
"masakkanlah makanan yang terenak untukku" ucap Roger.
"lah? kalo bahannya bisa tiba-tiba datang, terus kenapa tidak langsung mendatangkan makanan siap saji?" tanyaku.
"karena aku tidak bisa menyajikan makanan, kekuatan itu hanya dapat dimiliki manusia istimewa. aku penasaran kekuatan istimewa apa yang kamu miliki, moana" ucap Roger.
"ohh gitu yaa.. aku bisa masak ko di dunia kemarin, kalo dunia ini aku tidak tau." ucapku.
"jadi hari ini Moana mau membuat apa?" tanya nya.
sebetulnya itu membuat detak jantungku berdetak kencang ketika dia menyebut namaku.
"aaaaa sepertinya genre romantis ku dimulai hari ini heheheh" gumamku dalam hati.
dengan menggunakan baju serba pink, aku mengikat rambutku agar tidak ada rambut yang jatuh ke makanan. lalu aku memakai celemek agar tidak ada minyak yang terbang ke bajuku. aku pun memulai masak, dimulai dari mencuci beras, menanak nasi, menggoreng udang, lalu step by step ku lakukan dan jadilah nasi goreng.
lalu minumannya aku membuat jus mangga kesukaanku. untuk snack nya, aku membuat keripik kentang yang aku katakan sebelumnya.
"tadaaaa" ucapku karena semua makanan yang ku sebutkan sudah matang semua.
"waaaaahh harumnya enak yaa" ucap Roger yang memuji makananku sambil tersenyum manis^^
"menurutku ini enak, karena aku selalu makan ini setiap bangun tidur"
"benarkah? coba ceritakan lebih banyak lagi tentangmu" ucap roger.
*aku mulai gugup lagi, pipiku memerah*
"jangan seperti itu dong, aku jadi canggung" ucapku
"hahah apakah salah aku mengatakan itu?" tanya roger
"itu membuatku canggung tau!" jawabku.
"selamat makaaan" ucap Roger.
*aku belum makan makanan yang ku masak, tapi menatap Roger makan dengan lahap*
"aaah ini enak sekali" ucap Roger dengan kegirangan.
"benarkah ini Roger?" tanyaku.
roger hanya menatapku
"yang kutau roger itu ditakuti, karena sifatnya yang dingin dan ketus. tapi lihatlah di sini, dia berbeda" ucapku sambil menunjuk wajahnya dengan sendok.
"aku tidak segalak itu, aku senang Moana mau menemaniku makan. kurasa kamar ini sepi tanpa siapapun, tapi aku heran karena yang lain tidak merasa begitu" ucap roger.
*aku menyimak semua yang diceritakan roger tentang dirinya dan keluarganya sambil makan makanan yang kumasak*
seketika aku mengingat ucapan santi di sungai susu, dia mengatakan Roger terkena kutukan karena ulah nenek moyangnya.
"mmm roger, boleh aku nanya sesuatu yang sedikit sensitif?" tanyaku memotong pembicaraan dia yang antusias bercerita.
"tentang apa?" tanyanya sambil menyuap makanan
"tubuhmu?" tanyaku dengan canggung.
__ADS_1
"apa kau tertarik dengan tubuhku?" tanyanya
"bukan begitu, aku heran kenapa warna sayapmu warna coklat" ucapku karena teringat ucapan santi di sungai susu.
"mungkin karena aku istimewa" ucapnya dengan senyum.
"aku belum pernah melihatmu terbang" ucapku
aku terus mencoba menggali informasi karena ucapan santi di sungai.
"aku tidak bisa terbang tinggi, aku takut ketinggian" ucap roger.
"benarkah? ah maaf"
aku pikir dia akan marah karena mengatakan sesuatu yang sedikit sensitif.
dia meletakkan sendok yang sedang dia pegang.
"apa kau marah?" tanyaku karena sendok yang dia pegang seketika disimpan.
"tidak."
"lalu kenapa sendoknya disimpan?" tanyaku
"aku ingin makan kentang goreng ini" sambil mengambil sedikit keripik kentang yang ada di piring.
