
"Satu, dua, tiga.." teriak dokter Al memompa jantung Clark dengan pacemerk jantung di ruangan itu
"Dok, jantung pasien sudah berdetak dok" ucap suster melihat jantung Clark kembali berdetak pada layar di depannya itu
"Syukurlah," lega dokter Al.
*
*
*
"Bagaimana dok keadaan anak saya," tanya Tante Abel
"Untung saja pasien segera kami tangani jika tidak mungkin detak jantungnya sudah berhenti dan dia akan..," jelas dokter Al menggantung, berdiri di depan Tante Abel dan lainnya
"Syukurlah dok. Terimakasih yah Tuhan." lirih Tante Abel mengucap syukur pada Yang Maha Kuasa akan kesempatan yang di berikan-Nya pada anaknya itu walau mungkin dalam hatinya juga dia sangat sedih mendengar dokter mengatakan hal menggantung itu
"Terimakasih yah Tuhan. Terimakasih yah dok," ucap ayah Kris sambil menjabat tangan dokter Al dan sesekali mengucap syukur pada Allah. Mereka sangat bersyukur walau dokter Al sudah mengatakan bahwa anak mereka hampir tak terselamatkan itu.
Sekitar 20 menit papa Hardi dan mama Alya serta keluarga menunggu sadarnya anak mereka, Bagas.
Sudah beberapa menit dokter keluar dari ruangan Bagas dan menyatakan bahwa Bagas menggerakkan tangannya berkali-kali, namun belum menemukan tanda bahwa Bagas akan segera sadar. Dokter bilang gerakan tangan itu juga adalah tanda bahwa dia sedang mengalami mimpi dalam dunia tidurnya saat itu.
Tante Abel, ayah Kris serta bunda Sania dan Grace sedang mengalami sedikit masalah di ruangan Clark karena Clark yg semakin drop di ruangannya.
Saat keadaan Clark sudah semakin membaik, walau masih kritis bunda Sania dan ayah Kris mendatangi mama Alya dan papa Hardi ke ruangan Bagas untuk melihat keadaan Bagas di sana sedang Grace tidak ikut karena harus menemani Tante Abel di ruangan Clark.
Saat papa Hardi dan ketiganya duduk terdiam di ruangan bagas, terdengar telapak kaki seorang laki-laki dari arah luar.
Tok, tok, tok
Semua orang melihat kedatangan seorang laki-laki dari arah luar sana, dia berdiri mematung setelah mengetuk pintu ruangan itu.
Semua menatap kearah pintu. Semua merasa terkejut melihat bahwa laki-laki itu adalah Frans yang berdiri di depan pintu setelah membukanya pelan untuk tidak membuat keributan.
"Frans," lirih mama Alya dengan wajah sumringah ditemani sebuah air berlinang di matanya
"Ma," ucap Frans mendekati mama Alya dan yang lainnya, merentangkan tangannya untuk menerima pelukan dari sang ibu.
"Bagaimana keadaan Bagas, apa sudah ada perkembangan ma" ucap Frans dalam pelukan itu
"Bagas sudah semakin membaik nak, kata dokter dia sudah menunjukkan tanda-tanda akan sadar tadi, tapi dokter juga bilang kalau kemungkinan itu bukanlah tanda-tanda Bagas akan sadar tapi hanya mengalami mimpi di dunianya saat ini hiks. Sudah 2 jam kami menunggu di sini tapi Bagas masih tidak sadarkan diri juga Frans hiks," tangis mama Alya sedikit melegakan sakit dan khawatir di hatinya
"Mama jangan menangis. Aku tidak akan biarkan sesuatu terjadi pada mereka. Mama harus kuat ma." lirih Frans melepas pelukan itu beberapa menit lalu
"Hiks hiks hiks..." tangis mama Alya masih saja terdengar kecil di ruangan itu
"Frans," panggil papa Hardi
"Pah," ucap Frans saat di panggil dan langsung memeluknya juga
"Sudah, kamu jangan menangis Alya, serahkan semuanya pada Tuhan. Kamu yang sabar ini cobaan buat kita Ya," ucap ayah Kris mencoba menenangkan mama Alya yang sejak Frans datang dia selalu menangis itu, mama Alya pun mengangguk pada kakanya.
