
Semua anggota geng Voyage hanya bisa terdiam sejenak mendengar pengakuan sahabat mereka yang kelihatan sangat depresi.
"Jadi, orang tuamu akan menikahkanmu dengan kakaknya Delon?" suara Gina meninggi.
Mikayla hanya mengangguk lemah. Terlihat sekali kalau gadis itu banyak pikiran akhir-akhir ini.
"Dengan om om! Umurnya lebih tua delapan tahun! Hari sabtu, lusa kami akan dipertemukan dalam acara lamaran."
Aldo tersenyum kecil mendengar Mikayla menyebut kata 'om om'
"Kayl, bedanya cuma delapan tahun kok. Banyak pasangan yang malahan bedanya sepuluh tahun bahkan lebih. Lagian kalau umur tiga puluhan itu masih wajar kok. Untuk seorang pria, usia tiga puluhan itu justru lebih menawan karena terlihat lebih dewasa."
Mendengar penuturan Aldo, Mikayla langsung melemparkan helmnya ke arah dada Aldo yang langsung ditangkap Aldo dengan sedikit kewalahan. Semua yang ada disitu langsung tertawa.
"Eh... ngomong-ngomong, gimana tampang kakaknya? Kalau Delon aja udah setampan itu, gimana kakaknya ya? Penasaran juga." ucap Chintya sambil meletakan kedua tangannya kedagu dan mulai berhayal.
"Gak tahu, ah! Bodo amat. Aku gak pernah liat tampang kakaknya Delon dan aku gak tertarik sama sekali!" ucap Mikayla dengan tampang sangat kesal.
"Wah....padahal aku suka banget menikah sama cowok dewasa. Terlihat lebih gimana gitu... pokoknya seperti kata Aldo, lebih menawan!" Chintya tersenyum bahagia.
"Ya, udah. Kalau mau nikah sama pria dewasa, sana nikah sama Pak Teguh! udah botak, jomblo tulen lagi..." seru Mikayla yang dibalas dengan senyuman sinis oleh Chintya.
"Kalau yang satu itu tuh namanya bujang lapuk!" umpat Chintya dan disambut gelak tawa oleh semua yang ada disitu.
"Udah ah...udah hampir jam tiga. Sorean gini mamaku udah mau nyampe rumah. Aku duluan ya. Takut fasilitas kartu kreditku diblokir nyokap." ujar Mikayla sambil berdiri, memasang helmnya dan menuju tempat motornya yang diparkir tidak jauh dari tempat mereka nongkrong.
Beberapa anggota yang lain juga kelihatan hendak beranjak dari situ.
# Mikayla diatas motornya
Ketika Mikayla melarikan motornya, tanpa Ia sadari ada beberapa anggota geng Apachel yang mengikutinya. Mikayla mengira bahwa mereka adalah rekan rekan segengnya sehingga ia tidak menggubris hal itu.
Sungguh malang nasib Mikayla kali ini karena ternyata motor-motor yang mengikutinya sejak tadi adalah milik beberapa anggota geng Apachel yang beberapa waktu lalu berkelahi dengannya. Jumlah mereka kali ini lebih banyak dari sebelumnya!
Motor Mikayla dihadang oleh mereka. Kini posisi Mikayla berada ditengah-tengah lingkaran para anggota geng Apachel yang semuanya adalah pria dan berjumlah sekitar tujuh sampai delapan orang.
Mikayla sedikit bergidik. Ia tak menyangka jika ternyata geng tersebut masih dendam padanya soal peristiwa di pasar kilat tempo hari.
Perkelahian tak dapat dihindari. Mikayla tak sempat lagi menelpon teman-temannya.
Dengan keahlian karate yang sudah dikuasainya sejak kecil, Mikayla berusaha menumbangkan beberapa orang dari geng tersebut. Namun jumlah mereka yang lumayan banyak bukanlah lawan yang seimbang bagi Mikayla yang memiliki kekuatan yang terbatas. Sebuah tinju melayang kearah wajahnya yang beruntung masih ditutupi helm. Pandangannya terasa berkunang-kunang tapi dengan cepat ia berusaha menguasai keadaan.
Tendangan dan juga serangan tangannya berusaha melumpuhkan beberapa pria yang mencoba menangkis setiap serangan Mikayla.
__ADS_1
Mulai kewalahan, Mikayla berusaha bertahan dengan cara menangkis dan menghindari serangan. Pikirnya, kekuatannya akan banyak terkuras jika terus melakukan serangan.
.
.
.
.
.
