
Saat ini Grace sudah berada di dalam mobil, dengan koper yang baru saja di masukkan oleh anak buah Gilang.
Di dalam mobil, Grace terlihat melamun dia selalu saja memikirkan kejadian yang di limpahkan oleh keluarga itu kepadanya.
"Apa yang akan aku katakan pada ayah, pada semua orang, bagaimana aku bisa menceritakannya,"batin Grace di dalam mobil dengan air mata yang masih terus menetes
Grace menghapus air matanya. Mata sembab, bibir yang sudah membiru dan wajah pucat itu, dia sudah terlalu bosan seperti ini terus di rumah itu. Seharusnya dia lebih bahagia dia bisa keluar dari rumah itu, rumah yang selalu membuatnya menderita dan sengsara dengan orang-orang kejam di dalamnya.
Ijlan yang melihat semua itu hanya bisa diam, sebenarnya dia sangat suka melihat tuannya menikahi wanita sebaik Grace, ditatapnya perempuan paruh baya yang pucat itu dengan tatapan sedu dan sedih.
"Nona maafkan saya, saya tidak bisa berbuat apa-apa pada nona, nona itu orang baik. Saya yakin nona, tuan hanya marah saja saat ini tapi dalam lubuk hatinya dia terlihat sangat rapuh melihat nona diusir seperti ini, dia pasti akan datang menjemput nona lagi, aku yakin itu
Aku juga yakin, bahwa tuan mencintai nona, nona percayakan saja pada saya, saya akan mencari tahu siapa yang telah membunuh kakek, saya dan Jhon akan menyelesaikan semua tuduhan atas nona ini"batin Ijlan saat mobil mereka melaju meninggalkan rumah besar dan tinggi itu.
.
.
.
.
.
Sementara di sebuah ruangan, Gilang tengah marah dan membanting barang-barang di dalamnya.
Gilang seperti sangat marah pada dirinya sendiri, kenapa bisa dia meninggalkan kakeknya waktu itu dan membiarkannya keluar sendirian.
Dia juga marah pada orang yang sudah mengisi hari-harinya selama 1 tahun dan menjadi istri yang tak pernah membantahnya.
Dia merasa sangat hancur, kenapa saat dia sudah mulai nyaman dengan Grace dan ingin membahagiakan nya Grace malah membuat kekacauan ini.
"Arghh.....!"teriak Gilang frustasi, memukul diri sendiri dan melampiaskan kemarahannya pada barang-barang yang tak berdosa itu
Air mata yang sudah puluhan tahun tidak pernah terlihat, harus keluar hari ini. Dia sedih memikirkan akan kematian sadis kakeknya yang amat sangat dia sayangi itu.
__ADS_1
Bajunya yang sudah berantakan dengan wajah pucat serta tubuh yang lemah Gilang tersungkur ke lantai dan mengingat kembali saat-saat bahagianya bersama Grace. Nampak dari wajah kusutnya yang sama seperti bajunya itu hatinya juga sangat kusut hari ini.
"Kenapa harus Grace,,, kenapa?"teriak Gilang hancur membanting sebuah gelas di tangannya
Ya, Gilang sekarang sedang berada di sebuah ruangan khusus VVIP di club ternama di kota itu, yang selalu menjadi tempat Gilang melampiaskan amarahnya.
Tidak ada yang bisa menghalanginya dan membantahnya. Sekali dia berkata tidak yah, tentu tidak. Bahkan Jhon yang selalu menemani Gilang kemana saja dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.
.
.
.
.
.
"Grace, kapan datang sayang?"ucap bunda Sania melihat putrinya itu berdiri diam di pintu dengan mata kosong serta tubuh lemas dan pucat
"Sayang, kau kenapa? Apa kau sedang ada masalah dengan suami mu?"tanya bunda Sania namun Grace masih saja memeluknya dengan erat dan enggan untuk melepasnya
Tangis Grace pecah saat itu. Dia menangis dengan masih di pelukan bunda Sania, bunda Sania yang melihat itu merasa tidak ada yang beres dengan putrinya.
Setelah beberapa menit berpelukan tiba-tiba Ijlan datang membawa sebuah koper ditangannya. Melihat semua itu bunda Sania terkejut dan melepaskan pelukannya.
"Grace dimana suami mu, kenapa dia tidak ikut bersama mu?"ucap bunda Sania masih dengan mata yang tertuju pada koper yang di pegang oleh Ijlan
"Grace jawab bunda!"bentak bunda Sania dengan air mata di pelupuknya
"A...pa kau?"ucap bunda Sania mengeluarkan air mata yang sedari tadi ditahannya itu
Grace pun mengangguk. Bunda Sania yang melihat itu seketika lemas, tubuhnya seperti patung bernafas di sana.
