
Akhirnya setelah beberapa menit menunggu Mark melakukan perekaman suara di saat dia melihat ketua kelompok itu membuka suaranya kepada pria yang telah di buatnya babak belur.
"*Hahaha, apa kau sudah puas dengan hasil yang kau dapatkan? Apa kau sudah siap menanti kematian mu di tangan ku?" tanya ketuanya dengan sangat jelas di selingi dengan tawa keras
"Hahaha, seharusnya aku yang menanyakan hal itu pada mu, kau yang seharusnya mati bangs*t!" teriak pria itu dengan lantang namun, tiba-tiba terdengar dua suara tamparan keras dan melenting pada wajah sang pria.
Plak plak*
"Coba keraskan suaranya. Ingat jangan sampai lengah terus rekam setiap apa yang pria itu ucapkan," ucap Mark menegaskan lagi pada kedua anak buahnya yang sudah kembali dari misinya yang berjalan dengan baik.
Kedua pria itu mengangguk melakukan perintah tuannya segera lalu kembali mendengar dan merekam semua perkataan kedua orang di dalam sana.
"*Aku akan membuatnya sengsara dan mati di tangan ku. Kau tahu kan aku sudah melakukan hal itu perlahan pada adik-adiknya?" gumam pria jahat itu mencengkeram wajah pria yang satu dan melepasnya paksa.
"Hahaha, apa kau pikir aku bodoh? Kau tentu tahu di mana dia? Tapi kau, kau tidak pernah berani membuatnya sengsara secara langsung dan hanya mampu melakukan itu pada keluarganya saja seperti yang kau katakan, iyah kan? Coba aku tanya, apa kau takut?" tanya pria yang di sekap sembari mengejek balik keras pria di depannya itu
"Hah, takut? Aku tidak pernah takut padanya, tapi aku akan jelaskan pada mu, aku akan membuatnya lebih sengsara lagi dan lagi hahaha. Kau tahu? Sebentar lagi aku akan membuat ibunya lagi yang menderita. Hari ini ibunya akan pergi menjenguk anaknya ke RS, lalu saat di jalan tiba-tiba sebuah truk yang amat sangat kencang akan datang dari depan dan kemudian, tap... dia akan mati ... hahaha aku sangat senang, aku sangat bahagia hahaha," tawa menggelegar ketua kelompok itu tepat di depan wajah pria yang terluka*.
"Siapa pria ini? Dan siapa yang sedang dia bicarakan?" tanya Mark dalam batinnya mendengar dan melihat semua percakapan atau kejadian itu dengan jelas dan detail dalam kamera
"*Kau pikir kau akan menang daripadanya? Heh, kau bukan tandingannya coy, kau bukan lah hal besar untuknya kau itu kecil baginya kecil!" ejek pria itu menyindir sang ketua dengan lantang tanpa ketakutan sama sekali di sana. "Kamu itu hanya punya keberuntungan saja bukan keahlian. Otak itu harus berwawasan jangan hanya bisa menggosok kepala botak mu dengan sandal kotor milik mu itu. Ow yah, aku hampir lupa kamu kan tidak pernah memiliki keberuntungan jika berhadapan dengannya?" Tertawa dengan keras dan membuat pria di depannya seketika berubah wajah emosi.
Sang ketua mencengkeram dagu si pria lagi dan meremasnya dengan kuat hingga si pria yang terluka kembali membuka suara dengan sangat lantang dan keras.
"Lepaskan tangan kotor mu dari wajah ku, pria ******, kau itu munafik. Hanya karena sebuah balas dendam kau melakukan semua itu pada keluarganya. Padahal bukan dia yang salah!" sergah pria itu membuka mulut hampir tak terdengar karena wajahnya yang di cengkeram kuat oleh sang ketua di sana.
"Siapa kau berani melarang ku, kau hanya lah budak baginya. Apa kau tidak bisa lupa dengan semua tingkah keegoisannya padamu? Apa kau datang ke sini hanya untuk dirinya dan bisa tertangkap oleh ku? HUAAA!!! sungguh, aku baru pertama kali menemukan seorang sahabat sebaik dirimu yang rela di perbudak hanya untuk keinginan sahabatnya sendiri hahaha," tawa menggelegar penuh emosi sang ketua di depan wajah pria tersebut dan melepaskan tangannya dari wajah pria itu dengan sangat keras hingga si pria itu merasa kesakitan dan hampir terjungkal dengan kursi yang didudukinya itu.
__ADS_1
Saat sang ketua sudah diam dari tawanya, pria yang babak belur itu menjadi murka dia tidak terima sang ketua meledeknya dan memporak-porandakan persahabatan nya.