# Beberapa kilometer dari tempat Mikayla berada.
Seorang pria yang baru beberapa menit yang lalu dijemput oleh supir pribadi keluarganya dari Bandara, tampak memperhatikan dengan saksama keadaan kota kelahirannya yang hanya sekali-kali dikunjunginya. Jika kunjungan-kunjungan sebelumnya Ia selalu tampak senang dan bersemangat, kali ini Ia benar-benar tidak menikmatinya mengingat kepulangannya kali ini adalah untuk melepas lajang!
Pria tersebut adalah Delano. Ia memasang kembali kacamata hitamnya karena matahari sore yang masih cukup garang tepat menerpa wajahnya menembus kaca mobil. Hari itu ia hanya mengenakan kaos oblong warna biru dipadukan dengan jeans biru tua dan sepatu sport.
Tubuhnya masih terasa pegal disana sini karena jetleg selama dipesawat dimana ia harus menghabiskan waktu sekitar 22 jam penerbangan dari Amerika ke Indonesia dengan sekali transit di Jepang.
Mobil berbelok kearah jalan pintas yang agak sepi untuk menghindari kemacetan.
Tiba-tiba sopir menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.
Delano menurunkan kaca mobilnya dan melihat kejadian di depannya.
Seorang perempuan dikeroyok oleh para pria.
"Nih, cewek kasian banget, tapi dia jago juga. Sudah empat orang yang jatuh ke tanah. Tapi ini bukan lawan yang seimbang! Dia bisa babak belur dan bahkan mati bila dikeroyok laki-laki sebanyak itu!"
Delano langsung tahu kalau yang sedang dikeroyok itu adalah seorang perempuan karena ia melihat rambut panjang yang diikat walaupun helm perempuan itu masih terpasang. Dan juga, dari bodinya yang ramping dengan setelan pas badan menyiratkan kalau ia adalah seorang perempuan!
Melihat perempuan tersebut sudah mulai kewalahan, Delano keluar dari mobilnya.
"Pak, tunggu disini. Aku harus menolong cewek itu. Kasihan dia."
Delano berlari kearah pertempuran yang berat sebelah itu.
"Hey! Hentikan kalian semua! Mengapa kalian beramai-ramai main keroyok seorang perempuan?" teriak Delano yang sontak mengagetkan semuanya yang terlibat perkelahian tersebut, termasuk Mikayla.
"Hey, jangan ikut campur urusan orang kalau gak mau babak belur juga kamu!" balas seseorang diantara mereka.
Delano langsung memasang kuda-kuda begitu melihat dua orang hendak menyerangnya. Perkelahian tak dapat dihindari dan kali ini sudah terjadi keseimbangan.
Tak berselang lama, Delano sudah melumpuhkan semua anggota geng itu dengan kemapuan tendangan taekwondonya.
__ADS_1
Satu persatu anggota geng tersebut mengambil motor mereka hingga tak satupun yang tersisa.
Delano mendekati Mikayla yang masih ngos-ngosan duduk diatas aspal.
"Kamu baik-baik saja?"
Mikayla mengangguk sambil memandang pria yang baru saja menjadi malaikat penolongnya.
"Makasih banyak atas pertolonganmu."
Delano tersenyum hangat.
"Pulanglah. Lain kali kamu harus lebih berhati-hati lagi." ucap Delano menatap kasihan pada wajah yang hanya nampak bagian mata saja karena ditutupi helm.
Mikayla mengangguk. Dengan sedikit pincang ia berjalan meraih motornya dan berlalu dari hadapan Delano.
# Delano yang tersenyum hangat setelah menolong Mikayla
Delano menatap kepergian Mikayla dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Gadis berandal!" gumamnya.
Ia kemudian menuju mobilnya.
"Pak Ahmad, ayo jalan."
Pak Ahmad mengangguk dan langsung menjalankan mobil.
"Wah...Tuan jago amat melumpuhkan pria sebanyak itu. Kayak di film-film Hollywood! Kira-kira anak siapa ya si perempuan yang dikeroyok itu...dari penampilannya kayaknya dia emang suka berkelahi. Ckckck...anak muda jaman sekarang, kerjanya cuma bikin susah orang tua saja."
Delano tersenyum kecil lalu merapikan pakaiannya. "Sama kayak adikku Pak, si Delon. Kerjaannya cuma bikin susah orang tua."
Pak Ahmad langsung tersenyum tanda setuju. "Iya, Tuan Delan beda banget sama Tuan Delon walaupun wajah sangat mirip tapi sifat sangat berbeda."
Delano mengangguk lagi sambil memejamkan matanya.
"Kayaknya adikku cocok jika dinikahkan sama cewek berandal kayak yang tadi itu. Dua-duanya suka berkelahi dan bikin pusing orang tua!"
Pak Ahmad tertawa dengan suara yang kuat.
"Wah, tambah hancur dong."
Keduanya pun hanya bisa tertawa sepanjang perjalanan menuju rumah.
__ADS_1