
Setelah kejadian itu aku kembali ke 3 bulan yang lalu, dimana aku baru mendatangi tempat monster ini.
yang perlu aku ingat adalah terdapat tiga ras di dunia ini. Ras Burung, Ras hewan, dan ras manusia.
manusia adalah ras paling lemah dan cocok dijadikan pelayan rumah
ras hewan adalah ras menengah, yang dapat dijadikan pelayan dan dapat dijadikan pula menjadi prajurit
ras burung adalah ras paling kuat karena memiliki sayap yang bisa terbang, sekaligus satu satunya ras yang dapat menggunakan panah.
tidak sedikit rasa curigaku pada lia kenari, karena dia satu-satunya wanita yang membenciku di keluarga kenari.
dan juga tuan roger yang tidak "pukpuk" kepalaku ketika aku bertanya tinggi badannya. dia juga tidak tersenyum, dia hanya berjalan dan menjawab pertanyaanku secukupnya.
apakah kejadian kemarin akan terulangi lagi?
dan tiba tiba aku tidak dijadikan pelayan, namun langsung jadi prajurit.
seragam matcha ku pun berubah menjadi seragam serba hitam. hal yang baru terjadi juga lengan kananku perlu di tato bertulisan Roger yang menandakan kesetiaanku kepada kubu Roger.
heuffftt banyak sekali hal yang berubah setelah aku mati kemarin.
"moana" Wolfa memanggilku
"yaa..?" ucapku
"mari berlatih denganku!"
"hari ini?" tanyaku
"cepatlah, ada sesuatu yang ingin ku tanyakan kepadamu" jawabnya.
saat itu Wolfa menggunakan kaos hitam lengan pendek dan celana hitam sepaha, salah satu hal yang membuatku terpesona adalah rambutnya diikat dan digulung diatas. itu hal yang membuat dia cantik menurutku.
saat itu pun aku menggunakan pakaian yang sama, karena itu adalah pakaian yang mesti dipakai ketika sedang latihan menjadi prajurit roger.
*Wolfa melempar pedang kayu*
*takk* pedang jatuh tepat depan kaki kananku.
*aku mengambilnya dengan tangan kananku*
*tok tok tok tok tok* suara pedang kayu kami yang saling bertabrakan ketika sedang latihan.
"moana!" ucap Wolfa sambil latihan pedang denganku
"ung?"
"kenapa kau diistimewakan tuan?" tanyanya
"aku tidak tau"
"semua ingin menjadi prajurit agar bisa berlatih dengan tuan, tapi manusia yang dianggap sampah oleh Nona Lia langsung dijadikan prajurit oleh tuan Roger. itu membuatku cemburu" ucap Wolfa
"mungkin karena aku bisa melihat masa depan"
*tak* pedang kayu milik Wolfa retak dan hampir patah ditengah.
seketika diam dan Wolfa menatapku.
"apa yang terjadi padaku besok?" tanyanya seolah-olah menganggapku berbohong karena jawabanku sebelumnya.
"aku tidak tahu"
__ADS_1
"kau bilang kau bisa melihat masa depan" ucap Wolfa
"masa depan yang kulihat terlintas begitu saja, dan mungkin karena firasatku kuat" jawabku.
"mungkin itu hanya kepekaan yang kuat"
"mungkin, tapi apa Wolfa pernah merasa diperhatikan seseorang dari kejauhan?" tanyaku
wolfa terus menatapku
"seperti saat ini" ucapku.
"ha?" Wolfa menjawab dan masih belum mempercayai ucapanku.
"sebetulnya aku tidak tau apakah ini kekuatanku atau bukan, yang pasti aku memiliki firasat yang kuat."
"tunggu, kau bilang sekarang ada yang mengawasi kita? siapa?" tanya Wolfa
aku terdiam dan merasakan firasat ini sambil menutup mata perlahan
"dia kecil seperti peri" ucapku
"apa ada peri disini?" tanyaku
"tidak mungkin!" jawaban Wolfa dengan kaget
"kenapa?" tanyaku
"peri adalah musuh kita!.. apa dia sedang memata-matai kita?" tanya Wolfa
"mungkin" jawabku.
"dimana kira-kira dia berada?" tanya Wolfa
"aishhhh" Wolfa segera lari mendekati tempat itu.
