
Ketika Lia keluar dari kamarnya, tiba tiba...
"jadi itu ulahmu ya?" tanyanya yang berada di belakang Lia, sedang senderan di tembok.
"Kakak?" tanya Lia
"kau senang setelah melakukan ini pada kakakmu?" tanya Alex (anak ke 2 Kenari)
"aku tidak akan sungkan untuk menyebarkan informasi ini kepada semua orang dengan jurus ku... tapi tenang aku tidak sejahat dirimu" ucap Alex
"apa yang kakak inginkan? aku akan berikan apa pun asal kakak tutup mulut" tanya Lia
"apa pun?"
"apa pun!" ucap lia dengan tatapan tegas namun ketakutan.
"jadikanlah aku raja untuk menggantikan ayah!" ucap Alex
"ah?!.. itu tidak mungkin" ucap Lia
"carilah cara! sangat mudah bagiku untuk menyebarkan informasi ini.. terlebih kau menyeret puteri negara tetangga untuk merusak acara kemarin."
"aku mohon jangan salahkan Zoya!"
"itu salahmu karena menyeret dia pada masalah keluarga kita... kau harus bertanggung jawab" ucap Alex sambil senyum sinis dan menatap mata Lia.
"ahh satu lagi, aku menggunakan jurus menghilangkan tubuh untuk bisa keluar dari rumah ini. lalu aku mengikuti Romeo yang pergi ke sayembara saat itu. kulihat kau bekerja sama dengan sampah jalanan untuk membunuh Moana bukan? dasar wanita licik! murahan!" ucap Alex yang memarahi Lia
Lia hanya terdiam dan menatap mata Alex sangat dalam.
"aku harus bagaimana? tolonglah" tanya Lia
"nikahkan aku dengan sahabatmu, Zoya.. satukanlah kubu kita.. lalu kita.."
"lalu kita pergi ke istana untuk membunuh ayah" ucap Alex
"Zoya? itu tidak mungkin! aku mohon jangan seret Zoya pada masalah ini!!" Lia berteriak kepada Alex
"lalu? bagaimana pertanggungjawaban mu atas kejadian kemarin?" tanya Alex
"aku akan mencari cara"
***
Aku kembali ke kamar, lalu tidur.
*keesokan harinya*
keesokan harinya, aku dipanggil ke ruang rapat. disana semua penjaga rumah berkumpul, duduk mengelilingi ruangan.
__ADS_1
aku memakai baju putih duduk dilantai di tengah ruang rapat. Lalu Wolfa masuk menggunakan baju yang sama denganku, masuk ke ruangan lalu duduk di sebelahku.
"ini adalah keputusan yang dikeluarkan Raja dan disepakati oleh semua bawahannya." Ucap salah satu prajurit Istana pusat, dia adalah manusia biawak yang menggunakan baju hijau lumut, menggunakan baret berwarna biru tua.
"Untuk nona Moana, kau bebas.. tapi ada salah satu konsekuensi yang harus kau terima, bahwa hukuman yang seharusnya diberikan padamu, diserahkan kepada Wolfa sebagai ketua sekaligus atasanmu" ucap prajurit itu.
"apaa?! tidak mungkin, wolfa... wolfaaaaa tidak mungkin!! biar aku saja yang mendapatkan hukuman itu.. wolfaa wolfaaaaa jawablah!"
aku berteriak di ruangan penuh orang penting saat itu, semua hanya menatapku sinis, tidak ada yang membantu. semua menerima keputusan yang dikeluarkan oleh Raja alias ayah.
Wolfa hanya diam, menerima takdir yang dia dapat.
"tidak apa-apa" Ucap Wolfa
"ini memang pantas didapatkan oleh ku, karena mengizinkanmu melakoni hal yang harusnya jadi tugasku" ucap Wolfa
"Wolfa akan di eksekusi besok pagi, jadi bersiaplah untuk meminta maaf kepada semua orang dan bertobatlah kepada tuhan" Ucap prajurit itu.
aku menangis dan berteriak minta maaf kepada semua orang yang berada disana, namun orang-orang pergi tanpa sepatah katapun, menghiraukan ucapanku yang meminta ampunan.
wolfa ditarik oleh dahan berdaun lalu pergi dari ruangan.
aku diam di tempat dan terus menangis minta ampunan.
namun tidak ada seorangpun yang berada di sana.