"Ow yah, ma. Grace di mana ma?" tanya Frans saat setelah menyalami semua orang di sana
__ADS_1
"Grace lagi sama Tante Abel di ruangan Clark, dia sedang menemani Tante Abel di sana," ucap papa Hardi duduk di atas sofa ruang VVIP itu
"Lalu bagaimana dengan keadaan Clark," tanya Frans berdiri dengan wajah dinginnya
"Clark hari-hari ini semakin drop, kadang jantungnya tiba-tiba berhenti kadang jantungnya juga kembali berdetak membuat semua dokter yang menanganinya harus siapa siaga jika terjadi sesuatu padanya" ucap ayah Kris menjelaskan
"Apakah dia mengalami benturan di dada?" tanya Frans
"Kata dokter dia memang mengalami hal itu dan hal itu juga yang membuatnya drop sampai seperti itu Frans, dadanya remuk di bagian dalam dan mengenai jantungnya tapi hanya saja jantungnya sulit untuk memompa darah menuju sel-sel tubuh dan hal itu membuat jantungnya sesekali berhenti berdetak dan kembali normal lagi." jelas ayah Kris
"Apa dokter Al yang menanganinya?" tanya Frans lagi dan diangguki oleh ayah Kris serta papa Hardi
"Kalau begitu aku akan menemui dokter Al dulu pa, yah, aku ingin membicarakan soal ini dulu dengannya permisi" ucap Frans sedikit terburu-buru
"Baiklah. Segera beritahu kami juga bagaimana keadaan mereka yah Frans," ucap papa Hardi
"Baik pa, aku permisi dulu" pamit Frans keluar dari ruangan Bagas setelah diangguki oleh mereka berempat.
*
*
*
"Grace," teriak Frans dari jauh saat Tante Abel dan Grace sedang berjalan menuju ruangan Clark
"Mas Frans" lirih Grace pelan melihat Frans berdiri sedikit jauh di depannya
Segera Frans berlari mendekati kedua orang itu dan berkata, "Sayang." teriaknya
"Baru saja Tan, aku baru datang 30 menit yang lalu, bagaimana keadaan Clark Tante?" tanya Frans dingin seperti biasa
"Bagaimana Tante akan mengatakannya nak, dokter bilang, kemungkinan Clark selamat dari komanya hanya beberapa persen lagi" ucap Tante Abel
"Tante yang tabah dan sabar Tan, Frans akan berusaha melakukan sesuatu untuk kesembuhan mereka bertiga Tante tenang saja," ucap Frans menunjukkan wajah tenang dan teduhnya pada Tante Abel yang terlihat sangat sedih mengingat keadaan Clark hari ini
"Terimakasih yah, Frans." senyum Tante Abel melihat semangat dan kegigihan Frans untuk menyembuhkan anaknya dari koma
"Iyah, Tan sama-sama" ucap Frans tersenyum kecil baru kali ini Tante Abel melihat senyum manis itu di pipinya
"Baiklah, Tante kembali ke ruangan Clark dulu yah," ucap Tante Abel dan diangguki oleh Frans di sana
"Kamu di sini saja Grace, temani Oppo p😓🤔🤔 suami mu, Tante akan pergi sendiri saja" ucap Tante Abel memberikan ruang untuk kedua insan itu berbicara
"Tante bisa?" tanyanya dengan ragu
"Iyah, lagian ruangannya Deket kok yaudah Tante pergi yah," balas Tante Abel dan kemudian berjalan pergi menuju ruangan Clark berada
Saat Tante Abel sudah pergi Frans segera membuka suara.
"Ci, maaf kemaren aku ga bisa pulang bareng kamu," bisik Frans dengan lembut. Frans memeluk tubuh mungil Grace. "Maafkan aku, sayang."