"A...pa yang telah kau lakukan Grace, ke..napa kau bisa di usir dari rumah itu, hubungan mu baik-baik saja kan? Ini hanya untuk sementara kan, di..a akan menjemput mu lagi kan Grace? Grace...,"ucap bunda Sania terduduk lemas di kursi kosong di belakangnya
__ADS_1
"Bunda aku mohon bunda tenang dulu, biar aku jelaskan dulu bunda"ucap Grace memohon bersujud di depan bunda Sania yang sudah tak berdaya itu
"Jelaskan pada bunda, semuanya Grace"ucap bunda Sania menatap Grace lesu dan air mata yang masih mengalir di pipinya itu
"Sebenarnya Grace...." cerita panjang itu dia ungkapkan seluruhnya tanpa ada yang terlewat bunda Sania hanya menangis meratapi nasib putrinya itu dia tidak bisa apa-apa di sana ekspresinya tidak menentu
"Grace akan bercerai dengan tuan Gilang, Bun dan Grace harus menandatangani surat perceraian yang akan tuan Gilang kirimkan besok"ucap Grace menangis pilu di depan bundanya
Bunda Sania dan Grace berpelukan. Bunda Sania selalu mengucapkan kata-kata untuk Grace untuk menguatkan Grace menjalani penderitaan hidupnya saat ini.
Sedang Ijlan sedang berdiri di balik pintu, mendengar semua pembicaraan bunda Sania dan Grace. Dia juga sangat sedih melihat Grace dan bundanya seperti itu. Terlihat dari tangannya yang sedang mengusap matanya sepertinya dia sedang menangis di sana.
"Bagaimana dengan ayah,Bun apa sudah ada perkembangan?"ucap Grace mengingat ayah Kris yang masih terbaring di RS itu
"Ayah mu sudah membaik setelah melakukan operasi di kepalanya dan seseorang telah membayar semua biaya RS ayahmu hingga ayah bisa melakukan operasi kemaren"ucap bunda Sania
"Siapa Bun?"tanya Grace
"Bunda pun kurang tahu siapa orang itu, bunda sangat bersyukur akan kebaikan orang itu yang telah membayar uang operasi ayah mu walau dia tidak mau memberi tahu identitas nya"ucap bunda Sania
"Dia adalah tuan muda Gilang, nona. Dia yang telah membiayai semua pengobatan ayah anda dan ingin memperbaiki hubungan dengan anda. Namun, semua itu sekarang sia-sia mungkin sekarang tuan Gilang sangat hancur. Semoga tuhan selalu menjaga nona dan memberikan kebahagiaan buat nona. Aku akan selalu melindungi nona dan menjaga nona."batin Ijlan kemudian berlalu pergi dari sana
"Semoga dia mendapat imbalan dari Allah yah, bun!"ucap Grace memeluk bunda Sania lagi
"Iyah, sayang semoga dia selalu bahagia di luar sana"ucap bunda Sania mengelus wajah lembab putrinya setelah melepas pelukannya dari Grace
"Yasudah, sekarang kamu masuk ke kamar, bawa barang-barang kamu. Bunda ingin ke RS kamu mau ikut?"ucap bunda Sania dan hanya dianggukki oleh Grace lalu membawa barang-barang nya dan meletakkannya di dalam kamarnya yang dulu.
"Penderitaan apa yang sedang kamu alami sekarang nak, kenapa semua ini harus di limpahkan kepadamu dan kamu harus menderita seperti ini"batin bunda Sania menunggu Grace keluar dari kamarnya
"Kamu sudah siap?"ucap bunda Sania
"Yakin kamu ikut kesana, kamu ga capek Grace?"tanya bunda Sania dan digelengkan oleh Grace dan segera berlalu pergi menuju RS.
Malam telah tiba, semua orang telah mengetahui Grace yang akan bercerai itu. Termasuk Alfaro dan Aldo yang merasa sangat marah mendengar Grace yang sudah di tuduh itu.
__ADS_1
Namun semua orang termasuk Aldo dan Alfaro bahkan bunda Sania tidak bisa apa-apa. Mereka malah terlihat iba pada Grace kenapa perempuan semuda dia harus mengalami kejadian ini. Mengapa harus dia yang di tuduh sebagai pembunuh oleh laki-laki brengsek seperti Gilang.