"Aku tidak seperti dirimu! Yang bisa bekerja sama dengan orang lain hanya untuk menghancurkan seseorang. Lebih baik aku mati dari pada harus berkhianat seperti mu," murka si pria dengan suara keras dan melenting
"Lalu? Kamu mau apa? Akan pergi padanya dan mengatakan segalanya? Bahwa aku yang telah melakukan semua itu pada adiknya? HUAAA!!! hebat sekali teman ku ini sangat hebat," Tepuk tangan serta pujian sang ketua menggema di ruangan itu. "Dan aku akan segera di tangkap oleh si brengs*k itu dan segera memenjarakan ku? WAHH SANGAT HEBAT!!! Aku sangat berharap akan itu Orion." Tunjuk sang ketua mengungkapkan sebuah kata yang langsung membuat seorang Mark tidak bisa berkata-kata seraya menganga di tempatnya.
"Orion? Orion masih hidup?" tanya Mark dalam hati mulai mengusap wajahnya merasa tidak percaya.
"Ka.....kalian tetap disini aku akan segera kembali, ingat tetap awasi kedua pria itu dan segera kirim videonya padaku, mengerti!" Gugup Mark menegaskan kembali sebelum beranjak pergi menuju bawah gedung itu.
"Baik tuan, kami mengerti," jawab salah satu dari mereka dan kemudian Mark beranjak berlari keluar menuju RS tempat tuannya berada sekarang.
Pada saat yang sama dengan segala keterkejutannya dan rasa bahagianya Mark berlari dari mobil setelah sampai di RS dan menemukan tuannya sedang bersama istrinya di sana.
#Flashback On
"Aku sudah tahu tentang itu Mark," jawab Frans duduk di tempatnya dengan santai
"Apa? Ja...jadi tuan sudah tahu? Tapi, kenapa tuan tidak memberitahu saya tuan?" Banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh Mark kepada Frans hingga membuat pria itu merasa pusing dan kebisingan
"Kau tidak pernah bertanya!" jawab Frans dingin dengan sangat singkat.
GLEKK...
Mark yang mendengarnya meneguk saliva nya. Merasa sangat geram dan sangat ingin menonjok pria di depannya ini. Jika saja, pria itu bukan atasannya mungkin saja wajah pria itu sudah babak belur di buatnya saking geramnya dia pada bosnya itu. Sayangnya, dia tidak bisa melakukan semua itu pada Frans karena dia yang adalah bawahan dari Frans dan tidak bisa berkata-kata apa-apa pada pria itu.
"Hanya itu tuan?" tanya Mark lagi
__ADS_1
"Iyah, hanya itu. Apa maksud mu aku ingin menjelaskan panjang lebar pada mu? Aku pikir kau sudah mengetahuinya. Karena menurut ku, kau sudah menelusuri semua nya dengan otak cerdas mu tapi, menurut ku otak mu itu sudah tidak bekerja lagi dari dulu yah?" Panjang lebar Frans menjawab pertanyaan Mark yang membuatnya semakin kesal mendapat sindiran kecil dari tuannya itu.
"Tidak tuan bukan begitu, saya hanya tidak menyangka saja kalau tuan Orion masih hidup. Tapi tuan, bagaimana bisa tuan Orion masih hidup? Apa dia..." jelas Mark dengan beberapa pertanyaan membuat Frans kembali memotong ucapannya di sana
"Kalau kau ingin mengetahuinya akan ku beri tahu tapi, tidak sekarang. Lebih baik kau mulai melakukan siasat untuk membebaskan Orion dari tangan pria tua itu secepatnya," lirih Frans mulai risau.
"Baiklah tuan, akan segera saya laksanakan tuan tinggal hanya menunggu saja aku akan membebaskan tuan Orion dari tangan pria itu." jawab Mark dengan cepat.
Setelah mengatakan hal itu tiba-tiba ponsel Mark berbunyi.
Ting...
Suara pesan dari anak buahnya.
"Tuan, sepertinya pria itu akan berangkat memulai aksinya pada nyonya besar seperti yang dikatakannya tadi," Isi chat yang baru saja di baca oleh Mark.
"Tuan aku hampir kelupaan, bahwa orang yang menangkap tuan Orion akan melakukan sebuah aksi pada nyonya besar tuan sesuai rencana mereka tadi," gumam Mark pelan.
"Apa?" tanya kaget Frans. membulatkan matanya. Kembali berdiri dengan emosi. "Apa yang di inginkan pria itu sebenarnya? Cepat!! Segera halangi aksi pria itu," Emosi Frans yang melunjak sedang Mark sudah berlari keluar untuk melaksanakan perintah tuannya itu.
"Mas? Apa yang terjadi? Kenapa dengan mama mas?" tanya Grace dengan cepat dan mulai khawatir di sana.
"Ada seseorang yang ingin melukai mama, lebih baik kau segera hubungi mama atau papa atau siapapun di rumah dan bilang jangan ada yang keluar dari rumah, cepat!" Gegas Frans menjawab pertanyaan Grace.
"Baik mas," Grace bergegas mengambil ponselnya dari saku dan segera menelepon ibu mertuanya dengan cepat.
"Aku akan segera kembali, terus hubungi mereka dan jangan beri tahu siapa pun dulu," Titah Frans lagi dengan suara serak kekhawatirannya sembari keluar dari RS.
__ADS_1
"Iyah mas, aku akan berusaha." jawab Grace menelepon papa Hardi lagi dan kembali berlari keruangan Bagas dengan cepat.