*peri itu pergi tepat sebelum Wolfa sampai ke tempat ia bersembunyi*
"aish sepertinya benar, disini ada sisa bubuk emas yang ia gunakan untuk bisa terbang" ucap Wolfa
"Wolfa, ada apa?" tanya tuan Roger yang sedang berada di koridor lantai 2.
"aku berhak dihukum tuan, aku tidak bisa menjaga tempat ini dengan baik" jawab Wolfa
aku hanya terdiam menyimak pembicaraan mereka.
*tuan Roger lompat dari lantai 2 ke tempat kami latihan*
"aku tanya ada apa?" tanya Roger.
"peri memata-matai tempat kita, dan aku lengah akan hal itu. maafkan aku" ucap Wolfa sambil menunduk
"peri? mungkin karena dia pikir dia kecil sehingga kita tidak menyadarinya? itu lucu" ucap tuan Roger.
"lalu yang menyadari hal ini adalah bawahanmu?" tanya tuan Roger kepada Wolfa yang sedang menunduk.
"maafkan aku tuan!" Wolfa yang menunduk tiba-tiba bersujud kepada kaki tuan Roger.
tuan roger menatap mataku dengan sinis. aku tidak bisa menunduk ketika aku melihat wajah Tuan Roger. menurutku wajahnya sangat menawan dan tampan, tanpa sadar mataku terus menatapnya dan tidak menundukkan pandanganku.
"moana, ikuti aku" ucap tuan Roger dan sedikit menendang Wolfa agar tidak mendekati kakinya.
"baik tuan" Jawabku.
__ADS_1
*di kamar Tuan Roger*
wah ruangannya sangat rapi, gelap, serba hitam, banyak lampu yang menempel di dinding, kursi terbuat dari kayu jati mungkin? tapi sepertinya ini kuat dan mengkilat.
mataku terus melihat kiri dan kanan mengingat sudut demi sudut ruangan milik tuanku yang tampan ini.
"duduklah dan bersantai disini" ucap Roger
"baiklah" ucapku.
"kamu tidak perlu formal di sini, aku bosan dianggap berharga oleh orang lain"
"wah dasar tuan gila, aku ingin dihargai ketika di alam kemarin dan dia bosan dihargai di alam ini. makhluk macam apa dia?" gumamku dalam hati.
"oke" ucapku lalu duduk di kursi mengkilap yang terbuat dari kayu
"ekhm.. kamu sudah makan?" tanyanya
"ahhh belum.."
"kamu suka makan apa ketika di alammu kemarin?"
"ah aku suka makan ramen, jus mangga, dan kripik kentang.. tapi di sini tidak ada makanan itu.. aku sedikit sedih karena makanan yang ada di sini hanya sup kentang saja.. lama lama mungkin aku bosan"
"lama lama? bukannya baru sehari kamu disini?" tanya Roger
"ehh iya ya hehe.. maksudku aku tidak suka sup kentang"
"aaahh lu gatau aja.. aku udah 3 bulan di sini loh, dan mati lalu balik lagi, dasar lu" gumamku dalam hati.
"aku lapar, aku ingin makan makanan yang berasal dari alam mu, Moana" Ucap Roger sambil malu-malu.
"woaahh sisi cute tuan Roger. wkwkwk ngakak abisss liat muka malu-malu nya hahahahah" gumamku dalam hati.
sebelumnya 3 bulan yang lalu aku hanya mencuci baju, cuci piring, mengepel rumah, dan belum pernah semenit pun bertemu tuan roger. bahkan 3 bulan yang lalu hidupku menderita. lebih menderita dari hidupku sebelumnya tapi sekarang? tadaaaa kehidupan genre romantis ku sepertinya tumbuh.
"tuan ingin makan apa?"
"panggil aku roger jika di sini" ucap Roger
"hah? eh? aku kayanya ga bisa"
"panggil roger!"
"ya Roger"
*Roger tersenyum manis*
"aku ingin makan makanan yang selalu moana makan setelah bangun tidur."
"nasi goreng?"
"sepertinya"
"baiklah, siapkan barang-barang nya seperti beras, air, kecap, garam, ayam goreng? sepertinya tidak perlu, udang saja dan ...."
*trik*
jempol dan jari telunjuknya menyatu dan tadaaaaaaa
bahan yang ku sebutkan tiba-tiba ada di atas meja.
"masakkan makanan yang terenak untukku" ucap Roger
__ADS_1
"siap Roger"