
Mikayla berlari kecil menuruni tangga. Konsultasinya berjalan sangat lancar bahkan pembimbingnya sudah memberinya lampu hijau untuk mengerjakan dua bab terakhir dari skripsinya. Mikayla jadi bersemangat untuk segera menyelesaikan skripsinya mengingat sebentar lagi ia harus mengikuti suaminya pindah ke Amerika walaupun sebenarnya ia tak ingin meninggalkan negaranya.
Tapi mau bagaimana lagi, hidupnya kini dibiayai penuh oleh Delano. Semua kebutuhannya sangat bergantung dari kartu-kartu debit yang diberikan Delano. Orang tuanyapun tidak lagi memberinya uang jajan. Jadi dengan terpaksa ia harus mengikuti kemana Delano membawanya, suka atau tidak.
Mikayla berjalan kearah sebuah taman kampus dimana Delano sedang menunggunya. Tampak Delano dengan kacamata hitamnya sedang sibuk dengan hapenya.
"Aku sudah selesai." ucap Mikayla begitu tiba di depan Delano.
Delano mengangkat wajahnya.
"Gimana konsultasinya?" Tanya Delano dengan wajah datarnya.
"Lancar. Aku harus segera menyelesaikan dua bab terakhir sebelum kita berangkat." ucap Mikayla seraya duduk disamping Delano.
Tiba-tiba dari arah samping dimana keduanya sedang bercakap-cakap, beberapa suara memanggil nama Mikayla. Mereka adalah teman-teman satu geng Mikayla.
"Woi...Kayla..." terdengar panggilan bersahut-sahutan dari beberapa orang yang sedang melambaikan tangan kearah Mikayla.
Mikayla tersenyum sambil melambaikan tangannya.
"Hai Kayla, udah beberapa hari gak kelihatan." ujar Aldo.
"Iya nih. Maaf aku lumayan sibuk akhir-akhir ini." jawab Mikayla dengan wajah sedikit gugup karena mata semua temannya sedang tertuju pada sosok tampan disampingnya.
"Boleh dong kenalan dengan...ehm.." ucapan Kinanti langsung disambut Delano dengan sebuah senyuman ramah.
"Delano. Saya Delano, suami Mikayla." ujar Delano tanpa basa basi yang langsung membuat Mikayla menunduk malu dan salah tingkah. Ia tak berani menatap wajah teman-temannya lagi.
"Wah, banyak selamat ya. Udah nikah kok gak bilang-bilang? Pantes gak kelihatan beberapa hari ini." ujar Chintya.
__ADS_1
"Hmm...karena anggota the Voyages tidak diundang, berarti kita kita mesti ditraktir dong." ucap beberapa teman Mikayla.
Mikayla jadi serba salah. Ia jadi gak enak dengan Delano atas kehadiran teman segengnya. Ia takut membuat Delano tidak nyaman.
"Sorry guys, pernikahan kami hanya untuk keluarga dekat saja jadi gak ngundang siapa-siapa termasuk kalian. Maafin yah."
Ujar Mikayla dengan wajah setengah meringis. "Dan untuk traktirannya ehm...ergg..nanti..."
"Sekarang aja. Kalian punya waktu sekarang kan?" ucap Delano memotong ucapan Mikayla.
Ucapan Delano disambut senyum merekah dan anggukan dari semua anggota geng voyages.
"Good. Kalian mau makan-makannya dimana. Aku dan Mikayla terserah kalian aja." lanjut Delano dengan senyuman mantap.
Mikayla yang sedari tadi belum percaya dengan reaksi Delano, masih mematung dengan mulut setengah terbuka. Ia masih tak percaya kalau Delano benar-benar mau mentraktir teman-teman segengnya. Pikirnya, kok bisa Delano mau akrab dengan teman-temannya yang notabene sangat jauh dari selera pergaulannya?
"Di kawasan Dreamy Boulevard aja. Disana tempatnya asik. Ada pemandangan lautnya. Makanan dan minumannya juga enak-enak." seru seorang dari mereka yang langsung diiyakan oleh semua anggota voyages lainnya.
Mikayla masih terdiam dengan pandangan bingung. Ia kemudian berdiri dan menarik lengan Delano setelah semua temannya beranjak mengambil motor mereka masing-masing.
"Kamu yakin mau traktir teman-teman segengku? Apa kamu gak risih dengan mereka?" bisik Mikayla pada Delano dengan wajah khawatir.
Delano hanya tersenyum singkat.
"Kenapa? Kamu pikir aku orangnya pilih-pilih teman? Mulai sekarang, temanmu adalah temanku juga. Selama mereka baik, kenapa mesti menjauhi mereka?"
Mikayla hanya mengangguk pelan mendengar respon Delano.
"Dan kamu, please lepaskan tanganku sekarang!" ujar Delano yang membuat Mikayla kaget dan langsung melepaskan tangannya dari lengan Delano.
__ADS_1
"Ayo berangkat. Mereka sudah menunggu kita." ujar Delano sambil melangkah meninggalkan Mikayla yang masih belum percaya dengan sikap Delano.
.
.
.
.
.
Mikayla hanya bisa menatap sahabat-sahabatnya yang terlihat cepat akrab dengan Delano. Mereka sedang bercakap-cakap dengan antusias, terutama sesama cowok yang asyik membahas tentang motor-motor mereka. Mikayla baru tahu kalau Delano ternyata penggemar motor juga. Dari pembicaraan yang ditangkap Mikayla, Delano banyak tahu tentang banyak hal sampai sedetil-detilnya tentang motor.
Kinanti menyentuh lengan Mikayla.
"Kayl, kok kamu banyak diamnya? Gak biasa aja kamu seperti ini."
Mikayla hanya tersenyum kecut. "Aku hanya kurang bersemangat aja."
"Lho, pengantin baru kan seharusnya lagi hepi-hepinya." Kinanti menepuk pundak Mikayla agar gadis itu tersenyum.
"Eh...tapi suamimu itu keren banget lho. Udah tampan, mapan pula. Ditambah lagi ia gak risih makan bareng kita-kita. Top banget deh pokoknya."
Mikayla hanya menarik nafas panjang mendengar perkataan Kinanti.
"Biasa aja. Gak ada yang istimewa."
"Aku sarankan kamu mesti melekat terus sama suamimu. Kalau gak, para pelakor siap gentayangan. Siapa sih yang gak terpesona dengan tampang suamimu ditambah lagi ia sangat mapan secara financial plus dari caranya berbicara kelihatannya suamimu itu orang jenius."
__ADS_1
Lagi-lagi Mikayla hanya tersenyum singkat dan tidak merespon tanggapan Kinanti walaupun Ia membenarkan pendapat temannya itu. Dimatanya, Delano hanyalah makhluk biasa-biasa saja. Tak lebih dan tak kurang.