
"eh?" tanyaku
"eeeeeeeeehhh?!" sorakan penonton seketika menjadi berisik.
tongkatnya... mampu ku tarik dari batang pohon.
siapa sangka tongkat penyihir yang orang lain sulit untuk didapatkan sangat mudah untuk ku dapatkan.
tidak ada respon apapun yang keluar dari tongkat penyihir itu, "rasanya ini mudah. tidak tidak, ini terlalu dipermudah." gumamku dalam hati.
setelah aku memegang tongkat itu, aku hanya menatap wajah roger dari kejauhan
"waaaaaahh.... selamaat" ucap Thomas dan Chelsea yang menjadi pembawa acara pada sayembara saat itu.
penonton beramai-ramai mendekatiku seraya tidak percaya dengan apa yang terjadi padaku saat itu. bahkan aku pun tidak percaya, aku diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan hanya berdiri di tengah lapang.
"manusia itu menjadi penyihir" ucap penonton
"wah dia dipilih dewa" ucap penonton
"dia manusia pilihan" ucap penonton
"apakah dia manusia?" ucap penonton
"hidungmu tersumbat hah?! aromanya saja sangat kuat, dia manusia!" ucap penonton
"dia manusia istimewa, kita tidak boleh mengganggunya" ucap penonton.
"ahh sayembara ini berakhir" Ucap Thomas
"terimakasih kepada semuanyaa... akhirnya tongkat ini memiliki pemilik" ucap Chelsea
"karena tongkatnya sudah di ambil oleh pemiliknya, saya Thomas Catty dan saudaraku Chelsea Catty izin undur diri.. semoga kalian bahagia selalu.. sampai jumpa"
"sampai jumpaaa" ucap semua penonton, lalu keluar dari stadion ini.
aku masih belum percaya dan diam di tengah lapangan, menatap Roger dari kejauhan.
roger satu satunya orang yang masih duduk di stadion ini.
*Roger senyum sinis*
roger senyum sinis lalu berdiri dan berjalan turun ke lapangan lewat tangga mendekati ku.
"selamat" ucapnya dengan sinis.
"kau tidak perlu menggunakan topeng, semua segan kepadamu" ucap Roger sambil menarik topengku.
"aaaaaaahhh Moanaaaa" Wolfa teriak sembari lari mendekatiku di tengah lapang.
"waw kau menjadi penyihir" ucap Julian.
"tak sangka aku berteman dengan penyihir" ucap Julian.
"aku bangga kepadamu!" ucap Wolfa sembari menepuk pundakku.
setelah peristiwa tak terlupakan itu, kami pulang bersama sama menaiki gerobak tanpa roda yang dimasukkan ke tas Wolfa.
tak menunggu lama, koran tersebar ke seluruh penjuru dunia. mungkin? yang pasti di dalam koran itu salah satu beritanya adalah fotoku yang terpampang di kertas yang sangat besar dengan judul "manusia si penakluk tongkat penyihir"
"wah hebat"
"oh dia ya"
"ternyata sudah di taklukkan" ucap para pembaca koran
***
__ADS_1
seseorang dalam gelap yang tidak diketahui wajahnya membaca koran itu.
"ish dasar babi sialan tidak berguna. dia lepas begitu saja!" sambil memukul meja tempat duduknya dan melempar koran itu.
***
*keesokan harinya*
*di kamarku*
"ah aku tidak bisa tidur..." ucapku sambil tiduran dan melihat tongkat yang kusimpan di sebelah bantalku
"apa yang terjadi jika aku mendapatkan mu?" ucapku
"aku penyihir? apa aku akan kuat?"
"sekuat apa aku ya?" tanganku mengambil tongkat itu.
"bagaimana cara kerjanya ya?" aku melihat setiap sudut tongkat itu yang kisaran panjangnya 30 cm.
"kalau masih di duniaku aku baca mantra bimsalabim barang tertentu menjadi berubah bentuk"
"kali ini apa yaaa yang akan aku rubah" ucapku sambil melihat lihat barang yang ada di kamarku.
"ahh aku akan merubah kertas ini menjadi uang, apakah bisa?" sambil mengambil buku lalu merobek kertasnya.
"markicooobb, mari kita cobaaa.. bimsalabim jadi apaa prok prok prok!" ucapku sambil mendekatkan tongkat ke kertas.
"eeeeh ko ga berubah"
"coba lagi!.. bimsalabim!"
"ting Ting ting! berubah"
tapi tidak ada perubahan pada kertas itu.
