Menikahi Gadis Berandal

Menikahi Gadis Berandal
Percakapan


__ADS_3

Sore itu, sesuai permintaan ibunya, Delano memacu mobilnya ke rumah Mikayla karena Ia harus menjemput Mikayla untuk fitting gaun pernikahan sekaligus foto pre-wedding di studio. Baik Delano dan Mikayla tidak suka mengadakan sesi foto outdoor, mereka hanya ingin semuanya serba tertutup. Lagian keduanya berpikir sama bahwa pernikahan mereka tak akan berlangsung lama. Mereka hanya ingin menyenangkan hati orang tua mereka untuk sementara saja!


Delano tiba di rumah Mikayla, yang disambut Nyonya Anggita dengan senyum ramah.


"Selamat pagi, Tante." ucap Delano dengan ramah.


"Silahkan masuk Nak Delan. Mikayla udah siap kok dari tadi. Dia ada diteras belakang dekat taman. Langsung aja kesana." kata Nyonya Anggita sambil menunjukkan jalan dengan tangannya.


Delano mengangguk sambil tersenyum lalu berlalu ke arah jalan yang ditunjukkan Nyonya Anggita.


Pada saat sampai dipintu yang menuju teras taman belakang, Delano mendengar suara Mikayla yang sedang berbicara dihapenya. Delano mengurungkan niatnya untuk menyapa Mikayla karena Ia tak ingin mengganggu percakapan tersebut yang kedengarannya lumayan serius. Delano memutuskan untuk menunggu sampai Mikayla selesai dengan percakapannya.


Sayup-sayup tanpa sengaja Delano dapat mendengar percakapan tersebut.


Mikayla: "Gina, kamu sendirikan tahu kalau aku belum bisa .... dan mungkin gak akan pernah bisa menggantikan nama Delon dari hati aku. Aku gak tahu harus bagaimana bila bertemu Delon. Apa kira-kira yang akan dikatakannya kalau dia tahu aku akan menikah dengan kakaknya? Aku gak mau Delon berpikir kalau aku mau balas dendam padanya!"


Hening. Mikayla sedang mendengarkan suara diseberang berbicara.


Mikayla: "Benarkah yang kamu bilang itu? Kamu tahu dari mana kalau Delon sedang stress?"


Hening.


Mikayla: "Apa? Jadi waktu dia mabuk, dia panggil-panggil namaku? Memalukan!"


Hening.


Mikayla: "Dia bilang kalau dia masih cinta sama aku? Wait...wait... gak salah? Orang tuaku gak setuju aku sama Delon. Orang tuaku gak suka dengan sikapnya makanya aku dijodohin sama Delano."


Hening.


Mikayla: "Delano orangnya baik. Pokoknya beda banget sama Delon walalupun aku sama dia sering bertengkar. Kami gak cocok aja. Mungkin karena umur kami lumayan jauh bedanya. Yang jelas aku tuh bukan tipenya."


Hening.

__ADS_1


Mikayla: "Gak! Aku sama Delon udah tamat! Dia udah mengkhianatiku, walaupun aku masih gak bisa melupakannya."


Hening.


Mikayla: "Iya. Minggu depan aku nikah sama Delano. Maaf, aku gak ngundang siapa-siapa. Semuanya cuma keluarga dekat. Aku gak mau kehidupan pernikahanku terekspos. Memalukan! Aku tak pernah menginginkan semua ini. Pengen lari dari rumah dan menghilang tapi... aku gak sanggup jika harus hidup dijalanan!"


Hening.


Mikayla: "Baiklah. Kita sambung bentar malam aja ya bicaranya. Aku juga ada janjian sore ini. Bye."


Mendengar Mikayla telah mengakhiri percakapannya, Delano terpaksa berpura-pura masuk kembali kedalam rumah. Ia menunggu beberapa menit kemudian berjalan kembali kearah Mikayla yang masih dengan posisi duduk membelakanginya.


"Met pagi, Kayl." ucap Delano yang membuat Mikayla langsung berpaling kearah datangnya suara.


"Sudah siap ke studio? Crew make up sudah siap menunggu kita." ucap Delano dengan nada suara datar.


Mikayla hanya mengangguk tanpa semangat. Ia kemudian berdiri dan mengambil tasnya.


Delano mengikuti Mikayla dari belakang. Mereka kemudian pamitan pada Nyonya Anggita dan berlalu dari situ menuju studio.