Grace yang di peluk hanya berdiam diri di tempatnya dia bingung harus mengatakan apa, di sisi lain dia masih merasa kecewa dengan Frans yang lebih mementingkan perempuan lain daripada dirinya sewaktu di Paris kemaren.
Namun, dengan ragu Grace juga memeluk suaminya itu dengan lembut dia seakan mencari kehangatan di sana. Sedang Frans terlihat senang saat Grace membaks pelukannya tanda Grace sepertinya sudah memaafkan nya dengan apa yang dilakukannya pada Grace kemaren.
__ADS_1
Pelukan itu semakin lama semakin hangat saja. Hingga saat Frans melepaskan pelukan itu dan ikuti oleh Grace segera menggenggam tangan Grace.
"Aku merindukan mu," ucap Frans pada Grace. Frans menggenggam tangan Grace dengan erat dan matanya terlihat berlinang di sudutnya. Frans mencium kening Grace sejenak. "Aku sangat-sangat merindukan mu, sayang."
"Lepaskan tangan ku! aku tidak merindukan mu," ketus Grace melepaskan genggaman Frans dari tangannya
"Ada apa? Kau masih marah yah?" tanya Frans dingin dan sedikit berbeda dari biasanya dia sangat lembut
"Iyah, aku marah!" Grace menatap dengan tajam kearah Frans, namun dengan perasaan amburadul Grace dengan cepat mengeluarkan air mata di pelupuknya dia juga langsung memeluk Frans lagi dengan cepat
"Aku marah, sangat marah mas!" seru Grace menangis di pelukan suaminya
"Iyah, aku tahu. Kau pasti sangat marah padaku. Aku minta maaf sayang" ucap Frans memeluk Grace dengan erat dan sesekali mencium keningnya di sana.
*
*
*
Di lain tempat,
Kini mama Alya dan papa hardi tersentak berdiri dari duduknya ketika jari Bagas bergerak beberapa kali di sana.
"Dokter, dokter Al" jerit papa Hardi
"Dokter, Bagas dok!" teriak papa Hardi dengan sangat bahagia
Dokter Al datang dengan beberapa suster untuk menemaninya keruangan Bagas.
Sedang mama Alya berdiri di samping Bagas dan menggenggam tangannya dengan hangat dan sesekali mencium nya di sana.
Mama Alya tidak bisa membendung air matanya lagi dia sama sekali tidak melepaskan genggamannya dari anaknya itu.
Beberapa detik setelah tangan Bagas bergerak, Bagas membuka matanya dengan pelan melihat terang lampu di atasnya. Di sipitkannya sedikit matanya agar tidak terkena sinar lampu yang membuat matanya sedikit sakit itu.
"Bagas, dok Bagas dok" jerit mama Alya masih dengan tangisnya
"Tolong beri kami ruang untuk memeriksa keadaannya sebentar," lirih dokter Al yang akan memeriksa keadaan Bagas.
"Ma–ma, mam–a" ucap Bagas pelan dengan suara yang hampir tak terdengar itu
"Bagaimana dok keadaan anak kami," tanya papa Hardi
"Keadaannya sudah stabil, ini adalah suatu mukjizat untuk anak anda tidak banyak orang bisa bertahan dengan luka besar seperti ini," jelas dokter Al
"Alhamdulillah, terimakasih yah Tuhan." ucap syukur mama Alya
"Apa kami bisa melihatnya dok?" tanya papa Hardi
"Silahkan pak, anak anda sudah bisa di jenguk tapi tolong jangan membuat keributan di sana takut akan mengganggu kenyamanan pasien nanti," ucap dokter Al
"Baik dok terimakasih," ucap papa Hardi dan mama Alya bersamaan
"Iyah, pak sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu pak, buk" ucap dokter Al dan diangguki mama Alya dan papa Hardi di sana
__ADS_1
"Iyah, dok" angguk papa Hardi.