MOBB BOSS

MOBB BOSS
Kemarahan Yang Murka


__ADS_3

Rayyan yang sudah selesai mencuci piring langsung disambut pelukan dari belakang oleh zeze.


"terimah kasih". ucap zeze yang memeluk rayyan.


"untuk apa?". tanya rayyan yang tersenyum dan melirik zeze dari depan.


"sudah mencuci piringku?". ucap zeze yang bercanda.


rayyan pun tersenyum karena ucapan yang tak diduganya itu. rayyan langsung membalikkan badannya dan menatap Zeze.


"hanya karena itu?". ucap rayyan yang tersenyum.


"ehmmmm". sahut zeze.


"baiklah". Rayyan yang tanpa banyak bicara langsung menggendong zeze dan membawanya kekamarnya.


"tuaannnn turunkan aku nanti ada nyonya atau tuan besar bisa melihat?!!". ucap zeze yang berbisik.


rayyan tanpa berbicara hanya menggelengkan kepalanya saja, dan tetap menggendong zeze.


"tuaaannnnn!!!". zeze yang berbisik karena takut ketahuan oleh orang lain.


dan sampai didepan kamar Rayyan pun, ia sedikit susah membukakan pintunya. rayyan yang mengodekan zeze agar zeze yang membukakan pintunya.


"ehhhmmmm". zeze yang hanya membulatkan matanya karena bingung apa maksud tuannya.


dan rayyan hanya melirik kan matany ke arah gagang pintu. dan zeze pun tersenyum geli karena sang tuan yang tak ingin bicara hanya mengodekan ya saja.


dan akhirnya pintu terbuka dan kembali menutup pintunya, mereka pun masuk kekamar rayyan. Rayyan pun menurunkan zeze diatas kasurnya.


Tanpa banyak bicara rayyan menimpa zeze di atas kasurnya dan rayyan pun ******* bibir zeze yang manis itu. zeze pun membalas ******* demi lumayan bibi rayyan dan mereka pun berciuman diatas kasur rayyan.


dan tak lama kemudian rayyan melepaskan ciumannya dan berbaring disamping zeze.


zeze yang melihat sang tuan seperti sangat kelelahan karena pekerjaannya dikantor langsung memeluk tuannya.


Dan tanpa sadar pun mereka tertidur diatas ranjang yang sama.


Dan sore yang sudah menjelang petang, alvero yang masih dirumah sakit pun mulai merasakan bosan karena ia hanya berbaring dan duduk saja di ruangannya.


saat dokter tiba kekamarnya untuk memeriksa kesehatannya kembali pun ternyata alvero sudah sangat membaik dan pulih.


"apakah aku sudah bisa kembali dok?". tanya alvero.


"sudah, namun masih harus minum obat yah?". ucap sang dokter yang mengerti kejenuhan pasiennya.


"baikk dok". ucap alvero.


"apa kamu akan pulang sendiri atau akan dijemput nantinya?". tanya sang dokter.


"aku rasa akan lebih baik pulang sendiri saja dok". jawabnya.

__ADS_1


baiklah, saya permisi keluar". sang dokter pamit untuk keluar ruangan.


alvero yang sudah diperbolehkan untuk pulang pun langsung mengganti pakaiannya yang sudah di bawah oleh Rayyan kemarin, dan ia pun segera turun ke lantai dasar menggunakan lift dan menunggu taxi diluar.


Alvero yang sedang menunggu taxi pun, tak sengaja melihat Reva yang baru saja datang dan memasuki rumah sakit.


"sedang apa dia ada disini?". batinnya alvero yang heran.


tak lama pun taxi lewat ia langsung menyetopnya dan menaiki lalu pergi untuk pulang kerumah keluarga Zie.


Reva yang sedang ada dirumah sakit pun mencari dokter spesialis yang menangani mamahnya tadi siang.


"apakah saya bisa keruangan Dokter Nike untuk konsultasi?". tanya Reva di adminitrasi.


"sebentar yah Bu, nama ibu siapa yah kalo boleh tahu?". tanya seorang suster yang ingin menelpon dokter Nike.


"Reva". ia pun menunggu kabar dari sang suster.


"baik Bu, ibu boleh langsung menemui dokter Nike diruanganya yang sebelah sana". suster menunjukkan arah ruangan.


Reva pun yang seperti biasa tak menyampaikan terimah kasih kepada orang lain langsung berjalan menuju ruangan dokter Nike yang sudah diarahkan suster tadi.


para suster pun melihat sikap Reva yang sangat dingin kepada mereka.


Reva yang berjalan pun menemukan ruangannya dan memasuki ruangan tersebut.


"sore dok". sapa Reva yang baru masuk ruangan.


"sore nona, apakah sudah ada obatnya maknaya nona datang kesini". sapa sang dokter dan bertanya tentang obat mamahnya.


dan dokter pun melihat dan mengejek obat apa yang sudah di berikan kepada mamahnya.


"maaf nona, obat yang kamu Bawak bukanlah obat yang seharusnya nyoya minum". ucap sang dokter.


"terus ini obat apa dok". tanya Reva yang penasaran.