Baik Mikayla maupun Delano hanya diam selama perjalanan. Masing-masing dengan pikirannya sendiri. Mikayla masih memikirkan perkataan Gina tentang Delon, sedangkan Delano sedang memikirkan ucapan Mikayla tentang adiknya. Delano masih sedikit syok mengetahui bahwa gadis yang akan dinikahinya adalah mantan kekasih adiknya. Yang lebih membuatnya tidak enak adalah baik Mikayla dan Delon sama-sama masih memiliki perasaan.


Percakapan yang didengar Delano tadi kini telah membawa titik terang mengapa adiknya selalu pulang dalam keadaan mabuk semenjak dia tahu bahwa dirinya akan segera menikah dengan Mikayla!


.


.


.


.


#Di studio foto

__ADS_1


Delano hanya bisa menatap sosok cantik dan mempesona dihadapannya. Gaun pengantin sederhana namun elegan benar-benar menonjolkan sisi charming seorang Mikayla. Gaun pilihan ibunya membuat gadis itu nampak sangat sexy dan memikat. Make up minimalis Mikayla menambah pesonanya sebagai seorang wanita yang sebenar-benarnya.


Namun semua itu tidak begitu dinikmati Delano. Perasaan bersalah dalam hatinya terhadap adiknya telah membuatnya resah.


"Aku telah merebut gadis yang dicintainya! Mengapa Delon tak pernah mengatakan hal ini padaku?" gumam Delano sambil merapikan Tuxedonya. Ia menyadari bahwa hubungannya dengan Delon tidak begitu dekat semenjak ia pindah ke Amerika. Ditambah lagi orang tua mereka yang sering membanding-bandingkan mereka telah membuat Delon semakin menjaga jarak dengan dirinya.


"Wah.... Mas Delano dan Mbak Mikayla benar-benar pasangan yang amat serasi! Dua-duanya ganteng dan cantik." ucap seorang crew pada Delano dan Mikayla yang sudah selesai didandani.


Baik Mikayla maupun Delano hanya tersenyum kecil.


"Ayo menuju ruangan foto." kata mbak dari crew itu sambil berjalan didepan mereka menuju ruangan studio foto.


Sesi foto-foto berjalan lumayan lancar. Walaupun keduanya agak terpaksa, namun mereka melakukannya dengan baik.


Selama jalan bersama hari itu, mereka hanya bicara seadanya. Keduanya berusaha menutupi perasaan masing-masing yang sedang resah. Mikayla berusaha bersikap normal dengan menanyakan hal-hal tentang mereka berdua.


"Delan, kalau udah nikah, kita mau tinggal dimana? Aku gak mau tinggal dirumah orang tuaku ataupun orang tuamu. Sungguh!"


Delano hanya menarik nafasnya. "Kita akan pindah ke Amerika. Itupun kalau kamu mau. Aku kerja disana, jadi gak mungkin menetap disini." jawab Delan dengan asal.


Mikayla terdiam sejenak. "Wah gawat dong. Aku bakalan kesepian disana. Gak punya teman!"


"Tenang aja. Nanti aku kenalkan sama pacarnya asistenku, Leony. dia orang Indonesia peranakan jadi bisa bicara bahasa Indonesia dengan lancar. Kamu bisa berteman dengan dia." ujar Delano sambil memasang kaca mata hitamnya karena cahaya matahari menyilaukan matanya saat menyetir.


Delano melirik Mikayla dari kaca spion diatasnya. Gadis itu kelihatan resah sambil menggigit bibirnya.


"Setelah nikah nanti kita langsung tinggal diapartemenku yang baru aku beli. Untuk sementara waktu saja kita disana sambil menunggu tanggal kepulangan ke Amerika. Aku juga gak mau tinggal sama orang tua. Gak enak kalau mereka dengar kita berantem nantinya. Aku sudah menyiapkan semuanya. Kamu tinggal bawa baju aja."


Mendengar perkataan Delano, Mikayla merasa lega. Setidaknya ia tak akan merasa sungkan dan risih jika bertengkar dengan Delano.


"Makasih sudah memikirkan dan menyiapkan semuanya. Setidaknya orang tua kita tak perlu menyaksikan kebodohan kita didepan mereka."


Dalam pikiran Mikayla ia tak harus tidur sekamar dengan Delano nantinya karena kalau tinggal serumah dengan orang tua, mau tak mau mereka harus sekamar!

__ADS_1


__ADS_2