"ehh gak, gak, kamu tongkat cantik ko" ucapku sambil mengangkat tongkat itu dan mengelus-elus tongkatnya.
"biasanya dalam film tongkat ini membentuk pola tertentu seperti bulat, segi tiga, segi empat, zigzag dan lainnya"
"mari kita coba.. aku penasaran"
lalu aku mencoba pola lingkaran tanpa menyebut mantra dan mengarahkan tongkat itu ke kertas.
*tingg*
kertas itu mengeluarkan cahaya lalu berubah menjadi daun.
"yaaaaaaayyy yatta yatta yatta!!! akhirnya kertas ini berubah" ucapku sambil lompat-lompat diatas kasur.
"widihh daun apa yaa ini.." ucapku sambil melihat sehelai daun berwarna ungu ubi.
"aku merubah apa lagi yaaa" tanyaku sambil melihat barang-barang yang ada di kamarku.
"ah mending aku mandi saja"
"oh iya, apakah tongkat ini bisa merubah air dinginku menjadi air hangat?" tanyaku.
"aku akan mencobanya!!" ucapku sambil pergi ke kamar mandi.
aku mencoba dengan pola lingkaran seperti tadi lalu mengatakan "jadilah air hangat"
seketika mengeluarkan cahaya dan berubah menjadi air hangat.
"waaaaahh aku kangen berendam air hangat ini" ucapku.
selesai aku mandi, aku pergi mendekati tas ku yang isinya batu.
__ADS_1
"aku yakin tongkat ini bisa melakukan banyak hal. aku akan merubah Batu ini menjadi naga! hehehe" ucapku sambil melihat batu itu.
"ting ting ting! jadilah roh naga berwarna biru!" ucapku sambil mendekatkan tongkat penyihir ke batu.
*ting* keluarlah cahaya pada batu.
"aanggg" suara anak kecil terdengar sangat lucu.
"aaaaaaaaaaaaaaaaaa" aku teriak dari kamar
orang orang yang sedang latihan pedang mendengar suara teriakku dari lapangan.
"moana?" tanya wolfa
"moanaaa......!!!" ucap Wolfa sambil lari mendekati kamarku
jarak lapang ke kamarku sebetulnya dekat, karena kamarku itu menjadi batas antara dapur dan lapang. namun sayangnya pintu kamar menghadap dapur jadi perlu putar balik untuk pergi ke kamarku.
semua orang yang sedang latihan lari ke tempatku, seperti Wolfa, Julian, Leona, Dora, Damian dan lainnya.
*dug dug dug dug dug* suara lari semakin mendekat ke kamarku.
"moana!!"
"moana jawab aku moana!!"
"kau baik baik saja moana?!!" teriakkan mereka yang penasaran kenapa aku teriak.
*treeett* aku membuka pintu kamarku sambil menangis
"moana kamu tidak apa-apa?" tanya Wolfa
"apa kau mimpi buruk?" tanya Julian
aku hanya menangis
"kamu kenapaaaaaaa" teriak Wolfa yang panik mendengar jeritanku.
"batu itu.."
"batu ituu isinya naga" ucapku sambil menunjuk batu yang sudah terbelah.
"heeeee....." ucap mereka bersamaan
"aku sangaat terharu..." ucapku
"yang benar saja moana.. kau mengagetkan kami!" ucap Leona.
"apakah itu tongkat sihirnya?" tanya Damian si lelaki Manusia landak.
"oh iya ituu.. woaa kereen" ucap Dora si lelaki manusia monyet yang terpesona dengan tampilan tongkat penyihir.
"ah iyaa, kalian mau pegang?" tanyaku
"tidakk.. aku hampir terbunuh oleh benda itu" ucap Dora si lelaki manusia Monyet.
*dua orang perempuan manusia rubah berbaju serba putih dengan garis ungu muda datang ke kamarku*
"ekhm ekhm.. permisi" ucap salah satu dari mereka
"ah kubu lia, ada urusan apa kalian kemari?" tanya Leona
"nona Lia mengundang Moana ke ruangannya untuk minum teh hangat bersama di kamarnya" ucap salah sayu dari mereka.
"Nona Lia?" tanyaku
"argh takut bangeeeettt, kenapa yaa.. tenang tenang aku punya tongkat penyihir. kalo dia berbahaya aku akan merubahnya jadi seekor capung saja" ucapku dalam hati
__ADS_1
"baiklah" ucapku pada dua rubah cantik itu.