"ini obat berwarna putih ini obat penenang, dan yang biru obat penafsu makan saja". ucap sang dokter menjelaskan tentang obat.


"apaaa, jadi selama ini mamah benar benar tak meminum obat yang seharusnya di minum!!". ucap Reva yang sedikit bernada tinggi karena terkejut dan kesal.


"benar, dan inilah penyebab mengapa nyonya tidak ada perkembangan tubuhnya agar bisa bergerak atau berjalan". ucap sang dokter.


"baiklah dok, kalau begitu berikan saya obat yang seharusnya diminum mamah saya?!". pinta Reva.


"baikk nona". dokter yang langsung mengambilkan obat yang benar untuk Reva.


Reva yang sangat kesal pun hanya bisa memendam amarahnya didepan sang dokter, dan tidak membuat keributan dirumah sakit.


"ini nona". dokter yang memberikan obatnya.


"makasih dok, ?". ucap revayang lembut sambil memendam kesalnya.

__ADS_1


"obat yang saya beri, cuku 2x sehari saja nona, karena nyonya sudah mengonsumsi obat penenang yang terlalu banyak saya memberikan obat zat untuk merendahkan pemenangnya?!". ucap sang dokter menjelaskan kegunaan obatnya.


"terimah kasih bnyak dok, berapa biayanya dok?". tanya Reva.


dokter pun langsung menyebutkan harga biaya segala pengobatan Ny. Bara dan Reva langsung membayarnya.


"baiklah dok kalau begitu saya permisi pulang?!". ucap Reva.


"baik nona, jika anda membutuhkan saya lagi kabari saja saya". ucap sang dokter


"baikk dok". jawab Reva.


Reva langsung bergegas pulang kerumahnya, agar mamahnya meminum obat yang benar dan kembali sehat seperti dahulu.


Reva yang terlalu kesal dengan daddynya yang sangat kejam kepadanya dan mamahnya membuat Reva murka kepada daddynya dan menangisi betapa mamahnya yang menderita hidup bersama suami yang sangat egois.


Reva langsung menaiki mobilnya dan menyetir dengan ngebut agar ia cepat sampai. Dan sesampainya Reva dirumah ternya sang Daddy sudah menunggu kepulangannya di atas rooftop.


Reva bergegas menuju kamar mamahnya untuk melihat keadaan mamahnya. dan betapa terkejutnya Reva yang melihat mamahnya sudah memejamkan matanya entah ia tidur atau apa Reva langsung berlari mendekati mamahnya dan memanggil manggil mamahnya.


"maaahhh,, mahhhh.. mamah....??!!". teriaknya memanggil mamahnya.


namun sang mamah tak menjawab sama sekali atau menggerakkan badannya. Reva semakin panik dan mengecek denyut nadi dan pernafasan sang mamah. namun ia sedikit legah karena sang mamah hanya memejamkan matanya karena sang mamah masih bernafas dan denyut nadinya yang masih ada.


Tetapi walau demikian, Reva masih penasara apa yang sudah dilakukan oleh daddynya terhadapmamahnya. ia langsung keluar dari kamar mamahnya dan menemui Daddy yang ad di rooftop.


Reva yang sudah melihat daddynya langsung menghampirinya .


"apa yang sudah kau lakukan kepada mamah pria brengsekkkk!!!!". teriaknya Reva yang penuh amarah.


Mr. Bara pun menoleh dan melihat putrinya dengan tenang.


"mamah kamu sedang istrahat, janganlah membuatnya tidak teang!". ucap sang Daddy yang begitu dingin.


"apaa..... istirahat kamu bilang,, apakah kau tak punya hatiiiii sebagai suaminyaaa, berapa tahun kamu menyembunyikannya dariku dan membuatnya menderita menjadi seperti wanita lumpuhhhh haaaa!!". teriak Reva yang murka .


"wahhhh putriku sudah sangat dewasa sekarang dan mulai membantahku!?". mr. bara yang bertepuk tangan dengan bangga atas sikap Reva.


"ssssssssssih, sudah ku duga kau terlalu dingin walau aku bersikap seperti ini.... tuan Bara, ku harap kau tak melupakanku jika aku ini putrimu satu satunya, dan aku bukanlah putra yang kau dambakan??!!". ucap Reva yang sangat lembut namun penuh amarah.


Mr. bara yang mendengarkannya langsung memasang wajah yang merah menandakan ia marah.


"apakah aku benar, aku putriiimu bukan putraaaa!!!". Reva yang mengeliling daddynya dengan mengatakan yang seharusnya Mr. bara tak mendengarkannya.


"diamlah Reva.... ". ucap Mr. bara yang menahan emosinya.


Reva pun pergi tanpa menatap daddynya.


"Hari ini aku akan membawah mamahku untuk keluar dari neraka mu ini, dan anggaplah putrimu ini sudah bersikap seperti putra yang melindungi ibunya!!!". ucap Reva yang berjalan tanpa menoleh.


Mr. bara pun sangat sangat kesal karena ucapan Reva yang terlalu pahit untuk didengarkannya itu.

__ADS_1


Reva menuju kamar mamahnya dan ingin membawanya ke apartemennya yang sudah ia beli.


Bersambung.....


__ADS_2