sama keras kepala dan gak mau mengalah. Maafkan aku. Baru saat ini aku bisa mengucapkan kata maaf yag seharusnya sudah kuucapkan padamu setahun yang lalu. Aku ingin hubungan kekeluargaan diantara kita tercipta dengan baik karena bagaimanapun juga kamu akan menjadi saudara iparku, istri dari kakakku."
Mikayla membuang nafasnya dengan berat.
"Maafkan aku juga Delon. Kita memang terlalu mirip dalam segala hal, tapi aku dan kakakmu terlalu jauh berbeda pula dalam banyak hal. Aku tak menginginkanmu ataupun kakakmu dalam kehidupanku. Sejujurnya, aku hampir gila dengan perjodohan ini, tapi.....aku tak berdaya!"
"Percayalah, kakakku adalah pria yang sangat baik. Aku jamin untuk yang satu ini. Reputasinya sangat jauh berbeda denganku yang hanyalah seorang berandal yang tidak pasti masa depannya. Jika kamu bisa menerimanya dengan tulus, maka aku akan sangat berbahagia untuk kalian."
"Tapi aku tak mencintainya!" ucap Mikayla dengan nada suara kecewa.
"Tak akan bisa mencintainya!"
Delon menatap wajah gadis disampingnya.
__ADS_1
"Berusahalah untuk itu. Belajarlah sedikit demi sedikit untuk mencintai kakakku. Aku yakin kamu pasti bisa jatuh cinta pada pria sebaik Delano."
Mikayla mengangkat kepalanya dan menatap wajah Delon yang terlihat sarat kesedihan.
"Boleh aku memelukmu untuk yang terakhir kali?"
Delon tersenyum sambil mengangguk. Ia langsung menarik gadis itu dalam pelukannya dan mendekapnya erat. Keduanya berpelukan dengan mata terpejam, meresapi setiap detik kehangatan pelukan masing-masing.
Baik Mikayla maupun Delon menyadari bahwa semua telah usai diantara mereka dan mereka harus memulai suatu hubungan baru yaitu hubungan kekeluargaan.
Dari jarak seratus meter dimana kedua insan itu sedang berdiri saling berpelukan erat, seorang pria sedang menatap mereka dengan perasaan yang kalut dan bingung. Pria itu adalah Delano yang sedari tadi diam-diam mengikuti Mikayla hanya untuk melihat bagaimana balapan liar berlangsung mengingat Ia belum pernah berada di tempat seperti itu.
Delano tak menyangka ia akan menyaksikan pertemuan adiknya dengan calon istrinya di tempat itu. Menyaksikan kedua insan tersebut membuat perasaan bersalah memenuhi hati dan pikirannya.
Delano benar-benar merasa bersalah pada adiknya. Apakah benar Delon masih sangat mencintai Mikayla? Apakah mungkin mereka belum benar-benar ikhlas untuk putus? Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikiran Delano. Ia sadar bahwa Ia telah terjerat dalam cinta segitiga yang tak pernah diinginkannya. Ia sendiri harus berjuang keras bagaimana untuk dapat mencintai Mikayla jika telah menikah nanti karena Ia menyadari bahwa untuk dapat jatuh cinta pada gadis itu adalah hal yang sangat mustahil baginya!
Delano berlalu dari tempat itu. Ia berjalan cukup jauh untuk sampai ketempat ia memarkir mobilnya. Ia kemudian memacu mobilnya dengan perasaan tak karuan. Ia kemudian berteriak sekeras-kerasnya beradu dengan musik rock yang juga diputarnya dengan keras!
__ADS_1