"aaah aku pikir kamu marah, karena biasanya di sinetron yang aku tonton di duniaku, orang yang sedang makan lalu diungkit hal sensitif darinya dia langsung pergi dan tidak enak makan"
"benarkah duniamu seperti itu? hahah" ucap Roger lalu ketawa
waaah dunia sekitarku seketika berubah menjadi taman bunga mawar.. banyak mawar yang berterbangan diatasku dan dia.. kicauan burung kenari yang bahagia..
karena aku ingin dia hidup biasa dan normal, aku mencoba meningkatkan semangat hidupnya dan melupakan masalalunya. sepertinya yang diucapkan santi itu benar, namun dia mencoba menerima kekurangannya itu.
"benarkah? padahal aku ingin sekali terbang dengan seseorang tanpa naik kapal.. tapi dengan sayap" ucapku
Roger hanya menatapku
"itu permintaan?" tanya Roger.
”cita-cita" ucapku.
Roger hanya diam, lalu dia selesai makan.
"terimakasih makanannya. ini sangat enak" ucap Roger
*aku pulang ke kamarku dan hari berganti dengan cepat*
aku berlatih menggunakan pedang kayu bersama rekan prajurit Roger lainnya di lapangan.
berhari-hari aku latihan berpedang, sejak makan bersama itu aku belum pernah bertemu lagi dengan Roger. "apa dia marah?" tanyaku dalam hati sembari melihat pintu kamar Roger.
Julian datang dengan berlali ke tempatku dan temanku beristirahat setelah latihan berpedang.
Julian adalah manusia kelabang, yang memiliki rambut ikal pendek berwarna orange, kulitnya sedikit coklat, memiliki tubuh sixpack dan sexy.
"teman-teman...!!" ucapnya dari kejauhan
__ADS_1
"apa lagi dia?" ucap Wolfa yang sedang duduk disebelahku.
"ada koran baru hari ini" ucapnya
"lalu bagaimana?" tanya Wolfa
"di pusat kota nanti, akan ada sayembara tongkat penyihir" ucapnya.
"ahhh tongkat setrum itu ya" ucap Wolfa
"tongkat macam apa itu?" tanyaku
"rumor mengatakan, siapa saja yang bisa mengambil tongkat penyihir yang nempel di dahan pohon berarti tongkat itu ditakdirkan untuknya. namun sudah beribu ribu tahun belum ada yang bisa mengambil tongkat itu dari dahan" ucap Julian.
"heh manusia! apa kau mau mencobanya?" tanya Wolfa
"apa yang kalian rasakan ketika mengambil tongkat itu?" tanyaku
"ketika padaku, tongkatnya mengalir listrik, itu membuatku pingsan seketika" ucap Wolfa.
"kalo padaku, tongkatnya berat sekalii.. bahkan ototku seperti ini tidak mampu mengambil tongkat itu" Ucap Julian
"orang lemah sepertimu tidak akan mampu mengangkatnya" ucap Leona sang manusia setengah Singa.
"jangan dengarkan dia, dia gila" Ucap Wolfa
"dia hanya iri karena dia juga tidak mampu mengambil tongkat penyihir itu" ucap Wolfa
"pusat kota ya? bolehlah aku ingin ke sana, karena aku tidak tau" ucapku.
"oh benar juga, kau belum pernah keluar ya dari rumah ini" ucap Wolfa
"di luar rumah ini, semuanya indah menurutku, tapi banyak penjahat makanya kita dididik untuk menjadi kuat luar dalam" ucap Wolfa.
"lalu kita harus izin dulu kah kepada Tuan?" tanyaku karena berharap bisa bertemu dengannya.
"ya, mungkin saja dia juga akan ikut" ucap Wolfa
"tapi kurasa tidak mungkin, bukankah canggung jika berjalan dengannya?" ucap Julian sambil membayangkan betapa canggungnya perjalanan itu.
"bolehkan aku yang izin ke tuan Roger?" tanyaku dengan antusias.
"kau tidak takut padanya?" tanya Julian
"aku akan mencoba menguatkan diri, karena aku harus terbiasa dengan sifat tuanku" ucapku
"terserahlah, lakukan sesukamu" ucap Wolfa.
"yeess!" ucapku karena antusias.
aku segera lari ke depan kamar tuan Roger.
"aah aku memakai baju latihan, bau keringat ga yaa" tanyaku dalam hati karena takut bau badan.
tiba tiba ada suara *duggg* dalam kamar tuan Roger
"tuan? apa kau baik-baik saja?" teriakku luar kamar tuan Roger.
__ADS_1