*Romeo datang ke tempatku duduk*
Romeo adalah anak bungsu dari Keluarga Kenari. dia berjenis kelamin laki-laki dan masih berusia 90 tahunan atau sekitar 17 tahunan manusia biasa. rambutnya panjang namun diikat satu dibelakang.
"kakak, sudahlah, ayo pergi, kurasa percuma kau melakukan itu.." ucap romeo padaku.
"tidak.. tidakk aku mohon jangan hukum Wolfa" ucapku
"bantu aku tuan, bantu aku... aku mohon tuan, jika kau yang berbicara mungkin Ayah akan mendengarkan mu" ucapku.
"maafkan aku, aku tidak bisa" ucap Romeo.
aku menangis, lagi, lagi dan lagi.
romeo meninggalkan ku di ruangan itu, lalu datanglah Roger. roger mendekatiku lalu duduk setengah jongkok di depanku,
"maafkan aku moana, aku tidak bisa menemukan bukti.. aku sulit membantumu" ucap Roger
"aku mohon percayalah, aku tidak meracuninya" ucapku sambil menangis
Roger hanya menatapku lalu pergi lagi dari ruangan itu.
aku menunggu di sana tanpa makan dan minum, ku tunggu tanggapan dari siapapun dan ampunan raja hingga sore dan malam.
__ADS_1
aku terus duduk dan menunggu di ruangan itu hingga pagi, aku tidak tidur sama sekali. aku terjaga semalaman. tubuhku lemas dan hanya bisa berbaring di lantai dingin, hampir tidak bisa duduk.
***
sedangkan saat itu, Wolfa menggunakan baju panjang berwarna putih, rambut diurai, berpenampilan cantik untuk terakhir kalinya. kedua lengan Wolfa diikat oleh dahan berdaun. Wolfa mengikuti jalan yang diarahkan prajurit Istana menuju tempat eksekusi.
Lia dan Wolfa berpapasan saat Wolfa menuju tempat eksekusi.
"akhirnya kau mati di tanganku" ucap Lia pada Wolfa
"ku akui kau wanita kuat, aku hampir tidak pernah menang jika melawan mu, tapi hari ini. aku menemukan akhir dari pertarungan kita" ucap Lia
"aku senang, akhirnya kau mengakui kemenanganku" Ucap Wolfa
ternyata Lia dan Wolfa adalah musuh sejak kecil, Wolfa adalah pelayan yang selalu dipuji Ayah ketika kecil. Lua adalah anak lemah dan manja, itulah sebabnya dia tidak pernah menang ketika pertarungan di depan Ayah. karena kecemburuan itu, Lia memiliki dendam kepada siapapun yang lebih kuat darinya dan hanya mengandalkan prajurit di kubunya.
"Ah prajurit, bagaimana jika aku yang mengeksekusi nya?" tanya Lia pada Prajurit yang ada di depan Wolfa.
"dan satu lagi, bawa Moana ke hadapan kami. aku ingin melihat wajahnya dan aku rindu suara jeritannya" ucap Lia.
"itu sangat menyenangkan buatku. hahahahahah"
"baik Nona" ucap Prajurit itu lalu pergi ke tempat Moana.
*di tempat eksekusi*
semua orang berkumpul untuk melihat eksekusinya 'penghianat Istana' ucap mereka.
Wolfa berada di atas panggung kecil khusus untuk mengeksekusi penjahat.
aku melihat wolfa dari bawah bersama lainnya yang menonton.
"lihatlah semuanya..."
"dia adalah pengkhianat kerajaan kenari!"
"jika kalian berani mengkhianati kami, kalian akan bernasib sama seperti wanita ini" teriak Lia pada semua orang.
lia melihat mataku dan tersenyum dari atas
aku tidak bisa berhenti menangis saat itu, aku tidak bisa melakukan apa pun selain menangis..
lalu lia menarik pedangnya lalu menusukkan pedang itu pada perut Wolfa.
Lia membuat pola U pada perut Wolfa sebagai hukuman mati saat itu.
darah wolfa menyembur kemana-mana. Lia tersenyum dengan baju penuh darah Wolfa. lalu Lia tertawa bahagia saat itu.
"Wolfaaaaa" aku berteriak sangat kencang di bawah
__ADS_1